logo blog

Apakah Orang-orang Baik Di Luar Islam Akan Masuk Neraka?




Sebelum kita membahas permasalahannya, kita harus tahu definisi neraka. Ketika Allah menciptakan neraka, dia berfirman “Wahai Jibril, pergi dan lihatlah neraka ciptaan-Ku.” Dan malaikat Jibril pergi untuk melihat neraka, kemudian dia kembali kepada Allah dan berkata “Ya Allah, siapapun yang pernah mendengar tentang neraka, mereka tentu tidak akan pernah masuk ke dalamnya.” Kemudian Allah menciptakan godaan dan kesenangan menyelubungi neraka, dan Allah berfirman kepada Jibril “Sekarang pergi dan lihatlah neraka ciptaan-Ku.” Dan Jibril pergi dan kembali kemudian berkata “Ya Allah aku takut bahwa tidak ada seorangpun yang akan lolos dari neraka.”

Neraka dan surga saling berdebat satu sama lain tentang siapa yang lebih baik. Surga berkata “Akulah rahmat Allah, di dalamku terdapat orang-orang yang miskin, lemah, dan rendah hati.” Kemudian neraka berkata “Akulah hukuman Allah dan di dalam diriku terdapat orang-orang yang sombong dan angkuh.” Kemudian Allah berfirman kepada neraka dan kepada surga “Wahai surga, kau adalah kasih sayang-Ku dan kau akan diisi. Wahai api neraka, kau adalah murka-Ku dan kau akan diisi.” Allah S.W.T. akan mengisi surga dan neraka. Inilah faktanya.

Dan neraka adalah sebuah tempat penyiksaan yang sangat pedih, tempat dimana orang-orang merasakan sakit yang begitu pedih secara fisik dan mental. Inilah tempat dimana Allah S.W.T. membakar kulit orang-orang dan kemudian Dia akan menciptakan kembali kulit itu dan membakarnya kembali, jadi orang-orang di dalam neraka bisa merasakan hukuman.

Neraka adalah tempat yang amat panas, orang-orang akan menangis karena sangat kehausan, mereka menangis karena minta minum untuk menyegarkan mereka, dan mereka akan diberikan minuman. Tapi minuman itu adalah air mendidih yang akan merusak wajah dan membakar isi perut mereka. Dan mereka akan minum dari sungai yang dibuat dari nanah para penghuni neraka. Luka para penghuni neraka akan mengalirkan nanah yang berkumpul dan membentuk sebuah sungai, dan inilah yang mereka minum.

Makanan mereka berasal dari pohon zaqum yang buahnya seperti kepala iblis. Buah ini amat pahit, orang-orang tidak bisa memakannya, tapi mereka akan memaksakan diri untuk memakannya, karena tidak ada makanan lagi di neraka.

Sebuah tempat dimana orang-orang tidak hidup dan tidak juga mati. Sebuah tempat dimana orang-orang akan terjatuh dalam keputusasaan dan saling berdebat satu sama lain. Api akan mengepung mereka dari segala penjuru.

Hukuman teringan di neraka adalah orang yang mengenakan sepasang sendal dari api dan otaknya mendidih. Dan dia berpikir bahwa hukumannya yang paling berat tapi sebenarnya dia mendapat hukuman yang paling ringan.

Inilah api neraka yang telah diciptakan Allah S.W.T. untuk menghukum orang-orang yang tidak taat kepada-Nya. Dan Allah juga berfirman di dalam Al-Qur’an  Innaddina Indallahil Islam (Ali Imran) “Sesungguhnya agama yang diterima Allah hanyalah Islam.” Dan siapapun yang memilih keyakinan selain Islam, maka tidak akan diterima. Di kehidupan akhirat, mereka adalah golongan yang merugi.

Dan seseorang mungkin berkata “Apa yang pernah dilakukan seseorang sehingga mereka pantas mendapatkan hukuman yang begitu pedih? Bagaimana mungkin orang-orang ini, yang telah melakukan banyak kebaikan dalam hidup mereka nantinya akan dibakar dalam neraka?

Pertama-tama, aku ingin membahas sebuah masalah yang penting. Ketika seseorang bertanya “Bagaimana mungkin orang-orang yang berbuat baik masuk ke neraka?” Maka yang ingin kutanyakan adalah “Oke, jelaskan kepadaku apa artinya kebaikan?” Apa saja yang baik? Kau berkata “Dia orang yang baik. Aku adalah orang yang baik.” Tapi apanya yang baik? Apa yang membuat sesuatu menjadi baik dan apa yang membuat sesuatu menjadi jahat? Jadi, inilah masalahnya. Apa yang menurutku baik, mungkin menurutmu jahat.

Aku akan memberikan contohnya. Mungkin ada sebuah negara di dunia ini yang sedang kehabisan minyak dan merupakan hal baik bagi mereka, untuk menginvasi negara lain dan mendapatkan persediaan minyak mereka. Invasi dan penjarahan ini merupakan hal baik bagi negara yang menginvasi, tapi apakah ini juga hal yang baik bagi negara yang diinvasi, yang minyaknya dijarah?

Jadi definisi kebaikan menurut seseorang, bisa jadi menurut orang lain adalah kejahatan. Apakah kalian ingat tentang perang yang pernah terjadi di Yugoslavia, dimana Bosnia memisahkan diri dari Yugoslavia. Dan Bosnia diserang oleh Serbia. Pemimpin Serbia bernama Slobodan Milošević. Dia seorang penjahat perang yang diburu karena telah memperkosa, membunuh, dan membantai umat Muslim. Tapi hingga hari ini di antara orang-orang Serbia, ada foto Slobodan Milošević diselubungi halo dan sayap seperti malaikat. Sebuah halo yang merupakan tanda bagi orang yang suci, dan sayap seperti malaikat. Mereka pikir dia adalah seorang pahlawan, padahal dia yang bertanggung jawab karena pemerkosaan, pembunuhan, dan penyiksaan ribuan manusia. Definisi seseorang tentang orang yang baik, bisa jadi bagi orang lain adalah orang yang jahat. Inilah masalahnya.

Yang menarik adalah ketika kau mempelajari sejarah Buddha di India. Tentu saja Buddha adalah pangeran India. Tapi ajarannya bertentangan dengan ajaran Weda yang memberlakukan sistem kasta. Buddha menentang sistem kasta, dia tidak percaya bahwa keselamatan manusia bergantung dari mengikuti sistem kasta dan menyembah berbagai macam dewa. Buddha percaya bahwa setiap orang bersifat setara. Hal ini bertentangan dengan agama yang mendominasi di India. Para Brahma percaya bahwa kebaikan berarti orang-orang yang mengikuti ritual penyembahan dewa-dewa dan mengikuti sistem kasta. Gagasan mereka tentang kebaikan berkontradiksi dengan ajaran Buddha.

Kenapa tidak ada pengikut Buddha di India pada masa sekarang adalah karena raja India mendukung ajaran Weda dan membunuh para pengikut Buddha. Mereka menginvasi kuil-kuil mereka dan membunuhi mereka secara massal hingga mereka melarikan diri. Inilah kelakuan mereka. Apakah ini bagus? Mungkin ini bagus bagi orang-orang yang mengikuti agama itu, tapi ini tidak bagus di mata para pengikut Buddha.

Dan siapa yang mendefinisikan kebaikan? Kau lihat kebanyakan orang mempunyai pendapat masing-masing tentang apa yang mereka pikir baik dan apa yang mereka pikir buruk. Tapi pertanyaannya adalah: Mana yang benar dari pendapat-pendapat ini? Kebanyakan orang hanya mengikuti pola kehidupan masyarakat mereka. Kelakuan moral atau perilaku dari masyarakat dibentuk dalam area dan dalam ukuran tertentu. Jika siapapun keluar dari ukuran itu, itulah ketika orang-orang mulai memberikan julukan kepada mereka misalnya “Oh, dia orang yang religius” atau “Dia orang yang ekstrim” karena mereka berada di luar parameter normal yang berlaku di masyarakat itu.

Jadi apa yang membuat seseorang dikatakan baik? Salah satu hal yang paling penting adalah niatmu. Dengan apa dan untuk tujuan apa kau melakukan sesuatu?

Dalam Islam, sesuatu dikatakan baik hanya ketika perbuatan itu diniatkan untuk Allah S.W.T.  dan dilakukan dengan tulus, untuk mengharapkan hadiah dari Allah yaitu surga-Nya dan takut kepada hukuman Allah.

Tapi sebagian orang ateis mengatakan “Oh, janganlah melakukan kebaikan karena kau takut pada neraka dan karena kau ingin surga. Itu namanya mengharapkan imbalan. Seharusnya kau melakukan kebaikan karena altruisme, yaitu tanpa mengharap apapun.” Dan mereka menyebarkan paham tentang kelakuan altruistik ini. Aku pribad tidak percaya paham altruisme, yaitu melakukan sesuatu tanpa manfaat apapun. Karena bahkan orang-orang ateis yang melakukan kebaikan, setelah mereka melakukan kebaikan maka mereka mendapatkan rasa puas, misalnya “Aku telah melakukan kebaikan, aku merasa puas tentang diriku.” Tentu saja mereka merasakannya. Itu artinya mereka sendiri ingin diakui orang lain sebagai orang yang dermawan. Ditinjau dari sisi psikologis, ini cenderung menghasilkan sikap sombong dan keangkuhan. Apakah menjadi sombong dan angkuh merupakan sikap yang baik? Kurasa tidak.

Tapi kita sebagai umat muslim, kita melakukan kebaikan dengan tulus hanya untuk mendapat kasih sayang Allah. Bahkan ada sesuatu yang Allah perintahkan kepada kita, meskipun mungkin kita tidak menyukainya. Bukanlah suatu masalah, entah apakah kita menyukainya atau tidak. Untuk umat muslim, tujuannya hanyalah untuk menyenangkan Allah.

Jadi niat kita haruslah benar. Tapi bukan hanya itu saja. Amalan itu juga harus benar. Artinya amalan itu juga harus dilakukan berdasarkan syariah, menurut hukum yang telah Allah S.W.T. berikan kepada kita dalam Al-Qur’an dan menurut suri tauladan Nabi Muhammad S.A.W.

Jadi kita memerlukan kedua hal ini: niat yang tulus dan tindakannya juga harus benar. Hanya ketika dua hal ini benar, maka amalan yang kita lakukan adalah amalan yang baik. Jika niatku tulus tapi tindakanku tidak berdasarkan Islam, maka Allah tidak akan menerimanya. Jika tindakannya benar dan dilakukan berdasarkan Islam tapi aku melakukannya untuk menyombongkan diri, maka amalan itu tidak akan diterima. Jadi harus dengan tulus dan tindakannya benar.

Ayo Subscribe ke YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Ayo Like Facebook Page-nya: Lampu Islam