logo blog

Generasi Muda Mengintip Pornografi

“Bukankah berbagi keindahan adalah ibadah.”
(Jawaban Krisdayanti di Majalah Popular No. 114, Juli 1997)

Untuk urusan membaca, pemerintah Indonesia harusnya merasa malu. Pasalnya, rakyat negeri ini termasuk yang paling rendah kebiasaan membacanya dibandingkan negara-negara lainnya di dunia, bahkan dengan negara tetangga sekalipun. Memprihatinkan memang. Kalau pun kabar terakhir masyarakat gemar membaca, ternyata kabar ini pun harus kembali membuat pemerintah dan juga sebagian masyarakat uring-uringan dibuatnya. Apa pasal? Jangan deg-degan dulu. Masyarakat sekarang memang doyan membaca media, termasuk membaca media yang lherr alias bertaburan esek-esek.

Seiring dengan dibukanya keran kebebasan pers selama era reformasi, bagai jamur di musim hujan, berbagai tabloid dan koran serta majalah tidak ketinggalan untuk muncul dan berlomba menggaet pembaca demi mendongkrak oplah. Tentu saja, di satu sisi iklim tersebut menumbuhkan suasana kondusif untuk membudayakan kegemaran membaca dan mendidik masyarakat menjadi lebih pintar. Tapi, sisi yang lainnya justru menikam akal sehat masyarakat pembacanya. Termasuk kita. Yakni, dengan maraknya sejumlah penerbitan yang mengumbar pornografi yang berkibar bahkan menjadibacaan paling gress. Tercatat beberapa media lherr seperti Liberty, Map, Pop, Popular, X-Files, dan kawan-kawan sejenisnya. Belum lagi dari novel-novel kacangan yang sudah pasti bertaburan kata-kata tak senonoh.

Yang memprihatinkan, para pembaca media itu kebanyakan adalah para remaja yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Di Jakarta, menurut beberapa laporan yang dilansir harian ibukota, ternyata pembaca paling banyak adalah remaja. Tidak peduli, apakah remaja pria atau wanita. Mereka semua menikmati media yang dipenuhi artikel dan gambar-gambar “panas” (bukan gambar kompor lagi nyala, lho!)

Kalau dulu remaja sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan dan membaca majalah atau buku-buku seperti itu, sekarang malah tidak lagi. Selain itu, dengan harganya yang hanya semangkuk bakso, bocah ingusan bisa membelinya dimana saja. Memang sih, ada tulisan “Dijual hanya untuk pembaca berusia 17 tahun ke atas”, tapi itu kan teori. Kenyataannya para agen koran atau lopernya tidak pernah peduli. Apalagi para penerbit dan artisnya.

Maka, tidak terlalu aneh kalau media seperti itu mampu menyalip tiras media yang lebih dulu ada. Tentu saja, karena yang diemban adalah kebebasan yang kelewat batas dalam menampilkan isi dari majalah atau tabloid tersebut. Tentu, bacaan dan gambar-gambar “polosnya” yang hot.

Jago Ngeles
Memberantas media porno itu sulit. Karena para pelakunya pandai berkelit. Ibarat pendekar kungfu, mereka jago ngeles. Selain itu, masyarakat sendiri memperlihatkan kalau mereka “doyan.” Ketika Sophia Latjuba dan majalan Popular “bekerja sama” membuat foto-foto cabul, tiras majalah tersebut kontan melangit. Bahkan, di beberapa tempat para loper merasa sangat senang. Karena tak perlu bersusah payah menjajakan, toh majalah tersebut memang diburu orang. Ternyata menjual gambar ketelanjangan  wanita mampu mendongrak tiras majalah. Tentu saja hal ini menjadi tambang uang yang menggiurkan.

Meski kemudian sebagian masyarakat protes, Sophia dan Popular mengeluarkan jurus pamungkas dengan berdalih, “Itu kan trik kamera.” Percaya? Tentu saja alasan tersebut adalah lagu lama yang jadi andalan selebriti untuk berkelit dari tuduhan bobrok! Tuntutan skenario, trik kamera, ekspresi seni, dan sebagainya. Pokokya alasan-alasan klise.

Malah, dengan tidak bertanggung jawabnya para model yang berani malu ini sering balik menuduh masyarakat dengan cap “munafik.” Lho, apa nggak kebalik?

Selain itu yang cukup membuat sulit menjerat aktivitas pornografi adalah kriteria tentang porno itu sendiri. Kalau ditanyakan apa sih batasan pornografi? Wah, jawabannya bisa macam-macam. Ini kan lucu. Bukankah rakyat Indonesia mayoritas umat Islam, kenapa tidak dikembalikan saja batasannya kepada ajaran Islam. Jadi, porno itu adalah aksi pamer aurat laki-laki atau wanita. Gitu aja kok repot.

Efek Lain
Bacaan yang berkembang saat ini terbukti dalam beberapa kasus juga memicu masalah lain. Sejumlah media porno sering menurunkan tulisan tentang “pusat-pusat” pelacuran di berbagai daerah. Muncul kesan kalau redaksinya ingin memberitahu pembaca, dimana mereka bisa mendapatkan wanita-wanita penghibur. Selain itu, para model yang biasa tampil juga dilengkapi dengan nomor telepon atau HP mereka, ada dugaan mereka bisa “diapa-apakan.” Ih, na’udzubillah!

Dampak burk lain akibat menjamurnya media seperti ini, adalah naiknya minat remaja yang bercita-cita menjadi model. Dengan bermodalkan tampang dan penampilan di atas rata-rata, plus sedikit keberanian buka-bukaan, mereka bisa segera mengisi sejumlah halaman ekslusif tabloid atau majalah “begituan.” Para model di media-media itu rata-rata adalah para new comers yang ingin melejit dengan mendapatkan jalan pintas. Ya, selain populer juga dapat uang banyak tanpa harus berpikir keras.

Jadi, bacaan dan gambar yang dimuat dalam majalah seperti itu dengan segera mengisi kepribadian remaja yang masih mencari jati diri dan miskin idealisme. Malah tak mustahil, bacaan semacam itu mampu menjadi self confidence builder alias pembangun rasa kepercayaan diri. Tidak percaya? Jangan dicoba.

Perlu Pembenahan
Semua orang sepakat bahwa kebebasan pers yang tidak bertanggung jawab ini hanya akan menciptakan masyarakat pembaca kelas rendahan. Bahkan, bukan tak mungkin bila kemudian mereka menjadi the dreamer society alias masyarakat pemimpi. Persis sinetron-sinetron kita yang tak “membumi” alias melulu menampilkan kehidupan kelas atas. Padahal, masyarakat ktia ‘kan justru banyak yang kere.

Menghadapi era globalisasi kebodohan ini tentu saja kita tak bisa hanya diam berpangku tangan. Sebagai seorang muslim, kita harus mampu menyikapi masalah ini, dengan bijak tentunya. Kata orang bija, lebih baik menyalakan sebatang lilin ketimbang terus-menerus mengutuki kegelapan. Artinya, kita tak bisa hanya cukup mengutuk media yang memang menjual gambar ketelanjangan wanita, tapi kita juga harus berusaha untuk menyelamatkan diri kita dan juga teman-teman yang lain. Tentu saja dengan mencari solusi yang jitu untuk “mematikan” media yang seperti itu.

Kita barangkali merasa bahwa bacaan yang bertebaran saat ini tak menjamin pemikiran kita bersih dari “virus” berbahaya yang sengaja disebar pihak-pihak yang tak menyayangi masyarakat alias tak bertanggung jawab terhadap masa depan kita.

Dengan perkembangan seperti ini, sepertinya masyarakat telah kehilangan bacaan yang menghibur dan mampu memberikan gambaran yang baik dalam aktivitas hidup kesehariannya. Tentu karena bacaan yang baik itu bukan hanya menghibur tetapi membawa muatan yang benar dan baik bagi pembacanya. Ironisnya, kini begitu sesak dengan media yang menjadikan seks, klenik, dan ide-ide kebebasan sebagai komoditas.

Dulu, di tahun 80-an, kita masih menemukan novel-novel yang “bersih” dari keliaran seks seperti sekarang. Sebut saja misalnya ada novel remaja yang mengisahkan tentang pembauran antara etnis Cina dan pribumi seperti pada kisah Cinta Bersemi di Seberang Tembok karya Bagin. Atau, novel serupa karya Wahyu Dewanto dalam kisah Senandung Puncak Gunung. Dan, tak ketinggalan novel remaja karya Andy Wasis yang mengisahkan Hen Nio gadis Cina yang sudah merasa 100 persen orang Indonesia dalam kisah Setangkai Anggrek Putih. Novel-novel tersebut jauh dari eksploitasi seks secara liar seperti yang ada di media lherr saat ini.

Di masa Rasulullah S.A.W dan para Khulafaur-Rasyiddin menjalankan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yakni ketika Islam diterapkan sebagai sebuah ideologi, masyarakat hanya disuguhi dengan nilai-nilai Islam yang banyak bertebaran dalam kitab-kitab fiqih, kitab-kitab tarikh, dan lain sebagainya, yang intinya membina kepribadian kaum muslimin.

Tersedia banyak kitab untuk membina hati kita seperti Minhajul Abidin karya Imam Ghazali, Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah. Atau, tulisan-tulisan dalam buku Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu (terjemahan) karya Ibnul Qayim al-Jauziah yang bisa menjaga kesucian cinta kita, sampai kitab fiqih politik seperti karya monumental Imam al-Mawardhi, al-Ahkamus Shulthaniyah. Kan itu bagus untuk menambah wawasan, apalagi buku-buku tersebut sekarang bisa kita dapati dengan mudah berkat jasa para penerjemah untuk memudahkan kita mempelajari. Betul kan?

Nah, kalau sudah begini bukan hanya menjadi urusan kita, tapi pemerintah harus bersikap proaktif, mampu menjadi pelindung rakyat dengan menciptakan rasa aman. Aturan dan sanksi diberlakukan dengan tegas tanpa pandang bulu. Kecuali kalau memang pemerintah sudah tidak peduli dengan masa depan kita.

Kemana Media Islam?
Remaja Islam sebenarnya sangat berharap akan ada media Islam yang mampu bersaing dengan media-media remaja lain. Apakah majalah atau tabloid, pokoknya bisa tampil memikat, gaul, memahami gaya remaja, dan tentu saja menampilkan wajah Islam yang ramah.

Sayangnya, mungkin sebagian investor atau orang-orang Islam yang kaya kurang begitu peduli dengan urusan seperti ini. Mungkin juga karena mereka menganggap media remaja Islam itu tidak menjanjikan keuntungan bagi mereka. Kalau itu permasalahannya, kan bisa dicari formula bacaan yang tepat dan juga manajemen yang profesional.

Untuk urusan dakwah bukankah keikhlasan dan keseriusan menjadi prioritas? Selain itu, dibandingkan dengan keselamatan generasi muda di masa-masa mendatang, investasi di majalah remaja Islam menjadi suatu perkara yang sangat penting. Sekarang pilih mana, membiarkan terus remaja kita tenggelam dalam bacaan-bacaan yang “memabukkan” atau memberikan bacaan alternatif yang “mencerahkan”? Rasanya semua sudah tahu jawabannya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari buku Jangan Jadi Bebek karangan O. Solihin Hal. 27-34 dengan perubahan

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam