logo blog

Kisah Wafatnya Sa'ad bin Rabi

Peristiwa perang Uhud berakhir menyedihkan bagi kaum Muslimin, sekitar tujuh puluh orang dari mereka jatuh Syahid, termasuk Sayidina Hamzah paman Nabi Muhammad SAW.

Pada mulanya, pasukan Islam menang dan mengusasi pertempuran, namun akibat ketidaktaatan serta ketidakdisiplinan sekelompok pasukan yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad SAW, untuk berdiam di atas bukit, akhirnya musuh berhasil menyerang balik dan pasukan Islam menjadi kocar-kacir.  Ada yang terbunuh, ada yang lari, dan ada sekelompok kecil yang tetap setia menyertai dan melindungi Rasulullah Muhammad SAW.  Sekelompok kecil pasukan ini menyusun kembali kekuatan dan berhasil mencegah gerak maju pasukan musuh.

Mereka yang lari adalah karena sebuah isu yang dihembuskan oleh pihak musuh bahwa Rasulullah Muhammad SAW telah terbunuh, namun setelah memahami bahwa ternyata Rasulullah Muhammad SAW masih hidup, merekapun menemui keberanian dan semangatnya kembali, sebagian ada yang jatuh terluka, tergeletak di atas tanah tanpa mengetahui bagamana nasibnya nanti.

Salah seorang dari mereka adalah Sa'ad Bin Rabi' yang terkena dua belas luka sabetan pedang musuh dengan luka yang cukup serius.  Kala itu datanglah seorang pejuang Muslimin menghampiri Sa'ad yang terkapar lemas seraya berkata "Aku mendengar Rasulullah Muhammad SAW telah gugur..!"

Sa'ad Bin Rabi' kemudian berkata "Apabila Muhammad SAW terbunuh, maka Tuhannya Muhammad tidak akan pernah terbunuh, agama serta risalah yang dibawanya akan selalu terjaga, nah apa yang sedang Kau lakukan di sini..? cepat pergi dan bela-lah agamamu..!"

Sementara itu Rasulullah Muhammad SAW, menyusun kembali pasukan Muslim yang telah porak-poranda, beliau memanggil satu persatu para sahabatnya, untuk mengetahui siapa yang masih hidup dan siapa yang telah gugur sebagai Syuhada.

Beliau tidak menemukan Sa'ad Bin Rabi' seraya bertanya, "Adakah diantara kalian yang bersedia mencari informasi tentang keadaan Sa'ad Bin Rabi' dan memberitakannya kepadaku..?" salah seorang kaum Anshar yang bernama Zaid ibn Haritsah berkata, "Aku bersedia ya.. Rasulullah".

Pergilah Zaid ibn Haritsah mencari Sa'ad Bin Rabi' dan kemudian menemukan Sa'ad yang masih menyisakan beberapa hembusan nafas terakhirnya.  Lelaki Anshar itu berkata, "Wahai Sa'ad... aku diutus oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk mencari tahu apakah engkau masih hidup atau sudah gugur.

Sa'ad Bin Rabi' menjawab, "Sampaikan salamku kepada Rasulullah Muhammad SAW dan katakan  bahwa aku bisa mencium harumnya surga. Katakan juga bahwa Sa'ad telah gugur, karena sepertinya aku tidak akan bertahan dan sebentar lagi mati. Katakan kepada Rasulullah bahwa Sa'ad berkata 'Semoga Allah memberikan kepadamu sebaik-baik pahala yang diterima oleh seorang nabi..!'" Lalu dalam keadaan sekarat seperti itu, Sa'ad menggenggam tangan Zaid dan berkata "Aku juga punya sebuah pesan untukmu, sampaikan kepada saudara-saudara Ansharmu dan seluruh sahabat Rasulullah SAW, katakan bahwa Sa'ad berkata, 'Kalian tidak akan memiliki alasan di hadapan Allah SWT kelak di Hari Kiamat, apabila nabi kalian terbunuh atau terluka, sedang kalian masih hidup dan selamat..'"

Setelah perang Uhud usai, diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Istri dan kedua putri Sa’ad bin Rabi’ datang kepada Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah kedua putri Sa’ad dan ayah mereka terbunuh dalam perang Uhud. Sementara paman mereka telah mengambil harta mereka dan dia tidak menyisakan harta sedikit pun untuk keduanya, padahal mereka berdua tidak bisa menikah kecuali mempunyai harta.” Mendengar itu Nabi SAW bersabda, “Allah pasti akan menyelesaikan masalah ini.” Lalu turunlah ayat tentang warisan. Setelah itu paman mereka dipanggil oleh Rasulullah SAW, dan beliau bersabda kepadanya, “Berikanlah kepada kedua putri Sa’ad 2/3 harta dan berilah ibu mereka 1/8 harta, sedangkan sisanya untukmu.”

Inilah cintanya Sa'ad ibn Rabi kepada Rasulullah S.A.W! Inilah cinta yang dimiliki para sahabat R.A., tapi dengan begitu mudahnya, umat Muslim di zaman sekarang mengambil sebuah silet dan mencukur sunnah Rasulullah S.A.W. Dengan begitu mudahnya kata-kata keluar dari mulut seorang Muslim: “Semua itu hanya sunnah, jadi tidak apa-apa untuk meninggalkannya.”

Apakah kita telah lupa tentang tragedi pembantaian di Ta’if? Apakah kita telah lupa bagaimana Rasulullah S.A.W. tak sadarkan diri di perang Uhud? Apakah kita telah lupa bagaimana Rasulullah S.A.W. mengikatkan batu ke perutnya untuk menahan lapar demi umatnya?  Apakah kita telah lupa bagaimana dia berdo’a di siang dan malam? “Ya Rabbi, umatku, umatku! Ya Rabbi, umatku, umatku! Ya Rabbi, umatku, umatku!”