logo blog

Jangan Ragu untuk Memberi

“Dut, sekarang jam berapa?” saya bertanya. “Oh, maaf, jamku mati,” jawab si Badut. Malangnya, saya tahu persis—bukannya mengarang—kalau jam tangan si Badut itu tidak mati alias normal. Ini kisah nyata saya sewaktu di SMA. Saya punya teman yang pelitnya minta ampun, saya sebut saja dia sebagai si Badut. Saking pelitnya, ditanya jam berapa dia bilang jamnya mati. Oh.

Bagi orang yang kurang terbiasa, memberi adalah perbuatan yang lumayan berat dilakukan. Sepertinya, memberi dapat menghilangkan sesuatu yang berharga dari tangan. Padahal, memberi itu menyelamatkan, lho!

Suatu hari, Mullah Nasruddin melihat sebuah kerumunan di pinggir kolam. Rupanya, seorang imam masjid—yang suka pakai sorban gede itu—baru saja kecebur. Dia berteriak-teriak minta tolong. Orang-orang datang mau menolong. “Berikan tanganmu, Imam! Berikan tanganmu!” kata orang-orang. Tetapi, si Imam yang sedang butuh pertolongan itu malah tidak peduli. Dia malah terus-terusan keasyikan tenggelam.

Mullah Nasruddin melangkah mendekat. “Coba, biar saya yang mengatasi.” Mullah membaringkan diri, lalu menyodorkan tangannya kepada si imam, “Ambillah tanganku!”
Si imam dengan cekatan merebut tangan Mullah, lalu dia diangkat dari air. Orang-orang terkagum-kagum dengan cara Mullah Nasruddin menolong si imam. Merkea meminta Mullah untuk menjelaskan.

“Sangat mudah,” jawab Mullah. “Aku tahu orang pelit seperti dia tidak akan mau memberi sesuatu kepada orang lain. Karnea itu, aku tidak berkata, ‘Berikan tanganmu!’, tapi aku berkata, ‘Ambillah tanganku!’ AKu yakin, dia akan mengambilnya.”

Nah lho, kalau tidak ada orang secerdik Mullah Nasruddin, si imam pelit itu pasti sudah tenggelam.

Di zaman Khalifah Ali, khalifah keempat, ada sepasang pengantin baru yang diramal akan meninggal dunia sehari setelah pesta pernikahannya. Tapi ternyata, di hari yang sudah diramalkan itu, mereka berdua masih hidup. Mereka menanyakan perihal ramalan itu kepada Khalifah Ali.

“Karena kalian memberi sesuatu kepada fakir miskin,” kata Khalifah Ali, “hari ini kalian selamat dari patukan ular yang sudah siap dibalik tempat tidur.

Setelah dilihat, dibalik selimut mereka memang ada seekor ular yang siap mematuk. Khalifah Ali mengambil ular itu dan membunuhnya. Mereka selamat karena mereka memberi.

Menurut Ibn Arabi, tidak ada seorang pun yang rajin memberi, mati dalam kemiskinan. Memberi adalah menghilangkan satu dari tangan kita, untuk memasukkan seribu balasan ke dalam hati kita. Orang yang paling bahagia di dunia adalah orang yang bisa memberi dengan tulus dan ikhlas. Tidak ada orang yang kebahagiannya melebihi kebahagiaan si pemberi yang tulus.

Memberi secara sembunyi-sembunyi di jalan Allah, akan dibalas oleh-Nya dengan balasan yang sembunyi-sembunyi juga. Min haitsu la yahtasibu, begitulah kata Al-Qur’an, yag artinya “dari arah yang tidak disangka-sangka.

Ada dua saudara, yang satu sudah menikah dan satunya lagi masih bujang. Mereka bertani bersama dan membagi dua hasil panennya. Yang bujang sering berpikir kalau saudaranya punya beban pengeluaran yang besar karena sudah punya keluarga. Tanpa sepengetahuan saudaranya, dia memindahkan sekarung demi karung beras miliknya ke gudang saudaranya. Sedangkan saudaranya yang sudah menikah juga sering berpikir betapa kesepian saudaranya yang bujangan itu. “Kalau saudaraku punya uang yang lumayan, mungkin dia bisa membeli sesuatu yang bisa mengobati kesepiannya,” pikirnya. Llau—juga tanpa sepengetahuan saudaranya—dia memindahkan beberapa karung padi ke gudang saudaranya. Sampai beberapa tahun, jumlah karung padi mereka masih sama. Mereka berdua tidak habis mengerti kenapa bisa begitu.

Kalau anda melakukan amalan seperti ini, anda pasti akan segera merasakan hasilnya. Sebab, kata Nabi Muhammad, hanya yang memberi yang akan diberi.

Sekarang kalau anda masih terlalu berat untuk memberikan harta, karena anda juga sangat butuh harta itu, cobalah dengan memberikan senyum. Biasakanlah tersenyum wajar dan tulus, maka anda akan tercengan melihat hasilnya yang luar biasa. Senyum yang tulus dan ikhlas akan membawa kegembiraan yang tak terkira, tidak hanya bagi orang yang anda beri senyuman, tapi juga bagi kepuasan batin anda sendiri. Senyum anda itu juga efektif untuk memperbaiki hubungan anda dengan musuh. Renungkan, siapa yang tidak ge-er disenyumi musuhnya. “Kok bisa-bisanya ya dia memberi senyum, dia kan selama ini musuhan denganku” Waktu sehari semalam kayaknya tidak cukup bagi seorang manusia untuk memikirkan ada apa dibalik senyum musuhnya. Percayalah, berapa banyak musuh anda yang akan berbalik mejadi teman dekat hanya karena gara-gara senyum? Bukankah setiap berkurangnya satu musuh, berarti berkurangnya seribu kerugian?! Lalu, bertambahnya satu teman berarti bertambahnya seribu keuntungan?! Perasaan yang benar-benar istimewa setelah anda berikan senyum anda adalah saat mereka berkata, “Tahukah kamu bahwa senyummu membuat aku tak bisa melupakanmu?” Nah, tuh!

Itulah hasilnya kalau anda memberi, sekalipun hanya satu senyum. Apalagi kalau memberi sudah jadi bagian hidup anda, anda pasti akan diliputi macam-macam kebahagiaan dan kebanggaan yang sebelumnya tidak anda rasakan. Anda akan ketagihan memberikan milik-milik anda yang lain, seperti kesabaran, perhatian, rasa iba, empati, pendengaran, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Kalau sudahbegitu, sulit bagi anda untuk tidak berbagi harta dengan orang msikin. Sulit bagi anda untuk tidak memperhatikan keluhan teman-teman anda yang ingin curhat. Sulit bagi anda untuk tidak bersabar atas perilaku naif musuh-musuh anda karena anda sudah benar-benar merasakan manisnya kesabaran. Sulit bagi anda untuk tidak berusaha keras, karena disana, di dalam perjuangan, anda menemukan nilai yang tinggi untuk diri anda sendiri. Sulit bagi anda menolak keberuntungan. Anda pasti akan jadi orang yang merasa sangat berarti. Anda merasa bahwa keberadaan anda di dunia ini jadi sangat dibutuhkan. Selain di dunia anda merasa tenteram dan merasa jadi orang yang berarti, di akhirat kelak, berkali-kali lipat pahala yang diberikan Allah untuk anda.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari buku Nyari Identitas Diri Karangan M. Ikhsan Hal. 173-178 dengan perubahan 
 
YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam