logo blog

Gaya Hidup Konsumtif? Jangan Lah Yauw...

“Rela dan puas adalah kekayaan yang tidak pernah akan habis.”
(Peribahasa)

Kalau anda termasuk tipe orang yang senang beli barang-barang yang sebetulnya sudah anda punya, nah itu namanya konsumtif, saudara-saudara. Coba saja bayangkan, anda sudah punya kemeja bagus, tapi begitu ada barang lain yang beda merek, anda masih bernafsu untuk memilikinya, meski bandrol baju itu menyentuh angka “selangit.”

Kalau anda juga termasuk “rewel” untuk urusan makan, maka makan ayam goreng tidak cukup yang biasa, harus yang buatannya Paman Sanders. Atau, ketagihan sajian Crepes yang nyam-nyam di lidah, atau banana split yang coklatnya meleleh kemana-mana, padahal harganya wow bisa untuk jajan seminggu. Itu juga namanya konsumtif.

Wah, kalau ini diteruskan bisa bahaya, nih! Lalu, darimana sih asalnya “penyakit” ini?

Provokasi
Konsumtif, menurut kamus adalah gejala kejiwaan berupa rasa tidak puas dalam konsumsi. Level lain dari konsumtif adalah gila belanja alias snobis. Kelihatannya “penyakit” yang satu ini sudah menjadi satu bagian yang lekat dengan masyarakat. Bukan saja menjangkiti pikiran orang-orang yang banyak uang. Yang uangnya cekak sekalipun, juga ikut kebawa-bawa. Tidak sedikit teman-teman kita yang bela-belain menabung berhari-hari hanya untuk beli sebotol produk pemutih wajah, misalkan, atau pin up, handycam yang punya fitur canggih, DVD film original, baju bermerek terkenal, atau barang-barang lainnya. Padahal, barang-barang itu sebenarnya terkategori useless, alias kita tidak perlu-perlu amat.

Tapi kenapa kita bisa begitu “kepelet” untuk beli? Menurut Ustadz Muhammad Muhammad Ismail, dalam kitab Fikrul Islam, pada diri manusia ada naluri untuk mempertahankan diri atau gharizatul baqa’. Nah, salah satu madzahir atau penampakannya adalah hubbut tamalluk alias cinta kepemilikan. Dan lazimnya naluri, dia akan bereaksi saat ada rangsangan dari luar atau ada yang manas-manasin. Iklan misalkan, merupakan sarana yang ampuh untuk merangsang nafsu belanja konsumen. Setiap hari, mata dan telinga kita “digempur” tayangan iklan lewat televisi, radio, atau koran dan majalah, lama-lama luluh juga deh benteng pertahanan kita.

Apalagi yang namanya produsen dan pihak periklanan makin lama makin canggih merayu kita-kita. Iming-iming jaminan mutu-lah, nomor satu-lah, atau renyahnya nomor satu-lah bisa bikin kita jadi sangat penasaran. Apalagi kalau kemudian dipasang model iklan yang keren, wow, jadi semakin kebelet kita ingin mencoba. Iklan shampo misalkan, model yang dipasang pastinya sudah hasil seleksi. Hanya mereka yang berambut bagus, bebas ketombe, dan punya paras cantik yang akan dijadikan model iklan. Wajar saja kelihatan bagus di layar kaca. Padahal, kalau kita yang pakai belum tentu hasilnya seperti itu.

Iklan juga menawarkan berbagai pilihan yang membuat kita ingin mencoba lagi dan lagi. Dulu, setiap pagi kita cukup menyantap nasi goreng buatan istri, tapi sekarang ada nasi goreng instan. Pizza saja tidak bisa yang “biasa-biasa”, haurs yang lebih wah juga, ada pilihan Stuffed Crust Pizza atau Cheesy Bite yang djamin membuat kita ketagihan. Dan seabreg-abreg barang lainya yang membuat kita ingin mencicipinya. Nah, kalau anda tidak tahan godaan iklan dan barang-barang baru, dijamin nafsu belanja anda akan melonjak gila-gilaan.

Selain itu, jangan lupa kalau pergaulan juga bisa membuat anda jadi konsumtif. Sadar atau tidak, bisikan orang-orang di sekitar kita juga sering membuat kita “panas” untuk belanja. Sepatu, tas, jam, sampai sendal yang dipakai teman-teman bisa membuat hati serasa seperti kompor meledug. Ujung-ujungnya ingin belanja.

Gaya hidup konsumtif dan snobis ini tidak hanya menguras kantong kita, tapi juga bisa merusak mental pergaulan kita. Orang yang sudah kecanduan belanja, tapi kantongnya tipis, bisa saja berbuat yang bukan-bukan untuk menjaga hobi dan gengsinya itu. Bisa dengan korupsi, atau nekat mencuri, dagang narkoba sampai jual diri. Ini sudah banyak terjadi, lho!

Stop Konsumtif
Jangan sampai gaya hidup konsumtif merasuk ke dalam kehidupan anda. Karena sebenarnya, anda sendiri yang akan rugi. Meski pada saat belanja kita enjoy-enjoy saja, tapi kalau anda pikir dengan akal sehat pastinya anda akan menyesal. Banyak sekali barang yang tidak bermanfaat. Belumlagi rugi uang yang sebetulnya bisa dipakai untuk keperluan lain yang lebih berguna.

Disinilah perlunya pikiran yang bijaksana dalam belanja dan gaya hidup. Rasulullah S.A.W bersabda “Sebaik-baik keislaman seorang muslim adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” Hadist ini mengingatkan kita untuk menjauhkan diri dari perilaku-perilaku yang tidak bermanfaat. Termasuk memberikan peringatan kepada kita untuk menghemat dan tepat guna dalam mempergunakan uang. Dan perlu dicatat, kalau perlu pakai tinta merah, setiap amal dan harta yang kita pergunakaan itu akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Jadi, gaya hidup konsumtif sudah harus dibuang jauh-jauh ke laut..

Juga jangan berpikir soal gengsi di hadapan teman-teman. Makhluk yang bernama gengsi itu bila dituruti maunya, ibarat kanker ganas yang bercokol dalam tubuh yang terus-menerus menggerogoti hidup kita. Tidak ada matinya! Begitulah gengsi, tidak pernah ada kata berhenti, kecuali kita sendiri yang mau melakukannya.

Lagipula, sebenarnya orang lain akan menghargai kepribadaian kita pada tingkah laku dan cara berpikir, bukan pada penampilan. Memang lazimnya manusia, pertama kali akan mengukur pribadi orang dari penampilan. Tapi, percayalah kalau kemudian orang akan terpesona pada cara bersikap dan cara berpikir anda.

Gaya Hidup Mewah, Buat Apa?
Tahukah anda bahwa mantan Menteri Pangan RI, Pak A.M. Saefuddin, sewaktu sekolah di SR (Sekolah Rakyat)—setingkat SD—hanya berbekal dua setel baju? Untuk mencapai sekolah pun  ia harus berjalan kaki 5 km yang ditempuhnya dalam waktu 1 jam.

Tidak terbayangkan betapa sederhananya dia. Pun hingga jabatan Menpangan ada dalam genggamannya, dia tetap sederhana. Dia menolak naik kendaraan dinas menteri dan lebih memilih naik Kijang lama miliknya setiap pergi ke kantor.

Sekarang, kita biasa terbuai dengan kemewahan. Sikap The Exhibit of Luxury alias gaya hidup yang serba mewah dan konsumtif sudah merambah ke dunia kita. Makanan tidak lagi diukur dari soal bergizi dan mengenyangkan, tapi gengsi. Baju tidak lagi dipertimbangkan dari fungsi, menutup aurat dan rapi, tapi sudah soal merek dan tren.

Anda harus tahu banyak soal kehidupan jangan hanya menganggap bahwa hidup itu hanya tumbuh, lalu berkembang dan mati. Hidup bukan cuma itu. Banyak sekali yang harus anda tahu soal kehidupan dan dinamikanya. Jangan merasa bahwa ana masih muda, lalu menganggap sah-sah saja dengan apa yang anda lakukan selama ini. Anda tidak peduli dengan apakah itu adalah perbuatan salah atau benar. Apakah itu menguntungkan atau merugikan anda di masa depan Seharusnya anda berpikir jauh ke depan bahwa setiap yang kita lakukan akan ada hubungannya dengan masa yang akan datang. Iya, kan? Hari ini adalah bagian dari hari kemarin, dan hari esok sangat bergantung pada “sepak terjang” kita hari ini.

Lagipula apa pantas kita bermewah-mewahan, sementara di kanan-kiri, bahkan mungkin depan-belakang kita, orang menjerit-jerit kelaparan. Apa iya anda tega?

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 135-140 dengan perubahan

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam