logo blog

Air Cucuran Atap: Sebuah Catatan Ringan bagi Orangtua

“Anak-anak adalah sumber alam yang paling berbahagia.”
(Herbert Hoover)

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga,” kata sebuah peribahasa. Kita, para orangtua, tentu paham benar arti peribahasa tersebut. Perilaku anak berasal dari orangtuanya. Baik orangtua, baik pula anaknya. Buruk orangtua, buruk pula anaknya.

Dengan indah, peribahasa itu mengumpamakan orangtua sebagai atap, bagian paling atas dari rumah. Posisi yang memberikan perlindungan kepada seluruh anggota keluarga. Atap jugalah yang kemudian meneteskan air ke pelimbahan, yakni anak-anak kita. Dan, air aalah karakter yang diwariskan kepada anak-anak, meluncur deras sesuai sunnatullah dari atap menuju pelimbahan.

Ya, disadari atau tidak, tingkah laku dan kebiasaan kita, para orangtua, sebenarnya menjadi cerminan bagi anak-anak di rumah. Memang benar ada karakter yang diwariskan secara genetis kepada anak-anak, seperti yang diuraikan berbab-bab oleh para ahli biologi. Tetapi, sebenarnya jauh lebih banyak karakter yang diperoleh anak-anak dari hasil didikan kita.

Anak-anak belajar dari orangtua mereka dengan cara mendengarkan, mengamati, dan memikirkan tingkah laku orangtua. Kebiasaan ibunya membuatkan secangkir kopi bagi ayahnya, kebiasaan ayahnya berpamitan kepada ibunya saat berangkat ke tempat kerja, kebiasaan mereka berdua mencurahkan kasih sayang kepada mereka, anak-anaknya, menjadi pelajaran-pelajaran yang lebih berkesan ketimbang duduk mendengarkan ceramah berjam-jam. Bahkan, kebiasaan “sepele” seperti jam berapa menyalakan televisi dan acara apa yang biasa kita saksikan, seluruhnya terekam baik dalam ingatan anak-anak.

Anak-anak adalah cerminan bagi orangtua. Bagaimana orangtuanya, begitulah anaknya. Like father, like sons. Saat kita tatap matanya, amati bentuk hidungnay, cara berjalannya,  dan gaya bicaranya, kita akan temukan diri kita pada anak-anak. Maka, bila kita tidak ingin dipermalukan di depan orang lain oleh tingkah polah anak-anak, berarti kita pun jangan berbuat hal yang memalukan di depan anak-anak kita sendiri.

Dorothy Law Nolte menuliskan sebuah puisi indah yang menceritakan hubungan pendidikan orangtua dengan pembentukan karakter anak-anak. Berikut ini adalah cuplikannya sebagai bahan renungan kita bersama.

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, Ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, Ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, Ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih-sayang dan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Bila anak tumbuh menjadi liar, keras, pendendam, dan tidak punya sikap penyayang, tentu tidak muncul begitu saja. Kitalah para orangtua yang merekayasa semuanya.

Tidak ada “horror” yang lebih menakutkan bagi anak-anak selain kehilangan kasih sayang. James Coleman, dalam Abnormal Psychology and Modern Life, menyebut kekurangan kasih sayang sebagai communicable disease “penyakit menular.” Karena itu, Islam sebagai agama yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin mewajibkan orangtua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka kepada keluarganya. “Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya,” kata Rasulullah S.A.W. Bahkan, Allah S.W.T berfirman,

“Bertakwalah kamu kepada Allah tempat kamu saling memohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga.” (an-Nisaa:1)

Tidak ada tempat yang lebih aman bagi seorang anak selain di dalam pelukan orangtuanya. Karena, anak-anak senantiasa menumbuhkan kekuatan untuk bersandar, dada untuk menangis, dan contoh untuk belajar. Bila kita semua memberikan semua itu pada mereka, maka lebih dari sekadar perwujudan kasih sayang, tapi bernilai ibadah di sisi Allah S.W.T.

Ada sebuah riwayat menarik mengenai hal itu. Diriwayatkan bahwa ada seorang wanita miskin datang menemui Aisyah R.A. Aisyah berkata, “Ia membawa dua orang anak wanita. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Ia memberikan dua butir kurma kepada anaknya. Ia bermaksud untuk memakan sisanya. Tetapi, kedua orang anaknya berusaha merebutnya sehingga kurma itu pun jatuh dari tangannya. Akhirnya, wanita itu tidak makan kurma satu butir pun. Aku terpesona dengan perilaku wanita itu. Aku ceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah S.A.W. Beliau bersabda,

“Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.” (H.R Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)

Selain itu, anak-anak juga memiliki hak untuk mendapatkan harta dan pendidikan. Tanpa keduanya, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lemah.

Allah S.W.T berfirman,

“Hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (an-Nisaa’:9)

Bukanlah orangtua yang baik jika mereka meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan lemah iman, ilmu, dan harta. Anak-anak membutuhkan semuanya.

Suatu ketika, Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya.

“Wahai ayah, apa yang terbaik bagi manusia?”

“Agama”, jawab Luqman.

“Kalau dua?”

“Agama dan harta.”

“Kalau tiga?”

“Agama, harta, dan rasa malu.”

“Bila empat?”

“Agama, harta, rasa malu, dan akhlaq yang mulia.”

“Jika lima?”

“Agama, harta, rasa malu, akhlaq yang mulia, dan dermawan.”

Anaknya bertanya lagi, “Jika enam?”

Luqman menjawab, “Anakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seorang hamba, dia adalah orang yang bertaqwa. Allah akan menolong orang yang menjauhi setan.”

Soundtrack sinetron Keluarga Cemara menyebutkan bahwa keluarga memang hal yang terindah. Keluarga adalah harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara. Karena anak setara dengan mutiara, tegakah kita membenamkannya di kubangan lumpur dunia? Lagipula, anak yang saleh adalah satu dari tiga perkara yang dapat terus-menerus mengalirkan pahala kepada kita. Rasulullah S.A.W bersabda,

“Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang selalu mendoakan kedua orangtuanya.” (H.R Muslim)

---------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 197-202 dengan perubahan

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam