logo blog

AIDS, Seks, dan Remaja

“Seks yang aman adalah with no freesex.”
(Prof. Dr. Dadang Hawari)

AIDS, seks, dan remaja adalah tiga kata yang saling melengkapi. Kenapa? Karena masalah AIDS dan seks belakangan menjadi sangat akrab dengan kehidupan remaja. Bila kita bicara masalah remaja, tidak bisa dilepaskan dari persoalan kehidupan seks. Bahkan bila kita membicarakan seks lebih jauh, kita juga tidak salah-salah amat bila menghubungkannya dengan AIDS.

Yes, penyakit AIDS kerap muncul, tumbuh, dan berkembang lewat jalur ini. Karena memang penyebaran virus HIV ini paling efektif melalui kontak fisik (hubungan kelamin). Nah, itulah kenapa tiga kata (AIDS, seks, dan remaja) adalah satu kesatuan. Tidak berlebihan tentunya, kan?

Tak Kenal, Maka Tak Takut
Para peneliti dari Northwestern University yakin bahwa wabah AIDS berawal dari Afrika bagian barat tengah sekitar tahun 1930, beberapa dasawarsa lebih awal ketimbang dugaan sebelumnya. Teori baru ini telah mencetuskan pengamatan sejarah pada peristiwa yang belum dikaitkan dengan penyebaran HIV, seperti pembangunan rel kereta api di Afrika di awal abad ke-20. Lho apa hubungannya? Teruskan saja bacanya.

Sebuah simulator komputer yang rumit mengenai evolusi HIV telah memperkirakan bahwa 1930 adalah tahun awal. Ketika itu pemerintahan kolonial Prancis di Afrika bagian barat melakukan kerja paksa untuk membangun rel kereta api. Karena para pekerja itu kekurangan makanan, diduga mereka berburu binatang liar di hutan dan tertular HIV dari hewan primata yang mereka makan.

Rel kereta api Kongo-Samudera juga ditempatkan dekat kasus HIV pertama, di kota Kinshasa. Peristiwa sejarah lainnya, pengembangan kebun binatang dan penangkapan simpanse yang menggigit, mungkin juga menjadi faktor dalam penyebaran HIV (Chicago Tribune, 31 Januari 2000). Sementara itu, menurut sumber lain, penyakit maut tersebut didiagnosa pertama kali pada tahun 1980.

AIDS sendiri adalah singkatan dari Acquired Immune Defeciency Syndrome yakni penyakit rontoknya kekebalan tubuh yang disebabkan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), yaitu virus HTLV-III (Human T-Cell Lymphotropic Virus-III, ditemukan tahun 1980), yang menyerang sel darah putih lymphocyte T-4. Setelah sel T-4 ini digempur HTLV-III, organisme racun (toxoplasma) berkembang, menyusup ke dalam tubuh lewat peredaran darah, lantas memproduksi bisul bernanah di otak, paru-paru, jantung, hati, dan limpa. Selanjutnya, proses ini mengakibatkan matinya jaringan sel, kista, dan berbagai kerusakan sel-sel otak.
Nah, dengan rontoknya sistem kekebalan tubuh, maka berbagai penyakit yang menyerbu tubuh penderita, pasti akan susah untuk disembuhkan. Flu ringan sekalipun bisa menjadi penyakit mematikan buat para penderita AIDS. Penyakit “ecek-ecek” itu makin lama makin menggerogoti tubuh penderita dan ujung-ujungnya bisa berakhir dengan kematian. Wuah, seram juga, ya!

Jadi, bila ada yang menderita flu terus-menerus (tidak sembuh-sembuh) disertai munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh, badang semakin kurus kering, lidah berjamur, gemetaran, diare terus-menerus, demam, berkeringat di waktu malam, kelelahan di sekujur tubuh, sulit menelan dan bicara, napas tersengal-sengal... wah, hati-hati, itu gejala AIDS> Tapi itu akan dialami setelah 5 sampai 10 tahun setelah positif terserang HIV. Jadi yang sekarang kelihatan sehat-sehat saja, belum tentu tidak terserang AIDS>

Makin Disuka
Tidak lucunya, meski sudah sohor sebagai penyakit yang mematikan, tapi banyak orang justru semakin tidak peduli. Ini terbukti dari jumlah pengidapnya yang kian bertumpuk.

Ibarat fenomena gunung es, jumlah pengidap AIDS kecil di permukaan, tapi besar di dalam. Sampai akhir 1996 saja, WHO memperkirakan jumlah orang yang terinfeksi HIV mencapai 30 juta orang dan mereka yang meninggal akibat AIDS sebanyak 6,4 juta orang. WHO juga melaporkan, penderita AIDS paling banyak ditemukan di Amerika Serikat yaitu 581.429 orang, disusul Brazil 103.262 orang, Tanzania 82.174 orang, Thailand 59.782 orang, dan Prancis 45.395 orang.

Di Afrika, yang diperkirakan 1.000 anak-anak terinfeksi HIV setiap hari, tiga negara selain Tanzania dilaporkan memiliki penderita AIDS lebih dari 50.000 orang. Negara-negara itu ialah Kenya, Zimbabwe, dan Uganda, yang kemudian disusul Malawi dan Zambia dengan penderita AIDS tidak jauh berbeda. Wuah, benar-benar gawat, nih!

Di Asia tidak ada negara selain Thailand yang melaporkan jumlah kasus AIDS lebih dari sepuluh ribu. Negara dengan kasus AIDS mendekati Thailand ialah India sebanyak 3.000 kasus, Myanmar 1.822, dan Jepang 1.447 penderita.

Di Eropa, terutama di negerinya David Trezeguet (Prancis), tercatat jumlah penderita AIDS paling banyak yaitu 45.395 orang, melewati Spanyol 45.132 orang. Kemudian disusul Italia 38.418 penderita, Jerman dengan 16.138 penderita, dan Inggris sendiri mengoleksi 14.082 penderita. Di negara-negara yang membolehkan pergaulan bebas ternyata memang angkanya cukup besar.

Brazil juga menyimpan penderita AIDS paling banyak, 103.262 penderita, dibandingkan negara Amerika Latin lainnya seperti Meksiko 29.962 penderita, dan Argentina 10.461 penderita. Kanada secara resmi melaporkan ada 14.836 penderita AIDS dan Australia melaporkan 7.033 kasus (Kompas, 7 Juli 1997).

Bagaimana dengan Indonesia? Hingga akhir Oktober 1998 jumlah penderita AIDS maupun pengidap HIV di wilayah Sumatra Utara saja telah mencapai 27 orang. Itu artinya Sumut menduduki urutan ke-7 setelah DKI Jakarta, Irian, Riau, Bali, Jawa Timur, dan Sumatra Selatan. Di Indonesia sendiri hingga akhir Oktober 1998 lalu telah mencapai 776 orang, 555 di antara mengidap HIV, yang meninggal sudah 111 orang (Kompas, 1 Desember 1998). Dan tidak mustahil, jumlah itu akan terus membengkak bila tak segera diselesaikan dengan benar dan baik. Tak mustahil pula bila di tahun 2001 jumlah penderita penyakit maut ini diperkirakan meningkat hingga sejuta orang. Siapa tahu, kan? Mengerikan!

Jalur Penyebaran AIDS
Nah, yang ini patut anda waspadai. Anda harus memantau terus lewat media apa saja virus HIV itu menyebar. Berdasarkan beberapa penelitian, AIDS paling efektif menyebar lewat hubungan seks. Baik antara laki-laki dan wanita, maupun yang abnormal, yakni homoseksual dan lesbian. Celakanya, saat ini seks bebas sedang menjadi primadona. Kebebasan bergaul telah menjadi pintu gerbang penyebaran AIDS. Korban AIDS dari kalangan pelaku seks bebas ini memang paling banyak. Mereka sangat rentan alias berisiko tinggi terkena penyakit ganas ini. Termasuk pelaku seks menyimpang, yakni para homoseks dan lesbian.

Di “jalur” ini, penyebaran AIDS juga cukup efektif. Di beberapa penjara di Amerika, sering dibuat repot dengan ulah para napi yang melakukan hubungan seks abnormal ini. Bahkan, fakta menunjukkan AIDS mudah menyebar di kalangan para napi yang homoseks. Ah, benar-benar penyakit “kutukan.”

Bicara seks bebas, memang bukan monopoli anak sekarang saja. Sejak dulu, yang namanya seks bebas, baik yang dilegalisasi melalui “bisnis” pelacuran maupun liar sudah marak. Bersamaan dengan itu, muncul pula penyakit menular seksual (PMS), yang tidak kalah garang dari AIDS—seperti sifilis, gonorhea, vietnam rose—dan bahkan pelakunya orang-orang ngetop di zamannya. Seperti gerombolan Columbus, Julius Caesar dan Cleopatra VII, Raja Charles V, Charles VII, Raja Henry VIII,, lalu Edward VI, Peter Agung, Katarina Agung, hingga Benito Mussolini, Napoleon Bonaparte, dan Adolf Hitler adalah tokoh-tokoh dunia yang terkenal sebagai penderita penyakit kotor sifilis dan gonorhea. Itu dulu, kalau sekarang, bisa ditunjuk hidung rombongan “selebritis” Hollywood macam Brad Davis, Rock Hudson, Fredy Mercury, Tony Richardson, dan Ian Charleson. Mereka menemui ajal dihantam AIDS. Ternyata idola anda bukan orang yang “bersih.”

Dan, masih ada media yang cukup “sakti” untuk menularkan virus HIV ini, yakni lewat narkoba. Wuah, di jalur ini kasusnya cukup banyak juga. Mau tahu? Nih buktinya. Dari studi yang dilakukannya, pakar AIDS Dr. Zubairi Djoerban mengajukan beberapa bukti keterkaitan narkoba dan HIV/AIDS. Dia mengemukakan dalam beberapa bulan terakhir, sampai dengan bulan Oktober 1999, pasien baru yang didiagnosis atau dirujuk kepadanya—selaku spesialis penyakit dalam—biasanya 1-2 orang dalam satu bulan. Dia juga menambahkan bahwa dalam tinga minggu pertama bulan November 1999, menemukan sembilan kasus baru infeksi HIV/AIDS, dan tiga di antaranya pecandu narkoba. Hih, mengerikan sekali.

Lebih menyeramkan lagi adalah penelitiannya melalui Yayasan Pelita Ilmu yang diketuainya tentang penelitian pendahuluan terhadap ABG di daerah Blok M, yang memperlihatkan adanya 7,5% di antara mereka merupakan pecandu narkoba dan 12,3% lainnya terlibat seks bebas (Media Indonesia, 30 November 1999).

Nah, media penyebaran AIDS lain yang juga cukup ampuh adalah melalui transfusi darah dan penyebaran lewat alat-alat kedokteran yang tidak steril. Contoh kasusnya memang sudah ada, di Amerika Serikat ditemukan seorang gadis kecil yang kena AIDS setelah berobat ke dokter gigi yang lesbi. Berarti peralatan dokter gigi yang lesbi iu tidak steril, karena kebetulan si dokter kena AIDS. Ih, mengerikan sekali, ya?

Penyakit Perilaku
Banyak orang percaya kalau penyakit ini lebih diakibatkan faktor human’s behaviour ‘perilaku manusia’ yang kelewat berani melawan aturan Sang Pencipta. Baik pergaulan bebas dengan lawan jenis, atau dengan sesama jenis (homo dan lesbian). Karenanya, upaya penanganan penyakit ini akan sia-sia, apalagi bila ternyata ditangani dengan cara yang salah, seperti kampanye pemakaian (maaf) kondom, atau anjuran supaya setia dengan pasangan. Pasangan apa? Istri dan suami atau pasangan zina? Itu semua sama saja dengan melegalkan perzinaan di mana-mana.

Masalah yang pertama kali harus dibenahi adalah soal keyakinan hidup. Seorang remaja muslim yang percaya akan adanya hisab dan azab dari Sang Pencipta, pastinya tidak akan berani melakukan perbuatan dosa sekecil apapun, apalagi berzina. Walaupun itu bisa saja dilakukan atas dasar suka sama suka dan dijamin bebas penyakit. Itu karena dia ingat pada firman Allah,

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa’:32)

Jadi, azab Allah S.W.T yang harus ditakuti, bukan penyakit AIDS itu sendiri. Bila manusia hanya takut kepada penyakit AIDS, bukan mustahil kalau suatu ketika obat penangkalnya ditemukan, manusia ramai-ramai akan kembali mempraktikkan pergaulan bebas lagi. Terbukti, ketika di Inggris merajalela penyakit kelamin macam gonorhea dan sifilis, komplek-komplek pelacuran sepi pengunjung. Tapi ketika Alexander Flemming menemukan penisillin yang bisa membasmi penyakit itu, orang Inggris kembali lagi pada kelakuan jahiliahnya itu.

Berikutnya, daripada membuang uang jutaan dolar untuk riset pengobatan AIDS atau untuk mengkampanyekan kondom, akan jauh lebih berhasil bila pergaulan bebas dilarang sama sekali. Termasuk pemerintah jangan sungkan-sungkan menutup segala macam praktik-praktik pelacuran. Jangan ragu-ragu pula mengganjar para pelaku pergaulan bebas, sesama jenis, maupun kaum homo dan lesbi, dengan sanksi yang setimpal. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

Nah, buat anda, kalau masih ingin hidup sehat, selamat dunia dan akhirat, jangan coba-coba nekat bergaul bebas dengan lawan jenis, apalagi sampai kebablasan berzina. Selain memang dosa besar, anda berpeluang besar menambah panjang deretang pengidap AIDS. Na’udzubillahi min dzalik

---------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 126-134 dengan perubahan

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam