logo blog

Konsep Roh Kudus




Hampir tidak ada umat Kristen yang dapat menjelaskan tentang Roh Kudus. Ketika kita bertanya kepada umat Kristen tentang definisi Roh Kudus, penjelasan mereka terasa tidak masuk akal.

Dalam Islam, Roh Kudus adalah malaikat Jibril (malaikat Gabriel). Dialah malaikat penyampai wahyu. Dalam iman Kristen, dikatakan bahwa Roh Kudus adalah roh yang diutus Tuhan kepada orang-orang saleh untuk entah melakukan apa.

Numa adalah kata aslinya dalam bahasa Yunani yang kemudian diterjemahkan menjadi “Roh Kudus.” Jika kita membaca Kittle and Frederick’s Theological Dictionary of the New Testament, tertulis bahwa Numa bisa berarti angin, bisa berarti napas, bisa berarti kehidupan, bisa berarti jiwa, bisa berarti roh yang berkaitan dengan nubuat, yang berarti roh yang menuntun dan menginspirasikan yaitu roh yang ilahi.

Tapi masalahnya dalam Bahasa Yunani, tidak mungkin Roh Kudus dikaitkan dengan pribadi seseorang. Apa maksudnya? Maksudnya meskipun ada banyak arti dalam penerjemahannya, tapi tidak ada bahasa Yunani untuk Roh Kudus yang berada dalam diri seseorang. 

Tapi hampir semua Kristen memahami bahwa Roh Kudus adalah sesuatu yang sangat pribadi. Karena mereka diberitahu bahwa mereka memilikinya. Siapa yang memberitahu mereka tentang hal ini? Apakah Tuhan yang memberitahu mereka bahwa mereka memiliki Roh Kudus? Apakah seorang nabi yang memberitahu mereka? Tentu saja tidak. Adalah seorang pendeta/pastor yang memberitahu mereka “Kau punya Roh Kudus di dalam dirimu.” Darimana pendeta atau pastor itu tahu? Jika kita bertanya kepada seorang pendeta atau seorang pastor untuk menjelaskan apa itu sebenarnya definisi Roh Kudus, kita mendapatkan jawaban yang samar, tidak meyakinkan, serta tidak memuaskan. Tapi mereka seakan-akan percaya bisa memberitahu orang siapa saja yang mempunyai Roh Kudus di dalam dirinya dan siapa yang tidak.

Roh Kudus dalam Bahasa Yunani adalah Paraclete. Paraklitos atau Paraclete adalah kata yang tercatat sebanyak 5 kali di dalam Perjanjian Baru, yaitu 4 kali di dalam Injil Yohanes dan 1 kali di dalam I Yohanes. Jadi semuanya merupakan tulisan Yohanes. Paraklitos juga dapat diterjemahkan sebagai penolong, penghibur, penasihat, mediator, pelindung, dan Roh Kudus. Jika kita membaca I Yohanes 2:1 Yesus diidentifikasi sebagai penasihat. Penasihat adalah terjemahan dari kata Paraclete. Jadi Yesus termasuk seorang Paraclete.

Dalam Yohanes 14:16 kita menemukan sebuah ayat yang meramalkan kedatangan Paraclete yang lain. Yesus Kristus mengatakan bahwa pada akhir misinya Paraclete yang lain akan datang dan disebutkan sebagai allos paraklitos. Dalam Bahasa Yunani ada 2 kata untuk kata “yang lain.” Yang satu adalah allos dan yang lain adalah hedros. Hedros menjelaskan kata “yang lain” ketika ada dua orang. Allos menjelaskan ”yang lain” ketika mereka ada banyak. Kata yang digunakan dalam konteks ini adalah allos atau paraclete yang lain. Sekali lagi, Yesus Kristus adalah Paraclete dan dia meramalkan setelah misinya, paraclete yang lain akan datang. Bukankah terasa masuk akal bahwa dia membicarakan tentang seorang nabi yang lain?

Jadi kata Paraclete salah diterjemahkan menjadi “Roh Kudus” karena kata ini juga digunakan ketika merujuk kepada nabi yang terakhir atau nabi ketiga seperti yang diprediksikan dalam Perjanjian Lama. Dua nabi yang pertama tentu saja Yohanes Pembabtis dan Yesus Kristus. Jadi ada satu nabi lagi yang belum datang, yaitu nabi ketiga.

Dan Paraclete itu disebutkan terakhir kali di dalam Yohanes 16:7.

Adalah lebih berguna bagi kamu, jika aku pergi. Sebab jikalau aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi, aku akan mengutus dia kepadamu.” (Yohanes 16:7)

Ayat ini sangat penting. Kenapa? Karena sangat jelas bahwa Roh Kudus atau siapapun Paraclete itu tidak ada sebelum Yesus pergi. Dengan kata lain, Yesus mengatakan “jikalau aku pergi, aku akan mengutus dia kepadamu” dan sebelumnya dia mengatakan “jikalau aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang.” Jadi bisakah paraclete disini diterjemahkan sebagai Roh Kudus? Tentu saja tidak. Karena Roh Kudus selalu ada selama Yesus Kristus masih menjalani misinya. Roh Kudus selalu mendampingi Yesus. Tapi disini Yesus mengatakan “jikalau aku tidak pergi maka paraclete itu tidak akan datang kepadamu.” Dan ada banyak contoh lainnya yang telah kita bahas tentang kesalahan-kesalahan dalam Bible.

Mari kita lanjut kepada konsep lainnya, domba Tuhan. Ini dikutip dari Yohanes 1:29 dan meskipun Yohanes Pembabtis menyebut Yesus Kristus sebagai domba Tuhan yang menghapus dosa-dosa dunia, tapi kemudian dalam Matius 11:3, Yohanes Pembabtis berubah pikiran dan dia mempertanyakan “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Jadi dalam satu kasus, Yohanes Pembabtis yakin bahwa Yesus Kristus adalah domba Tuhan yang menghapus dosa-dosa dunia, tapi kemudian dalam Matius 11:3 dia tidak lagi berpendapat demikian dan mempertanyakannya. Jadi mana yang benar?

Apa yang dikatakan The New Catholic Encyclopedia tentang hal ini?

“Bahwa kata Ibrani talya dapat diterjemahkan sebagai seorang anak laki-laki atau pelayan, demikian juga domba. Lebih jauh, frase yang dimaksud Yohanes Pembabtis adalah “Lihatlah hamba Tuhan” bukanlah “Lihatlah domba Tuhan” karena kata ini lebih masuk akal dan lebih mudah dijelaskan.”

Sekarang kita akan lanjut membahas tentang penebusan dosa. Pertanyaannya adalah, siapa yang menciptakan konsep penebusan dosa? Konsep ini terasa begitu indah. Bayangkanlah, ada seseorang yang sudah menebus dosa kita. Kita hanya perlu beriman kepada orang itu untuk masuk surga. Jika ini berasal dari Tuhan, maka betapa bodohnya jika kita tidak beriman kepadanya. Itu bisa jadi anugrah terbesar dalam hidup ini. Jika ini bukan dari Tuhan, maka kita harus sangat hati-hati karena yang jadi pertaruhan adalah keselamatan kita di akhirat kelak.

Jadi darimana konsep ini berasal? Kita harus beranggapan bahwa ini tidak datang dari Yesus Kristus. Mengapa? Karena Yesus Kristus tidak pernah memberitahu pengikutnya “Dengar, jangan khawatir lagi, dalam beberapa hari ke depan, aku akan memberikan pengorbanan untuk menebus dosa dan kau bisa masuk ke dalam surga hanya karena kau beriman kepadaku.” Kita tidak menemukan kata-kata seperti itu di dalam Bible.

Sebelumnya kita telah membahas tentang konsep dosa warisan dan faktanya konsep dosa warisan tidak ada dalam Bible, tidak pernah diajarkan Yesus Kristus, dan tidak masuk akal. Malah, Yesus mengajarkan pertanggungjawaban langsung kepada Tuhan dan dosa tidak bisa diwariskan. Jadi, jika tidak ada dosa warisan, maka bagaimana mungkin ada penebusan dosa? Darimana konsep ini berasal sedangkan Yesus Kristus tidak pernah mengajarkannya?

Ajaran ini sebenarnya datang dari Paulus. Dalam Kisah Para Rasul 17:18

“Guru-guru aliran Epikuros dan aliran Stoa berdebat juga dengan dia. Beberapa dari mereka berkata, "Orang ini tahu apa? Pengetahuannya hanya sedikit, tetapi ia banyak mulut!" Beberapa yang lainnya berkata, "Rupanya ia memberitakan tentang dewa-dewa bangsa lain."

Mereka berkata begitu karena Paulus berbicara tentang Yesus yang bangkit kembali sesudah mati. Paulus mengajarkan doktrin tentang kebangkitan sebagai berikut:

Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku” (II Timotius 2:8)

Faktanya konsep Yesus mati untuk menebus dosa manusia tidak ditemukan dalam Bible kecuali dalam Gospel Paulus, Roma 5:8-11 dan 6:8-9. Tapi tidak ada di dalam Gospel lainnya.

Jadi sekali lagi harus kita ingat, ada perbedaan kontras antara ajaran Yesus Kristus dan Paulus. Paulus menentang hampir semua hal yang Yesus Kristus katakan dan lakukan. Yesus adalah orang Yahudi yang hidup dengan Hukum Perjanjian Lama. Di antara ajarannya yang tercatat adalah dalam Matius 19:17

“jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup” yang berarti kehidupan akhirat “turutilah segala perintah Allah."

Juga dalam Matius 5:17-18

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”

Dengan kata lain, hukum Taurat tidak akan berakhir setelah Yesus Kristus pergi. Tapi apa yang Paulus katakan? Hukumnya dibatalkan. Atas dasar apa dia berkata begitu? Apakah Paulus seorang nabi? Apakah Paulus juga mendapat wahyu? Tidak, dia bukan seorang nabi dan tidak mendapat wahyu. Dalam ayat di atas, Yesus berkata “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini” Apakah langit dan bumi ini sudah lenyap? Langit dan bumi belum lenyap jadi apapun yang Yesus Kristus katakan masih berlaku. “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun dari hukum Taurat yang akan dihapus.” Apa artinya satu iota atau satu titik? Dengan kata lain, bahkan tidak satu huruf pun dari hukum Taurat yang akan dihapus.

Dan aku pernah berbicara dengan orang Kristen suatu ketika dan dia berkata “Tapi semuanya telah terjadi, Yesus Kristus sudah menyelesaikan misinya, jadi semuanya telah terjadi.” Aku berkata “Oh begitu, tapi aku punya satu pertanyaan padamu. Apakah akan muncul seorang Anti-kristus?” Dia berkata “Tentu saja.” Lalu aku berkata “Oke, akankah Yesus kembali untuk mengalahkan si Anti-kristus?” Dia berkata “Tentu saja.” “Dan kemudian apakah dia akan menetapkan agama kebenaran setelahnya?” Dia berkata “Oh, tentu saja.” Jadi semuanya belum terjadi.

Jadi disini Yesus Kristus dengan jelas menyatakan bahwa Hukumnya tidak akan dihapus tapi menurut Paulus kita hanya harus beriman kepada pengorbanan Yesus Kristus dan itu sudah cukup untuk menjamin keselamatan kita.

Paulus menentang ajaran Musa dan Yesus, dia membatalkan Hukum Perjanjian Lama yang disampaikan Musa dan diajarkan oleh Yesus. Paulus berkata dalam Kisah Para Rasul 13:39

“Dan di dalam dialah (Yesus Kristus) setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.”

“Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia yang telah mengurung kita sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat. (Roma 7:6)

Wow, ini terasa manis. Lupakan hukum Taurat yang diajarkan Yesus, ambil saja Roh-nya. Tapi ini ajaran Paulus, bukan ajaran Yesus. Yakobus mengajarkan bahwa iman saja tidak cukup untuk menjamin keselamatan. Inilah salah satu alasan mengapa Yakobus dan Paulus saling membenci. Jika kau membaca Yakobus, maka ada bab yang berjudul

Iman tanpa tindakan adalah mati. Engkau beriman bahwa hanya ada satu Tuhan saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”

Dengan kata lain, jika kau beriman kepada Tuhan, terus kenapa? Bahkan setan juga beriman dan takut pada-Nya. Apa bedanya antara kau dan setan? Perbedaan antara yang baik dan yang jahat bukanlah hanya karena iman mereka, tapi juga karena perbuatan mereka. Orang-orang saleh melakukan tindakan baik untuk membuktikan kesalehannya. Menurut Yakobus lagi

“Seseorang dibenarkan karena tindakannya dan bukan hanya karena iman, sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”
(Yakobus 2:24)