logo blog

Wawancara Dengan Dr. Laurence Brown: Seorang Ateis yang Menjadi Muslim




Salam damai, aku Dr. Laurence Brown. Aku menerima banyak pertanyaan dari orang-orang dan dalam tulisan kali ini aku akan menjawabnya. Jadi mari kita mulai.

Banyak orang bertanya tentang apa yang terjadi setelah aku menjadi muslim? Aku ingat pada saat menjadi muslim, aku mendapatkan rasa damai dan nyaman yang luar biasa. Dan perasaan itu terus menyelubungi diriku. Tapi kehidupan duniawiku berubah menjadi kacau. Orangtuaku tidak mengerti alasanku masuk Islam, tapi saudaraku telah lebih dulu menjadi muslim dan sebenarnya dialah yang memperkenalkan Islam padaku. Dan hanya kamilah yang jadi muslim. 

Ketika aku menjadi muslim, orangtuaku merasa kehilangan anaknya karena Islam. Dan orangtuaku menganut ateisme. Tapi mereka merasa risih melihatku masuk. Dan teman-temanku meninggalkanku, orangtuaku tidak mau berhubungan denganku dan saudaraku. Aku ingat suatu ketika aku mendapat pesan dimana kami diberitahu oleh mereka, jangan mengunjungi, jangan menelpon, jangan menulis surat, jangan menulis kartu pos, email, atau apapun. Bagaimanapun juga, mereka tidak mau kami menghubungi mereka.

Jadi aku dikucilkan oleh teman-temanku, aku dijauhkan oleh keluargaku, aku diperlakukan tidak seperti biasanya di tempat kerja, dan mantan istriku menceraikanku, dan dia mengambil anak-anakku. Tentunya dalam proses itu aku juga kehilangan rumahku, aku kehilangan propertiku, aku kehilangan mobilku. Ini tampak seperti lagu country karena aku juga kehilangan anjingku.

Tadinya kami punya beberapa furnitur yang bagus. Kami juga punya rumah untuk tamu. Aku tadinya punya semua ini, tapi kemudian aku hidup dalam sebuah apartemen studio yang disewa mingguan yang ketika kau menaiki tangganya atau mencoba elevatornya, lantainya berderit. Jadi kau bisa membayangkan bagaimana kualitasnya dan siapa saja orang-orang yang tinggal disana. Dan bukan hanya tinggal di dalam apartemen studio yang menyedihkan ini, tapi juga berbagi tempat dengan teman-teman lain yang diceraikan istrinya dan sedang menjalani kesulitan hidup.

Dan lucunya, itulah hari-hari yang paling menyenangkan dalam hidupku. Aku berpikir “Apa yang salah denganku?” Maksudku, kalau di dalam film-film, ketika kau bercerai, kau merasa begitu sedih. Kau mulai meninju-ninju tembok dan mungkin sengaja menabrakkan mobilmu. Tapi saat itu aku bahagia. Bahkan itulah salah satu hari-hari paling menyenangkan dalam hidupku. Dan aku ingat, sebelum aku menjadi muslim, aku melakukan shalat istikharah, shalat minta petunjuk. Aku meminta Allah untuk memilihkan dan menuntunku kepada yang terbaik dan membuatku senang dengannya. Dan sehabis itu aku menyadari kasih sayang Pencipta ketika dia menjawab do’a kita, betapa utuh Dia menjawabnya. Karena Dia telah memilihkan yang terbaik bagiku. Dan bukan hanya itu, dalam kejadian yang seharusnya membuatku tidak menyukainya, tapi Dia membuatku bahagia.

Tentunya Pencipta kita memfirmankan kebenaran. Dan kita dijanjikan dalam agama ini, bahwa kita tidak menyerahkan sesuatu atas nama Allah kecuali Dia akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Ketika aku menjadi muslim, aku bercerai tapi Allah memberiku istri yang lain. Dalam keluarga yang pertama aku kehilangan anakku karena putusan pengadilan, tapi Allah memberikanku anak yang lain dan sebuah keluarga yang baru. Aku dikeluarkan dari pekerjaanku karena prasangka anti-Muslim di kemiliteran, tempat dimana aku bekerja. Aku merasa tidak dapat melanjutkannya karena prasangka dari rekan kerjaku. Aku mengundurkan diri dari kerjaku tapi Allah memberikanku pekerjaan lain yang berkali-kali lipat lebih baik. Aku kehilangan rumahku karena perceraian, Allah memberiku rumah baru di kota suci Madinah. Aku kehilangan kekayaanku, Allah melipat gandakan kekayaanku. Aku tidak merasa kehilangan karena Allah menggantikannya dengan yang lebih baik. Dan pada akhirnya orangtuaku mau bicara lagi denganku. Hubunganku dengan orangtua menjadi semakin baik daripada sebelumnya.

Jadi tidak ada seorangpun yang menyerahkan sesuatu demi kepentingan Allah kecuali Allah akan memberikanmu yang lebih baik. Mungkin ada masa-masa sulit yang harus kau lalui sebelum kau mendapatkan manfaatnya. Tapi ketika kau mendapatkan manfaatnya, Subhanallah, kau akan menyadari kasih sayang yang utuh dari Sang Pencipta.

Pertanyaan lain yang orang-orang tanyakan adalah: apa arti Islam bagiku? Bagiku Islam adalah agama yang mengajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Berserah diri pada Tuhan tapi juga berserah diri dalam artian umum: berserah diri kepada yang lebih mengetahui. Kau tahu bahwa aku tumbuh di Barat dalam budaya yang kadang menentang siapa yang berkuasa. Tapi faktanya ini adalah hal yang merugikan. Para orang-orang otokrasi berpikir untuk suatu alasan. Mereka adalah orang-orang yang lebih berpengetahuan, atau lebih berpengalaman. Dan jika kau terus-menerus mempertanyakan mereka dan menentangnya, maka akan semakin menyulitkan kita semua. 

Jadi aku merasa bahwa Islam adalah agama yang membuat hubungan antar manusia menjadi teratur. Aku merasa bahwa Islam adalah agama damai.

Sebelum masuk Islam, aku tidak menemukan kedamaian dalam hidupku. Sebelum masuk Islam, aku tertarik melihat pisau, aku tertarik melihat senjata, aku biasanya bermain paintball, karena aku berada dalam kemiliteran. Aku menonton film Rambo, Commando, James Bond, dan sebagainya.

Tapi kemudian setelah aku menjadi muslim, tiba-tiba aku tidak tertarik lagi dalam hal-hal semacam itu. Aku menjual atau memberikan senjataku dan bermacam-macam pisau milikku. Bahkan sekarang aku tidak suka melihat ujung sebuah pisau. Bahkan istriku merasa kesal karena aku mengambil semua pisau dapur dan merusak ujungnya. Sejujurnya aku tidak paham apa gunanya ujung sebuah pisau dapur. Tidak seorangpun yang menggunakannya dan itu berbahaya. Hidupku berubah dari kacau menjadi damai dimana aku belum pernah mengalami sebelumnya. Dan aku menjadi seorang pria dengan kedamaian dalam hatinya, berdamai dengan orang-orang di sekitarku, dan berdamai dengan masyarakat umum.

Mungkin rasa damai ini dikarenakan Islam merupakan kasih sayang dari Pencipta kita, jadi Allah-lah yang memberikan kita rasa ini. Ketika kau merasa kau melakukan hal yang benar, mengenali Pencipta kita, dan menyembah-Nya dengan cara yang Dia inginkan, maka kedamaian akan memasuki hidupmu. 

Lalu, orang-orang sering bertanya masuk grup Islam manakah diriku? Tapi aku tidak pernah tertarik untuk masuk grup manapun. Memang banyak sekali grup-grup Islam, tapi aku tidak pernah benar-benar bergabung dalam suatu grup. Kurasa karena aku adalah seorang penyendiri, itulah aku apa adanya dan aku bahagia akannya. Dan Islam memberikan hak kepada kita untuk menjadi diri kita apa adanya.

Seiring berjalannya waktu, aku menemukan beberapa organisasi yang menurutku melakukan kerja yang bagus, salah satunya adalah The Canadian Da’wah Association, yang bermarkas di Toronto dan mereka menunjukku sebagai Direktur dari Hubungan antar Agama. Kemudian aku membawakan acara Interfaith Issues yang merupakan milik Peace TV. Menurutku, Peace TV melakukan kerja yang bagus dalam menyampaikan pesan damai dan kebenaran ajaran Islam.

Ketika menjadi muslim, aku telah merubah hidupku yang sangat tak berorientasi untuk kesenangan duniawi, menjadi kehidupan dimana aku mengejar kedamaian, bukan hanya untuk diriku tapi juga untuk orang-orang disekitarku, dan untuk mengembangkan diriku sebagai seorang muslim, dan untuk menyebarkan pesan Islam. Ini tidak berarti semua orang harus menerimanya, tugas kita hanyalah untuk menyebarkan pesan Islam. Menurutku setiap orang punya haknya masing-masing untuk bebas memilih agamanya sendiri. Kita sebagai manusia ingin memperlakukan orang lain sebagaimana mereka memperlakukan kita. Jadi kita harus menoleransi kebebasan orang dalam memeluk agama sepanjang mereka tidak bersifat merusak. Jika mungkin, lakukan menuju etika global. Sebuah kode universal yang dapat diterima oleh semua orang menembus batas agama dan budaya, dimana setiap manusia dapat bertenggang rasa. Itulah yang ingin kucapai.

Pertanyaan berikutnya. Seseorang bertanya padaku pada suatu hari. Menurutku, pertanyaannya merupakan salah satu pertanyaan terbaik yang pernah kudengar. Dan dia adalah seorang Kristen yang menghampiriku dan bertanya “Aku ingin beriman dan aku ingin punya kepastian. Jadi sebagai seorang muslim, bagaimana kau tahu bahwa kau ada pada jalan yang benar?” Kurasa jawabannya adalah: agama adalah keadaan hati dan keadaan jiwa. Kita beriman kepada Tuhan karena melihat di sekeliling kita dan bertanya “Apakah mungkin lingkungan di sekitar kita ada tanpa ada Yang Menciptakan?” Berdoalah kepada Tuhan agar Dia menuntun kita ke dalam agama yang benar. Itulah yang terjadi padaku dan banyak orang lainnya, mereka menjadi religius karena suatu peristiwa dalam hidup mereka. 

Pada akhirnya, setiap orang berbeda-beda. Sebagian ada yang intelektual, sebagian ada yang emosional, sebagian ada yang seimbang diantara keduanya. Menurut Malcolm X kita adalah satu umat manusia yang bersatu di bawah satu Tuhan. Mungkin kata “satu umat manusia” kurang tepat, karena kita tidak bersatu. Tapi memang kita berada di bawah satu Tuhan, dan kita berharap suatu hari kita akan bersatu. Kita belum mencapainya, tapi jika semua orang berusaha untuk mencapai apa yang kujelaskan, menoleransi hak individu dan perbedaan masing-masing dalam kebebasan beragama selama dia tidak bersifat merusak, dan berusaha menuju etika global dimana kita semua bisa menerimanya, maka kita punya kesempatan untuk menggapai hal itu. 

Tapi kembali kepada pertanyaannya: bagaimana seseorang bisa tahu bahwa mereka berada pada jalur yang benar? Setiap orang harus bertanya pada hati mereka masing-masing. Karena ada ribuan agama diluar sana. Dan kita tahu dalam setiap agama itu ada orang yang taat pada ajarannya masing-masing. Mereka berpikir bahwa mereka berada pada jalur yang benar. Dan kita semua juga tahu, jika hanya ada satu Pencipta, maka hanya ada satu agama yang paling menyenangkan-Nya. Jadi hanya ada satu agama kebenaran dimana agama lainnya adalah agama yang menyimpang. Menurutku, satu-satunya cara agar kau 100% yakin bahwa kau berada pada jalur yang benar adalah dengan berdo’a mohon petunjuk. Dan yang menurutku menarik, jika kau menyarankan hal ini pada orang-orang yang religius, hampir dari semuanya berkata “Oh aku tidak bisa melakukannya. Itu sama saja menghina Penciptaku. Aku sudah menjadi penganut agama entah Buddha, Yahudi, Kristen, Hindu, atau apapun.” Jadi ini terasa seperti argumen yang sia-sia.

17 kali dalam sehari umat muslim meminta kepada Sang Pencipta mohon diberikan tuntunan. 17 kali sehari, umat muslim mengucapkan “Ih dinasshiraatal mustaqiim. Shiraatal ladzina an‘am ta’alayhim ghayril maghdu bi ‘alayhim walaad dhallin.”  tuntunlah kami ke jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." Jadi dalam shalat 5 waktu, jika dijumlahkan maka 17 kali sehari umat muslim memohon pada Sang Pencipta, untuk menuntun mereka kepada jalan yang lurus,  yaitu Jalan orang-orang yang telah Tuhan beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Apakah ada yang tidak setuju dengan do’a ini? Do’a inilah yang memberikan kepastian ke dalam jiwa seseorang. Kau tidak harus menjadi muslim untuk berdo’a begitu, meskipun kau seorang Kristen, kau juga dapat berdo'a seperti ini. Tapi yang harus kau punya adalah kejujuran. Kau harus dengan jujur ingin mengenali Tuhan dan kau harus dengan jujur memohon pada-Nya untuk menuntunmu. Ketika sudah menerima tuntunan itu, maka kau terima dan ikutilah.

Jadi aku ingin menyudahi pembicaraan ini dan mengundang siapa saja yang ingin bertanya tentang hal lain, tolong kunjungi website-ku www.leveltruth.com dan www.eighthscroll.com. Tolong kirimi aku sebuah e-mail, ketika sudah cukup banyak dan jika hal itu menarik, maka aku akan mencoba menjawabnya.

Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam

Baca juga artikel-artikel lainnya: