logo blog

Kisah Abu Dahdah yang Menjual Kebunnya untuk Allah

Ada seorang pemuda yatim yang mempunyai sebuah padang rumput warisan orangtuanya, dan dia ingin membangun tembok di sekeliling padang rumputnya. Dia membangun tembok itu sampai di sebuah area dimana ada pohon kurma milik tetangganya. Pohon kurma itu menghalangi jalur temboknya, jadi temboknya akan menjadi bengkok dan tidak kuat apabila dia memaksakan diri untuk membangunnya. Jadi dia meminta tetanggganya untuk memberikan pohon kurma itu kepadanya, sehingga dia dapat memasukkannya ke dalam tanah miliknya, dan membangun temboknya dengan lurus, tapi tetangganya menolak.

Pemua itu berkata “Kau punya banyak pohon kurma, jadi kehilangan satu saja tidak akan merugikanmu, tolong berikanlah padaku sehingga tembokku dapat menjadi lurus.” Tapi tetangganya tetap menolak.

Kemudian pemuda ini pergi dan mengadu kepada Rasulullah S.A.W. Lalu Rasulullah S.A.W. mempertemukan tetangganya dan si pemuda. Rasulullah berkata “Tolong berikan pohon kurmanya kepada saudaramu”, tapi tetangganya tetap menolak. Mungkin dia menolak karena kesal si pemuda sampai mengadu kepada Rasulullah S.A.W. Jadi tetangganya berkata “Tidak ya Rasulullah, aku tidak akan memberikannya.”

Air mata mengalir dari si pemuda yatim, dia sedih karena teringat ayahnya yang sudah pergi meninggalkannya. Dan Rasulullah S.A.W. tidak bisa menggunakan otoritasnya terhadap tetangganya karena itu adalah haknya.

Kemudian Rasulullah bersabda “juallah pohon kurmamu pada dia, dan engkau akan mendapat ganti kelak pohon kurma di syurga, dimana kalau engkau berjalan dgn mengendarai (kuda), selama 100 tahun maka engkau tetap masih berada dibawah naungan keteduhan pohon kurma tersebut.” Karena sangat marah, pria itu berkata “Aku tidak menginginkannya!”, kemudian dia pergi. Dan Rasulullah S.A.W. tetap diam, karena bagaimana lagi caranya membujuk seseorang ketika mereka sudah menolak surga?

Di antara orang-orang yang berkumpul di situ, ada salah satu sahabat yang bernama Abu Dahdah R.A. Dia menghampiri Rasulullah S.A.W. dan berkata “Ya Rasulullah, jika aku membeli pohon itu, apakah aku masih mendapatkan hadiah yang sama?” Rasulullah S.A.W. mengangguk dan berkata “Ya.”

Abu Dahdah punya sebuah padang rumput di Madinah, dan semua orang mengetahuinya. Padang rumput itu ditanami 500 pohon kurma, sebuah sumur, dan sebuah rumah, inilah satu-satunya yang dimiliki Abu Dahdah R.A.

Tapi ketika dia tahu bahwa surga adalah ganjarannya, dia berkata kepada pria pemilik pohon kurma “Apakah kau tahu tentang padang rumputku?” 

Pria itu menjawab “Apakah ada seseorang di Madinah yang tidak mengetahuinya?” Berarti padang rumputnya sangat populer. 

Dia berkata “Maukah kau menukarkan satu pohon kurma milikmu itu dengan keseluruhan padang rumputku?” 

Pria itu berkata “Apakah kau gila!? Apakah kau yakin?” 

Abu Dahdah berseru kepada orang-orang “Jadilah saksiku!” 

Dan pria itu menerimanya di hadapan Rasulullah S.A.W. Kemudian Abu Dahdah memberikan pohon kurma itu kepada si pemuda.

Kemudian dia menoleh kepada Rasulullah S.A.W. dan berkata “Ya Rasulullah, apakah sekarang ada sebuah pohon kurma untukku di surga?” 

Rasulullah S.A.W. bersabda “Allah telah menawarkan penukaran satu batang pohon kurma dengan sebatang pohon kurma. Namun kedermawananmu telah menambah penukaran itu dengan semua yang kau miliki didalam kebunmu. Ketahuilah bahwa Allah adalah Dzat yang Mahamulia dan Mahadermawan. Dia kini menggantikan untuk mu di syurga kelak ‘kebun-kebun kurma’ dimana sulit sekali untuk di hitung jumlahnya karena banyaknya. Tahukah kalian berapa pohon kurma milik Abu Dahdah yang sudah keberatan akibat lebat buah kurmanya?" Rasulullah S.A.W. tidak hanya mengulangi perkataan ini sekali, tidak mengulangnya dua kali, Rasulullah tetap mengulangnya hingga Abu Dahdah meninggalkan perkumpulan itu.

Kemudian dia pulan ke rumahnya. Disana ada istri dan anak-anaknya. Dia memanggil istrinya dari luar pekarangan “Keluarlah dari situ!” 

Istrinya berkata “Kenapa begitu?” 

Dia berkata “Aku telah menjualnya untuk sebuah pohon kurma di surga.” Jadi ketika dia berkata begitu, apa yang istrinya katakan? Apakah istrinya mengeluh dimana mereka akan tinggal sekarang? Apakah istrinya mengeluh karena berapa banyak kerugian finansialnya?

Istrinya berkata “Allahuakbar! Benar-benar penjualan yang sangat menguntungkan wahai Abu Dahdah. 

Kemudian dia mulai membawa anak-anaknya keluar dari padang rumput, dan dia mulai menggeledah isi kantong mereka, kemudian dia mengambil semua kurma yang ada di dalam kantong mereka dan berkata “Ini bukan untuk kita, ini untuk Allah S.W.T.”

Saudara/saudari, beginilah orang-orang saleh sebelum kita merasakan bahwa surga begitu dekat, mereka rela mengorbankan segalanya dengan tujuan melakukannya demi Allah S.W.T. Tapi Abu Dahdah R.A. tidak puas dengan yang diterimanya.

Di perang Uhud, ketika Rasulullah S.A.W. terluka karena Utbah bin Abi Waqqas melempar batu ke wajah Rasulullah S.A.W., mematahkan giginya, membuat bibir bagian kanannya terluka. Kemudian Abdullah bin Qarnia datang dari belakang, menebas bahu Rasulullah, tidak cukup sampai disitu, Abdullah bin Shihab Az Zuhri memukul kepala Rasulullah S.A.W. sehingga darah mengalir dari kepalanya. Rasulullah S.A.W. tidak dapat bangun akibat lukanya, dan pasukan musuh mendekat, Rasululullah S.A.W. bersabda kepada mereka “Siapa yang akan menjadi tetanggaku di surga? Hentikanlah pasukan musuh!”

Setelah perangnya selesai, Rasulullah S.A.W. mulai mencari orang-orang yang terbunuh dalam perang itu, dan siapa yang dia temukan? Dia menemukan Abu Dahdah R.A. terbunuh, Rasulullah S.A.W. berlutut dan memandangnya, dan bersabda “Sekarang, berapa banyak pohon kurma untuk Abu Dahdah R.A. di surga?”


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/arceuszeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam