logo blog

Memangnya Harus Jadi Orang Sempurna Dulu Baru Boleh Menasihati?

Seringkali ketika kita melihat suatu kemungkaran dilakukan dan kita mau menasihati orang yang berbuat kemungkaran tersebut agar tidak melanjutkan perbuatan dosanya, terkadang kita sering mendengar suara-suara nyeleneh dari orang-orang disekeliling kita, misalnya: "Yaelah, sok suci lu, urus aja diri sendiri, gak usah ngurus orang lain", atau "benerin dulu diri lu sendiri, baru ikut campur urusan orang."

Contohnya seperti ini:



Yang jadi pertanyaan, apakah Islam mengajarkan seperti itu? Jelas tidak! Berikut ini sabda Nabi Muhammad s.a.w:

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)

Pelajaran yang terkandung dalam hadist ini di antaranya adalah:
  1. Menentang pelaku kebatilan dan menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.
  2. Ridha terhadap kemaksiatan termasuk di antara dosa-dosa besar.
  3. Sabar menanggung kesulitan dan amar ma’ruf nahi munkar.
  4. Amal merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya keimanan.
  5. Mengingkari dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan dan lisan berdasarkan kemampuannya.
Dan Hasan al-Bashri pun pernah berkata: "Seekor unta dibunuh oleh satu orang, tetapi Allah akan menggeneralisasi siksa kepada suatu kaum karena mereka membiarkan kemaksiatan terjadi di depan mereka."

Jadi Bagaimana yang Benar?

Hendaklah kita saling menasihati satu sama lain. Kalau kita menunggu sampai menjadi manusia suci yang tidak berdosa dulu, yang ada malah gak bakalan ada lagi orang-orang yang memberikan nasihat di muka bumi ini, karena memang semua manusia di dunia ini sudah kodratnya terkadang melakukan dosa. Kalau kita melihat teman kita melakukan kesalahan, ya tegur saja dan nasihati dengan lemah lembut. Dan juga, hendaklah kita memberikan nasihat secara diam-diam, tidak terang-terangan di hadapan orang lain. Sebab, manusia pada umumnya tidak mau menerima nasihat apabila diberikan di hadapan orang lain karena hal itu dapat mempermalukannya atau mengesankan kerendahan dan kehinaannya. Nah karenanya, bisa-bisa bangkitlah keangkuhannya sehingga menyebabkannya menolak nasihat yang kita sampaikan. Nasihat pada kondisi tersebut sama dengan membongkar aib dan nasihat ini hampir semakna dengan merendahkannya. Dan para ulama salaf pun membenci perbuatan amar ma’ruf nahi munkar dengan bentuk merendah-rendahkan di hadapan orang banyak dan mencintai jika memberikan nasihat secara diam-diam. 

Demikian juga kalau kita berbuat salah, maka ketika teman kita menegur kita, jangan kita malah marah-marah dan mengatakan kalau teman kita itu sok suci. Hendaklah kita renungkan nasihatnya dan berterima kasih padanya, karena dia telah menjauhkan kita dari perbuatan tercela, dan itu juga menunjukkan bahwa dia peduli dengan kita. Orang seperti itulah yang disebut sebagai sahabat sejati. Sahabat sejati bukanlah orang-orang yang membiarkan kita terjerumus dalam maksiat dan malah ikut-ikutan berbuat maksiat, namun sahabat sejati adalah orang yang meluruskan dan menunjukkan kesalahan kita. 

Hasan al-Bashri juga pernah berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. (Mawai’zh lilImam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185 )

Demikian tulisan ini, semoga setelah membacanya kita jadi lebih sabar dan bisa menerima nasihat dan kritik yang membangun dari orang lain.

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page: facebook.com/LampuIslam