logo blog

Di Tangan Tugas, Di Hati Allah

Sebelumnya (baca: Harga Dunia = Satu Kentut), kita sudah membahas kalau ternyata harga dunia—prestasi dan gelar—tidak seharga diri, tetapi dia tetap bisa menjadi sesuatu yang sangat baik. Walaupun prestasi dan dunia anda harus dikejar, tapi cara anda menyikapi apa itu prestasi dan dunia juga harus benar. Dunia dan prestasi hendaknya dijadikan medan laga untuk anda membuktikan cinta anda kepada Allah. Di dunia, kita diberikan kesempatan yang luas untuk membuktikan cinta. Kita juga diberikan waktu dan kemampuan yang besar untuk menunjukkan pengabdian, pengorbanan, dan pelayanan. Tidak akan ada fakir miskin di tempat lain, kecuali di dunia. Tidak ada kejahatan di tempat manapun, kecuali di dunia. Tidak akan ada kecurangan, penipuan, kejahatan, perampokan, pemerkosaan, pemerasan, penyiksaan, dan saling sikut dalam persaingan, kecuali di dunia.

Di dunia, anda dituntut untuk menjadi khalifah-Nya. Menjadi khalifah berarti menjadi pengganti-Nya di dunia sebab arti kata khalifah itu sendiri adalah pengganti. Menjadi khalifah berarti membiarkan diri anda berkarya, mengambil alih fungsi kuasa dan pengetahuan Allah atas dunia dan alam ini. Amanat-Nya kepada anda adalah anda harus bisa mengaktifkan seluruh potensi anda untuk mengubah dunia. Dunia adalah tempat yang memberi kesempatan kepada kita untuk mengembangkan kebaikan-kebaikan, mencegah kejahatan, dan membela kaum lemah.

Arti kata khalifah juga tidak hanya pemimpin atau penguasa. Setiap orang punya bidang garapan masing-masing untuk menunjukkan dirinya khalifah. Petani membuat penampakan dari kekhalifahannya dengan mencangkul dan bertanam. Tentara memanifestasikan kekhalifahannya dengan mengamankan negeri. Penulis melaksanakan tugasnya dengan menuliskan kebenaran-Nya di atas bumi. Seorang nelayan tidak harus jadi presiden untuk menunjukkan dirinya khalifah. Anda pun pasti punya banyak cara untuk menjadikan diri anda pengganti-Nya di dunia ini. Tapi, permasalahan berikutnya datang saat anda terlalu asyik dengan kekhalifahan anda. Seperti dalam kisah berikut ini.

Ada seorang raja yang sangat tertarik dengan musik, tarian, drama, dan teater. Dia berkata kepada menterinya, “Aku ingin mendengarkan musik yang bagus, menonton tarian dan pentas drama sekaligus. Bagaimana caranya?”

“Semua orang di negeri ini adalah musisi, aktor, dan penari yang hebat. Kalau kita mengundang satu kelompok, kita akan menyinggung kelompok lain,” jawab menteri.

“Jadi bagaimana?” raja meminta solusi.

“Kita harus mengumumkan kepada mereka, akan ada kompetisi enam bulan lagi dan sang juara akan dapat hadiah dari Raja,” kata menteri.

Pada hari yang dijadwalkan, panggung besar itu pun dipenuhi artis-artis peserta dari seluruh pelosok negeri. Ada sebuah paviliun khusus untuk raja dan di bawahnya terdapat sebuah panggung kecil yang menampung sekitar dua puluh lima orang. Raja meminta menteri segera memukul kerangka keong dan meminta penonton agar berdiri di satu sayap dan para peserta berdiri di sayap yang lain. Permintaan itu pun dituruti, dan ternyata tidak ada penonton. Setiap orang ternyata peserta!

Melihat itu, raja menemui penasihat yang duduk di sebelahnya, “Apa yang harus kulakukan?”

“Biarkan mereka semua menari, menyanyi, dan berakting satu kali, lalu baru putuskan mana yang paling baik,” kata penasihat.

Semua kontestan mempertontonkan kehebatannya. Suara gaduh dan bising benar-benar menghebohkan. Raja tidak bisa membedakan satu suara dengan suara yang lain, mirip ribuan keledai yang meringkik dan teriakan-teriakan kancil.

Dengan gambaran yang seperti itulah Allah membuat dunia anda. Setiap dari anda datang membawa sejuta karakter yang berbeda dalam usaha anda menjadi khalifah-Nya: keinginan untuk berprestasi berlawanan dengan ambisi menginginkan ketenaran; kepedulian untuk memperbaiki keadaan versus nafsu besar untuk menciptakan kejahatan. Perhelatan itu begitu kacau dan keras, agresif dan saling menekan agar mendapatkan tempat menjadi yang terpakai.

Dalam kompetisi kehidupan yang keras dan tidak kenal kompromi, anda sudah hampir lupa kalau pemberi hadiah kompetisi itu adalah Sang Raja. Anda terus memainkan musiknya, tapi lupa kalau anda datang ke arena untuk menghibur Sang Raja. Lalu, siapakah Sang Raja? Sang Raja adalah Allah. Dan, anda sudah banyak melupakan-Nya. Anda terlalu asyi dengan panggung teater anda dan melupakan Allah yang justru seharusnya anda hibur dengan kehebatan akting anda. Padahal, di samping khalifah, anda pun diminta-Nya untuk menjadi ‘abid. Dlam Al-Qur’an Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi (Qs. Al Baqarah:30)”, sementara di ayat lain Allah berfirman, “Dan tidaklah AKu ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menjadi seorang hamba yang berserah diri kepada-Ku (‘abid). (Qs. Al-Dzaariyaat:56). Melalui pintu hati anda, pikiran sehat anda, ketekunan anda, dan bukan hanya prestasi anda, anda bisa menjadi ‘abid.

Kembali kepada kekacauan tadi. Semua kekacauan itu memaksa kita untuk tidak hanya menanyakan apa tugas kita, tapi juga bertanya bagaimana cara menjalankannya. Tangan dan hati adalah kuncinya. Tangan anda bekarja, dan hati anda yang mengatur bagaimana caranya. Dalam menjalankan tugas, anda henaknya bersikap seperti lebah pekerja. Dia menghabiskan hari-harinya untuk membangun rumah, menjaga sang ratu, mencari makan, dan melayani sesama dengan tangannya sembari tidak henti mendengungkan dzikir kepada-Nya dalam hatinya. Dengan tangan anda bekerja, dengan hati anda berdzikir. Dengan tangan anda menjadi khalifah, dengan hati anda menjadi ‘abid.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari buku Nyari Identitas Diri Karangan M. Ikhsan Hal. 188-192 dengan perubahan 
YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam