logo blog

Fakta Ilmiah dalam Al-Qur'an | Bagian Kedua



Bagi yang belum sempat membaca bagian pertama, silahkan klik disini:

Dalam artikel kali ini, kita akan membahas ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang kosmologi. Salah satu ayat yang ingin kita bahas adalah bahwa Allah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing berjalan di orbitnya dengan bergerak sendiri.

Kata dalam bahasa Arab yang tertulis dalam Al-Qur’an kata kerja sabaha dan yaswabuna. Ini berarti gerakan yang berasal dari benda itu sendiri. Jadi, misalnya terjadi di dalam air berarti berenang, jika di atas tanah berarti berjalan. Maka, jika membicarakan tentang benda di luar angkasa, berarti benda tersebut berotasi sendiri. Dan ini menakjubkan, Al-Qur'an pada masa 1.400 tahun yang lalu sudah menyebutkan bahwa bumi, bulan, dan matahari berotasi. Jika anda pikir Matahari itu diam saja, maka anda salah. Matahari seperti halnya bumi dan bulan juga berotasi. Tentu bumi berotasi mengelilingi matahari, dan matahari berotasi pada sumbunya sendiri.

Bumi mengorbit di sekitar matahari dan matahari mengorbit di pusat galaksi. Karena matahari terus mengorbit, maka dia akan berakhir di suatu titik yang disebut solar apex, yaitu di pusat galaksi.

Jadi, Al-Qur'an menyebutkan tentang bukti-bukti ilmiah dengan sangat akurat.

Gagasan silih bergantinya malam dan siang, dan sifat bumi sebenarnya tersirat dalam surat Luqman ayat 29:

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Luqman:29)

Pada surat Az-Zumar ayat 5, Allah berfirman:

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” 
(Q.S. Az-Zumar:5)

Dan kata “menutupkan” di atas, sebenarnya dalam bahasa Arabnya adalah kowara. Kowara dalam makna aslinya berarti menggulungkan sorban di kepala anda. Dan ini sesuai dengan fakta bahwa malam dan siang saling menggulung satu sama lain karena bumi itu bulat dan berotasi. Dan penjelasan yang ada dalam Al-Qur'an ini menjelaskan seakan-akan konsep dari bulatnya bumi sudah disepakati pada saat masa itu. Memang ada sebagian filsuf zaman dulu yang berteori bahwa bumi itu bulat, tapi teori itu bukan pemikiran yang berlaku umum pada masa itu.

Ayat Al-Qur'an lainnya yang sangat menakjubkan adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan bentuk bumi adalah kata yang sama, yang digunakan untuk menggambarkan telur burung unta. Jadi misalnya anda melihat sebuah globe, anda mungkin membayangkan bahwa bumi benar-benar bulat sempurna. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Bumi berbentuk sedikit lonjong dan pada kenyataannya, agak sedikit mirip dengan telur burung unta.

Jadi luar biasa bahwa Al-Qur'an juga menggambarkan bentuk bumi. Jika kita lihat, tidak ada ayat-ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern.

Sekarang mari kita asumsikan Al-Qur'an tidak menjelaskan pengetahuan ilmiah apapun. Katakanlah tidak ada yang istimewa dalam Al-Qur'an, yang tentu saja tidak mungkin karena saya telah membahas fakta-fakta ilmiah yang menakjubkan dalam Al-Qu’ran dalam artikel-artikel. Tetapi mari kita berasumsi bahwa semua itu tidak dijelaskan namun tidak ada ayat-ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan pengetahuan zaman modern. Hanya hal itu saja sudah luar biasa, karena takhayul dan keyakinan orang-orang pada masa 1.400 tahun yang lalu sangat kental.

Misalnya, orang-orang Yunani kuno percaya bahwa galaksi Bima Sakti tercipta ketika Dewi Yunani sedang menyusui anaknya, dan anak itu menggigit payudaranya sehingga susunya tumpah sehingga terciptalah galaksi Bima Sakti. Tentu saja anda mungkin tertawa mendengarnya karena hal itu sangat konyol.

Jadi kenapa di dalam Al-Qur'an tidak ada dongeng seperti itu? Kita tidak menemukannya sama sekali. Malah ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan pengetahuan ilmiah modern.

Mari kita lihat surat Yunus ayat 5

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Q.S. Yunus:5)

Al-Qur'an menggambarkan matahari sebagai siraj yang berarti obor. Ini berarti benda yang menghasilkan panas dan cahaya sendiri. Sedangkan bulan digambarkan menggunakan kata An-Nuur yang berarti cahaya yang berasal dari sumber lain. Dan tentu saja ini benar. Bulan hanya memantulkan sinar matahari. Ini pengetahuan umum yang diketahui orang-orang di zaman modern, tapi orang-orang di zaman Nabi Muhammad tidak mengetahuinya.

Mari kita lihat apa yang dikatakan salah satu ilmuwan dan kosmolog terkenal di bidang astronomi ketika ia membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Yushidi Kusa yang merupakan direktur observatorium Tokyo di Jepang berkomentar:

"Saya sangat terkesan dengan temuan fakta-fakta astronomi di dalam Al-Qur'an. Dan bagi kami para astronom modern yang telah mempelajari bagian yang sangat kecil dari alam semesta, kami telah memusatkan upaya kami untuk memahami bagian yang sangat kecil tersebut. Karena dengan menggunakan teleskop, kami hanya bisa melihat bagian yang sangat kecil dari langit tanpa dapat mengamati seluruh alam semesta. Jadi dengan membaca Al-Qur'an dan menjawab persoalan-persoalan tentang alam semesta, saya pikir saya bisa menemukan jalan masa depan saya untuk meneliti alam semesta." (Yushidi Kusa, Direktur Observatorium Tokyo)

Dia mengatakan bahwa Sesuatu yang memfirmankan Al-Qur'an seolah-olah melihat seluruh alam semesta, tidak seperti para astronom yang hanya dapat mengamati sebagian kecil dari alam semesta. Siapa lagi yang dapat melihat alam semesta secara keseluruhan pada saat yang bersamaan kalau bukan Allah Yang Maha Kuasa?

Jadi inilah beberapa fakta ilmiah yang menakjubkan dan kita juga akan membahas yang lainnya. Ketika saya masih sekolah, salah satu pelajaran yang saya pelajari adalah geografi dan salah satu cabangnya adalah geologi. Dan saya ingat ketika saya pertama kali membaca Al-Qur'an 20 tahun yang lalu, karena Al-Qur'an-lah yang memotivasi saya untuk memeluk Islam, salah satu yang terngiang dalam benak saya dan masih saya ingat sampai hari ini adalah deskripsi dalam Al-Qur'an tentang pegunungan.

Jadi mari kita bahas apa yang Al-Qur'an firmankan tentang pegunungan. Misalnya dalam surat An-Naba’ ayat 6-7, Allah berfirman:

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? (Q.S. An-Naba’:6-7)

Kata yang digunakan di sini adalah otad yang artinya adalah pasak tenda. Jadi pasak tenda masuk ke dalam tanah, menyangga tali yang mendirikan tenda, sehingga ada bagian pasak yang timbul dari dalam tanah, namun sebagian yang lainnya berada di dalam tanah. Al-Qur'an juga berfirman dalam surat Luqman ayat 10:

"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik." (Q.S. Luqman:10)

Dan sekarang dengan teknologi sonar modern, kita mampu membuat gelombang suara yang menembus kerak bumi. Menurut tingkat yang berbeda sesuai dengan pantulan balik dan pengukuran gelombang suara, dapat diketahui kepadatan kerak bumi, misalnya bagian mana yang keras dan mana yang lembut, mana yang berasal dari kerak dan mana yang berasal dari magma. Dan yang ditemukan para ilmuwan dengan teknologi ini, sebenarnya sudah difirmankan Al-Qur'an 1.400 tahun yang lalu, bahwa gunung-gunung memiliki akar, yaitu seperti pasak tenda. Pegunungan tidak hanya berada di atas permukaan bumi, namun juga masuk ke dalam inti bumi. Gunung-gunung berfungsi untuk membuat stabil permukaan bumi. Dan ada dua peran dimana bumi berfungsi sebagai stabilisator.

Yang pertama, karena bumi terdiri dari lempeng tektonik. Kerak bumi sebenarnya terbuat dari berbagai lempeng. Ketika lempeng-lempeng saling bergerak, gesekan-gesekan yang terjadi menyebabkan gempa bumi. Dan menurut teori, itu juga menyebabkan pergeseran benua. Awalnya semua benua adalah satu benua besar yang disebut Pangea. Dan karena lempeng tektonik bergerak, maka Pangea jadi terpisah-pisah. Al-Qur'an berfirman bahwa pegunungan berfungsi sebagai stabilisato karena mereka membantu untuk menstabilkan kerak bumi dan ini juga merupakan teori ahli geologi modern.

Yang kedua, gunung-gunung juga berfungsi sebagai stabilisator karena bumi berotasi. Jika anda mencoba memutar sebuah benda yang tidak bulat sempurna, maka benda itu akan kehilangan keseimbangannya. Jadi dengan cara inilah pegunungan bertindak sebagai penyeimbang untuk menjaga rotasi bumi agar mulus.

Jadi ini merupakan fakta ilmiah yang luar biasa. Ayat inilah selalu terngiang dalam kepala saya, ketika saya pertama kalinya membaca Al-Qur'an sekitar 20 tahun yang lalu.

Al-Qur'an juga menjelaskan tentang hewan dan tumbuhan. Misalnya pada surat An-Nahl. Dalam salah satu ayatnya, Al-Qur'an memfirmankan tentang lebah. Dan sangat menarik bahwa kata yang digunakan dalam Al-Qur'an untuk lebah, menggunakan kata untuk jenis kelamin wanita. Dan pada kenyataannya memang lebah-lebah berjenis kelamin wanita dan dipimpin oleh seekor ratu lebah. Itulah sebabnya orang-orang sering mengatakan ratu lebah.

Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa tanaman memiliki jenis kelamin yang berbeda dan angin dapat membantu menyuburkan tanaman. Jadi dalam surat Al-Hijr ayat 22, Allah berfirmanj:

"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.”
(Q.S. Al-Hijr:22)

Fakta bahwa tumbuhan terdiri dari jenis kelamin pria dan wanita baru diketahui orang-orang pada masa modern.

Selanjutnya, seorang filsuf Yunani, Democritus yang hidup di tahun 460-361 SM berteori bahwa materi terdiri dari partikel kecil yang disebut atom. Orang-orang percaya bahwa tidak ada yang lebih kecil daripada atom. Namun ilmu pengetahuan modern telah menemukan bahwa atom sebenarnya terdiri dari bagian-bagian dan unsur-unsur yang lebih kecil.

1.400 tahun yang lalu, Al-Qur'an sudah menjelaskan hal itu dalam surat Saba’ ayat 3:

"Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami’. Katakanlah: ‘Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrah (atom) pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).’” (Q.S. Saba’:3)

Artinya ada sesuatu yang lebih kecil dari atom dan Allah telah memfirmankannya dalam Al-Qur’an.

Ada lagi ayat Al-Qur’an yang ingin saya beritahu kepada kalian. Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan hal-hal yang menakjubkan tentang manusia, dan salah satunya adalah tentang saraf kita. Ini disebutkan dalam surat Al-Qiyaamah ayat 3-4:

"Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) (ujung) jari jemarinya dengan sempurna. (Q.S. Al-Qiyaamah:3-4)

Tuhan berfirman bahwa Dia bisa menciptakan kembali manusia pada hari kiamat yang mengerikan. Ia mampu menciptakan manusia meskipun manusia telah menjadi debu, bahkan Dia bisa menciptakan tulang-belulang manusia dengan ujung jarinya. Mengapa ujung jarinya? Tentu saja anda tahu tentang sidik jari bukan? Sidik jari setiap manusia bersifat unik. Tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang mempunyai sidik jari yang sama. Hal ini benar-benar luar biasa!

Bagaimana mungkin manusia yang hidup 1.400 tahun yang lalu tahu tentang sidik jari? Dan Allah memperingatkan kita dalam surat An-Nisaa’ ayat 56:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (An-Nisaa’:56)

Inilah gambaran neraka yang sangat menakutkan. Allah akan membakar kulit manusia sampai hangus, kemudian Dia menciptakannya lagi, dan membakarnya lagi, sehingga orang-orang di api neraka merasakan hukuman.

Mengapa Al-Qur'an mengatakan ini? Baru pada zaman modern ini diketahui bahwa ketika kulit terbakar, maka seseorang tidak merasa sakit. Itulah mengapa ketika seseorang menderita luka bakar yang parah, dokter akan menusuk kulitnya untuk mengetahui apakah orang tersebut dapat merasakan sakit. Jika dia merasa sakit, berarti masih ada reseptor saraf yang tersisa. Namun jika tidak merasakan, berarti kulitnya telah begitu parah terbakar.

Jadi Allah menempatkan orang-orang di api neraka dan kulit mereka akan terbakar, setelah itu mereka tidak akan merasakan sakit. Maka Allah akan menciptakan kulit baru lagi sehingga mereka terus merasakan hukuman. Ini merupakan peringatan yang sangat menakutkan dari Allah yang telah menciptakan manusia. Dia tahu tentang manusia melebihi apa yang diketahui manusia itu sendiri

Saya ingin membahas satu hal lagi. Buah Zakum yang akan menjadi makanan orang-orang berdosa. Buah zakum ini begitu pahit. Kemudian dikatakan mereka akan minum air yang akan menghancurkan usus mereka berkeping-keping.