logo blog

Mengapa dalam Al-qur'an Muslim Diharuskan Menolong Allah?

Islam adalah salah satu agama yang ajarannya sering menimbulkan salah sangka, terutama bagi orang-orang yang tidak mau mendalami maksud dari suatu perintah, dengan menggali berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hadits yang memperkuatnya. Salah satu ajaran tersebut adalah soal : menolong Allah. Salah-sangka ini, terutama yang datang dari pihak non-Muslim (bahkan juga dari sebagian Muslim yang rada ‘minder’ dengan ayat-ayat Allah yang memerintahkan untuk ‘menolong Allah’ ini) berangkat dari cara berpikir yang ‘kelihatannya’ masuk akal : “Tuhan adalah sesuatu yang Maha Berkuasa, Maha Perkasa, dll maka Dia mampu melindungi diri-Nya sendiri, tidak butuh bantuan makhluk. Buat apa Tuhan menciptakan makhluk dan memerintahkan mereka untuk menolong-Nya dari serangan makhluk yang lain..??”. Jadi pikiran ini muncul dari logika : sesuatu yang membutuhkan pertolongan artinya dia adalah lemah.

Dengan logika yang sama sebenarnya kita juga bisa melakukan pertanyaan balik, misalnya kepada umat Kristen :"Kalau memang Tuhan anda Maha Kuasa, lalu buat apa para pendeta atau pastor anda harus merajalela memasuki daerah pedalaman, wilayah miskin, bahkan sampai mengeluarkan uang untuk 'mengiming-imingi' para pengemis dan gelandangan agar bisa ditarik masuk agama anda..?. Mengapa tidak membiarkan saja roh kudus 'gentayangan' untuk mempengaruhi orang-orang agar mau menerima ajaran Kristen..?". Di satu sisi mereka 'rewel' mempermasalahkan adanya perintah Al-Qur'an agar setiap Muslim mau 'menolong Allah', disisi lain mereka melakukan hal yang sama, menolong Tuhan mereka untuk menyebarkan keyakinan yang mereka miliki.

Pertanyaannya adalah : ketika Allah memerintahkan seorang Muslim untuk menolong-Nya, apakah itu harus selalu dikatakan ‘Allah membutuhkan’, dan sebagai suatu kelemahan..?? Disini letak sumber kesalahannya… Semua orang sependapat bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang lemah, Dia Maha Perkasa, Maha Berkuasa, Dia menentukan segala-galanya, dan tentu saja tidak membutuhkan sesuatu-pun atau siapa-pun untuk menolong-Nya. Menolong dari apa..?? dari siapa..??. Semua ‘serangan’ kepada Allah pasti datang dari makhluk ciptaan-Nya dan Allah Maha Berkuasa terhadap makhluk-makhluk-Nya tersebut, pasti tidak satupun makhluk yang mampu untuk ‘menyerang’ Allah. Makanya kita tidak bisa menyebut tindakan makhluk terhadap Allah adalah ‘menyerang’, namun kata yang lebih tepat adalah ‘durhaka, menentang’ apa yang telah ditentukan Allah agar dilaksanakan oleh makhluk tersebut.

Penentangan yang dilakukan pasti tidak ditujukan langsung kepada Allah karena hal tersebut bukan suatu tindakan yang masuk akal, penentangan dan kedurhakaan diarahkan kepada ajaran dan ketentuan Allah yang telah Dia tetapkan untuk manusia. Makanya ayat Al-Qur’an terhadap kata ‘tanshurullaahu’ yang seharusnya diartikan ‘menolong Allah’ atau ‘ansharullah’ yang artinya ‘penolong Allah’ ditafsirkan dengan ‘menolong/penolong agama Allah’.

Perintah Allah agar setiap Muslim mau ‘menolong Allah’ diperintahkan dengan jelas misalnya dalam surat :

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad 7) 

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al-Hajj 40)

Dari redaksi kalimatnya saja kita mengetahui bahwa dasar perintah yang diberikan Allah kepada umat Islam untuk ‘menolong Allah’, bukan disebabkan karena Allah adalah sesuatu yang lemah. Ketika Allah menyatakan bagi orang yang mau ‘menolong Allah’ maka Dia akan ‘menolong balik dan meneguhkan kedudukan si penolong’, atau pada ayat lain dikatakan ‘sesungguhnya Allah pasti akan menolong’ terhadap orang yang mau ‘menolong Allah’, ditambah lagi kalimat ‘sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat dan Maha Perkasa’, Allah sama sekali tidak menunjukkan kelemahan-Nya. Maka perintah untuk ‘menolong Allah’ disini harus dikaitkan dengan : KESEMPATAN YANG DIBERIKAN ALLAH bagi orang-orang beriman untuk menunjukkan bukti keimanannya. 

Islam memang mengajarkan bahwa penciptaan manusia di dunia adalah untuk menjalani ujian agar terungkap jatidiri manusia, siapa yang sebenarnya yang benar dan siapa yang dusta (al-Ankabuut 2-3). Tindakan ‘menolong Allah’ adalah suatu perbuatan yang pasti membutuhkan pengorbanan harta dan jiwa, inilah inti dari 'jihad'. Maka disitulah letak ujiannya. Ketika Allah memerintahkan hal tersebut, Dia sebenarnya telah memberikan kesempatan bagi kita untuk menjalani ujian, untuk membuktikan apakah kita termasuk hamba-Nya yang beriman atau tidak. Bagaimana bisa seseorang dikatakan sedang diuji keimanannya ketika dia ‘tidur enak’ sekalipun ajaran agamanya diserang orang-orang yang durhaka dan ingkar kepada Allah, lalu berkata :”Allah tidak perlu ditolong, Dia Maha Kuat dan Maha Perkasa, bisa menolong diri-Nya sendiri..”, lalu kembali melanjutkan tidur nyenyak-nya.

Dalam ajaran Islam, hidup harus terus-menerus diisi dengan pembuktian, bahwa kita memang pantas dikategorikan sebagai hamba-Nya yang beriman, maka perintah untuk ‘menolong Allah’ merupakan kesempatan yang diberikan-Nya, karena Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa, bukan sebaliknya. Perlunya 'menolong Allah' terkait dengan kepentingan kita sendiri, makanya Allah menyatakan :

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (An-Nisaa: 95)
 
 
YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam