logo blog

Aborsi: Akibat Bebas Gaul

“Penggusuran akan selalu berarti merampas hak asasi janin yang tidak bersalah untuk hidup.”
(Dosen filsafat moral Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr. J. Chr. Purwawidyana)

Jumat, 11 Februari 2000 masyarakat Jakarta kembali geger. Bukan karena ada kerusuhan atau karena ada demo, tapi adalah Dr. Agung Waluyo yang telah mengaku sekitar 200 janin bayi dalam sebelas bulan praktik. Beliau “bernyanyi” setelah polisi menggerebek tempat praktiknya di Jalan Musik Raya Blok B No. 30A, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Bayangkan, 200 janin per sebelas bulan. Berarti rata-rata per bulan sekitar 18 bayi dirampas hak hidupnya. Itu baru satu kasus, belum lagi kasus yang lainnya. Dan, itu yang tercatat? Bisa lebih besar lagi jumlahnya.

Azrul Azwar, Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), seperti apa yang ditulisnya dalam kolom di majalah Sabili mengungkapkan bahwa di Indonesia, dengan angka kehamilan rata-rata sekitar 5 juta per tahun, diperkirakan sekitar 500.000 sampai 700.000 terjadi pengguguran kandungan alamiah setiap tahunnya. Alamiah disini jelas bukan karena aborsi.

Nah, bagaimana dengan aborsi buatan? Pak Azrul kembali memberikan data yang membuat kita tidak habis pikir. Menurutnya, WHO memperkirakan sekitar 4,2 juta pengguguran kandungan buatan dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara. Perinciannya 1,3 juta di Vietnam dan Singapura, antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia, antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina, serta antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand (Sabili No. 19, Maret 2000).

Lalu? Menteri Pemberdayaan Wanita/Kepala BKKBN, Khofifah Indar Parawansa mengutip data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia menyatakan, dalam dua tahun terakhir diperkirakan jumlah wanita yang melakukan aborsi sebanyak dua juta orang. Di antaranya 750.000 remaja belum menikah. Ih, mengeri ya? (Sabili, No. 19 Maret 2000).

Ini jelas masalah besar. Apalagi hampir setengahnya dari jumlah kasus aborsi karena kehamilan tak dikehendaki, akibat kebablasan gaul yang dilakukan oleh para remaja. Lalu siapa yang bisa ditunjuk hidung penyebab kasus aborsi ini? Remaja? Orangtua? Atau, penguasa? Mari kita kuliti satu per satu penyebabnya.

Akibat Buah Terlarang
Maaf, bukan untuk mengadakan tandingan judul film zaman dulu. Tapi kenyataan memang demikian. Jadi, remaja yang nekat menggugurkan kandungan itu karena dia tidak siap menerima hujatan ortu atau masyarakat sekitar akibat “permainan” terlarangnya. Kecil-kecil sudah berani gaul kelewat batas. Memang sih, saat lagi hot-hot-nya tidak sadar. Malah “kerja sama” haram antara ABG cewek dan ABG cowok bisa berulang kali dilakukan.

Akan tetapi, begitu sang “istri” telat datang bulan, giliran sang “suami” kebakaran jenggot. Tak jarang “suami” biadab ini memprovokasi “istrinya” untuk mengaborsi janin yang bersemayam di rahimnya. Atau, ide bejat itu tak sedikit yang muncul dari sang “ibu” yang kejam bin sadis itu. Klop. Keduanya memang cuma ingin enak, tapi tidak mau anak.

Mau bukti? Jangan salah, ini kejadian beneran, bukan dalam film atau novel. Peristiwanya sih memang lama, tapi cukup sebagai contoh kebiadaban suami-istri ilegal ini. Republika menurunkan beritanya bahwa sepasang remaja di Pekanbaru pada tanggal 28 September 1994 melakukan aborsi. Biadabnya, sang “suami” menolong melakukan aborsi “istrinya” dengan menekan perut “istrinya” itu hingga sang bayi keluar. Tanpa memperhatikan keadaan, mereka membuang darah dagingnya sendiri ke Sungai Batang, Indragiri Hilir. Sadis! Padahal, segalak-galaknya harimau, ia saja tidak mau memakan sepatu, eh maaf, maksudnya memakan anaknya sendiri!

Memang sudah menjadi pemandangan umum bahwa gaul bebas ala Dawson’s Creek telah menjadi tren remaja. Sumpah, kita bukan memojokkan remaja, tapi kenyataannya memang demikian. Sebagian remaja memang doyan gaul bebas. Tidak percaya? Coba tengok ABG di sekolah-sekolah. Jumlah yang pacaran lebih banyak ketimbang remaja yang berusaha untuk tidak mengukir dosa lewat gaul bebas itu. Iya, kan?

Tanggung Jawab Orangtua
Dalam keterpurukan dunia remaja saat ini, anehnya banyak orangtua yang cuek bebek saja terhadap perkembangan anak-anaknya. Heran! Seolah-olah ortu mereka lepas tangan. Yang seperti ini adalah tipe ortu yang tidak bertanggung jawab. “Yang saya tak habis pikir, banyak orangtua justru membiarkan kelakuan anak gadisnya yang tidak baik, misalnya duduk di luar rumah sampai larut malam, ngobrol dengan lawan jenis seenaknya, dan berpakaian setengah telanjang,” Komentar Dra Monti ST. Winata, psikolog dan petugas Bimbingan Penyuluhan di SMP dan SMU.

Karena itulah, lantas psikolog ini mewanti-wanti orangtua untuk tidak membiarkan anak-anaknya keluar malam hari.” Apapun alasannya, izin keluar rumah pada malam hari tentunya tidak bisa diberikan begitu saja,” katanya (PERMATA edisi 23/November 1997). Nah lho!

Melihat fakta yang diungkap psikolog tadi, rasanya memang para ortu sudah bingung menghadapi anak-anaknya. Ada yang sangat cuek. Eh, sekalinya ada yang mau berbaik hati memperhatikan anaknya malah bisa stres juga. Soalnya, tidak semua anak bisa mudah diatur. Malah, sekarang ini banyak anak yang berani musuhan dengan ortunya.

Memang sih, bila kita lihat kondisi remaja bisa bebas gaul seperti itu karena suasana kehidupan saat ini memang menjadi media yang cocok untuk tumbuh dan berkembangnya budaya tersebut. Malah, saat ini orangtua ada juga yang salah memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada anak-anaknya.

Sebagai wujud sebuah kebingungan, kini tak sedikit orangtua dengan alasan sibuk karena termasuk tipe jarum super alias jarang di rumah suka pergi; lebih senang menitipkan anaknya pada baby sitter. Sudah gedean dikit disekolahin di sekolah yang mahal tapi miskin nilai-nilai agama. Ditambah lagi dengan kursus-kursus di sekolah kepribadian. Lebih celaka lagi, orangtua sekarang banyak yang bangga bila anaknya jadi artis cilik, yang tentu saja semakin memperparah kondisi masyarakat yang memang sudah amburadul bin kusut ini. Walhasil, saat ini, tak sedikit ortu yang mendidik anaknya supaya jadi sampah.

Padahal, dari keluargalah pendidikan untuk anak-anak itu. Wajar, bila sekarang banyak remaja amburadul karena memang ortunya, masyarakatnya, dan negara tidak perhatian dengan mereka. Kasihan!

Gali Lobang Tutup Lobang
Maaf, ini juga bukan untuk menantang Bang Rhoma Irama dalam mencipta lagu dangdut. Ini hanya analogi alias perumpamaan untuk mencegah penyebarluasan kasus aborsi. Jadi, kita jangan terjebak dalam pola penyelesaian masalah yang muter saja tidak karu-karuan. Tentu saja niat baik kita agar “harimau” tak memakan anaknya. Ngerti kan?

Kalau melihat cara penyelesaian yang dilakukan banyak orang termasuk pemerintah untuk kasus aborsi saja, terkesan gali lobang tutup lobang. Maksudnya, kita menutup satu lobang, tapi sambil menggali lobang yang lainnya. Ya tidak kelar-kelar dong kasusnya. Bagai lingkaran setan. Muter di situ-situ saja dan bisa dikatakan jalan di tempat.

Buktinya? Pemerintah dan juga para pakar kebanyakan cuma berusaha menyelesaikan akibat sekundernya, bukan primer. Bila kasus aborsi tak ingin terus meroket angkanya, tentu harus ada penyelesaian total untuk kasus itu. Jangan sampai kejadiannya begini; satu pihak gembar-gembor kampanye anti aborsi, tapi di pihak lain ramai-ramai memanjakan dan menjerat remaja dalam kehidupan yang penuh kebebasan. Tentu cita-cita menurunkan atau mengerem meningkatnya kasus aborsi hanya akan menjadi harapan yang hampa.

Karenanya, ada beberapa langkah yang mendesak harus dilakukan untuk mencegah terulangnya kasus-kasus aborsi.

Pertama, memperbaiki pola pikir dan pola sikap remaja dan masyarakat dengan meningkatkan pendidikan agama dengan metode yang benar, yaitu Islam dipelajari untuk diamalkan, bukan sekadar teori. Jadi, pihak guru dan sekolah tidak hanya menilai perilaku siswa dari nilai-nilai hasil ulangan tapi juga perilaku di sekolah.

Kedua, meningkatkan pengawasan sosial bagi remaja dan masyarakat. Sudah saatnya diberlakukan aturan yang ketat dan keras dalam masalah pergaulan. Coba pemerintah dan aparat keamanan bersikap tegas dengan menyetop mereka yang doyan pacaran, mojok, apalagi sampai berani melakukan z-i-n-a. Memang sih tidak ada remaja yang berani berzina terang-terangan, tapi setidaknya aparat keamanan kan bisa merazia losmen-losmen yang sering diapakai ajang kencan dengan tarif short-time. Kalau terbukti ada unsur kesengajaan menjadikan losmennya untuk tempat kencan, tutup saja losmennya dan seret pemiliknya ke pengadilan.

Termasuk dalam hal ini adalah menutup tempat-tempat yang rawan terjadi kemaksiatan; diskotek, bar, dan sebagainya. Juga membreidel media-media yang “menjalankan” pornografi.

Ketiga, memberikan sanksi yang berat untuk pelaku zina dan aborsi. Mereka yang bergaul bebas itu sebenarnya adalah pelaku tindak kriminal yang layak diganjar hukuman berat. Apalagi kalau nekat sampai berzina. Dalam Islam, sanksi berat bagi para pelaku zina sudah menanti. Yakni, dijilid bagi yang lajang, atau dirajam sampai mati bagi yang sudah menikah.

Untuk kasus aborsi, Islam juga memberikan sanksi yang tidak ringan, yang dijamin akan membuat kapok pelakunya. Abu Hurairah R.A meriwayatkan bahwa Rasulullah S.A.W memutuskan (hukuman) dalam perkara janin milik seseorang wanita dari Bani Lihyan yang mati (janinnya) dengan membebaskan seorang budak laki-laki atau wanita.

Persoalannya, bagaimana kalau tidak ada budak wanita atau laki-laki? Ibnu Abi Asim meriwayatkan satu hadist bahwa Rasulullah S.A.W memerintahkan pengganti hamba sahaya (pria/wanita) dengan 10 ekor unta atau sama dengan 1/10 diyat orang sempurna. Kalau para remaja juga terikat dalam aturan-aturan Islam ini, insya Allah tidak akan terjadi kasus yang memalukan dan bergelimang dosa ini.

Adapun untuk kasus pembunuhan anak kandung oleh bapak atau ibunya atau cucu oleh kakek, Syekh Abdurrahman al-Malikiy dalam kitab Nidzhamul ‘Uqubat menyatakan tidak dijatuhi qishash. Hukuman untuk kejahatan tersebut adalah berupa ta’zir, yakni hukuman yang jenisnya diserahkan kepada kebijakan seorang qadhi alias hakim. BIsa dipenjarakan atau malah dijatuhi hukuman mati. Hal ini berdasarkan satu hadist masyhur dari Sayyidina Umar ibnul-Khatab R.A dan Ibnu Abbas R.A bahwa Rasulullah S.A.W bersabda, “Tidak dibunuh (qishash) seorang ayah karena membunuh anaknya.”

Melindungi Diri Sendiri
Semua itu tentunya baru bisa diwujudkan kalau masyarakat dan aparat pemerintahan punya kepedulian dengan kita. Tapi melihat gelagatnya, hingga saat ini sepertinya perhatian itu kecil sekali.Buktinya, yang disebut-sebut di atas belum ada satu pun yang terlaksana. Karenanya, daripada kita berharap sesuatu dari orang lain yang belum tentu memberikan apa yang kita mau, lebih baik kita melakukan pencegahan untuk diri kita pribadi dan teman-teman. Di antara yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut:

1. Menutup aurat. Ini penting. Bagaimanapun juga bagi orang yang sudah akhil balig sudah wajib menutup diri dengan pakaian yang sopan, yakni menutup aurat. Soalnya, pandangan itu adalah kunci awal terjadinya pelecehan seksual.

2. Tidak pacaran. Yang satu ini adalah gerbang utama menuju perbuatan-perbuatan lain yang lebih ‘berat.’ Kalau hati anda sudah tertambat pada si doi, rasanya apapun akan anda berikan, termasuk urusan yang ‘satu’ itu. Nah, daripada terjebak lebih dalam, mendingan hindari sama sekali.

3. Jangan berdua-duaan Pacaran sih mungkin nggak, tapi kalau anda sering berdua-duaan dengan cowok, atau anda bersama teman cewek lain tapi jumlah cowoknya lebih banyak, lebih baik hindari tempat-tempat sepi. Banyak lho kejadian seorang cowok yang tega memperkosa teman sendiri. Wah, jahat sekali.

4. Menjauhkan diri dari media pornografi. Bacaan, tontonan, dan obrolan-obrolan ngeres sudah selayaknya dijauhkan, kalau pikiran anda sudah tidak mau tercemari dengan informasi yang tidak sehat.

5. Banyak ingat dosa dan kematian. Dengan ingat mati, insya Allah kita akan takut untuk melakukan perbuatan dosa sekecil apapun. Begitu pula dengan ingat dosa, kita tidak akan mau menambah lagi.

Tapi, bagaimanapun juga langkah penanganan yang efektif hanya bisa terlaksana kalau ada kerja sama yang harmonis antara remaja, ortu, sekolah, masyarakat, dan juga aparat. Kalau semua pihak sadar diri akan bahaya aborsi dan pergaulan bebas, rasa-rasanya aborsi akan reda dengan sendirinya.

Ah, ironi memang. Di satu sisi, masih banyak orang mendambakan anak sebagai tumpuan harapan masa depannya. Tapi di sisi lain, begitu banyak orang yang membuang percuma atau membunuh anak-anaknya. Sungguh tidak habis pikir. Ternyata masih ada juga orang yang tak menghargai apa yang dimilikinya, sementara orang lain begitu ingin memilikinya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek Karangan O. Solihin Hal. 90-99 dengan perubahan

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam