logo blog

Larangan Berhijab




Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: @malakmalakmal

Setelah membaca timeline Twitter-nya Cyo Oktavia, saudari kita yang resign dari pekerjaannya karena dilarang berhijab. Allaahu Akbar! Sampai sekarang masih saja ada orang yg dipaksa oleh pemberi kerja untuk melepas hijab. Kemanakah toleransi? Di negeri yang mayoritasnya Muslim ini harga diri wanita terus-menerus diinjak-injak. Kemana saja para pejuang toleransi? Orang mau berhijab malah dilarang. Eh Luthfi Assyaukanie (tokoh Islam Liberal) malah bilang yang pakai hijab di luar shalat dan pengajian itu bodoh. Tolerankah ini? Kemana utopia di film "?" (Tanda Tanya)? Pemberi kerja non-Muslim yg sangat toleran pada pegawainya yg Muslim/Muslimah? Seberapa besar kasus seperti itu terjadi pada kehidupan kita sehari-hari? Jadi apakah film "?" itu utopia atau propaganda? Atau tidak tahu realita yang sebenarnya? Kemana para aktivis feminis ketika para Muslimah dipaksa buka hijab? Para Muslimah ini harga dirinya tinggi. Mereka tidak rela auratnya dilihat oleh orang-orang yang tidak berhak. Sekarang orang memaksa mereka untuk membukanya! Bayangkan, wanita DIPAKSA UNTUK MEMBUKA AURAT! Dan para aktivis HAM/feminis hanya diam saja? Unbelievable! "Hey, buka hijabmu! Aku mau lihat rambut dan lehermu! Kalau tidak mau, keluar saja dari tempat kerja ini!" Apakah ini tidak melanggar HAM? "Hey, rokmu jangan terlalu panjang! Pelanggan harus lihat pahamu!" "Hey, bajumu jangan terlalu longgar! Perlihatkan bentuk tubuhmu!" Dan tidak ada yang merasa bahwa semua ini adalah pelecehan? Sinting!

Larangan berhijab itu sama saja dengan perintah untuk membuka aurat. Ini melanggar HAM. Pelakunya melecehkan Muslimah. Mereka malu memperlihatkan auratnya, tapi dipaksa atasan untuk mempermalukan diri sendiri. Wah, toleran sekali ya? "Hey, buka auratmu! Buat apa kami rekrut pegawai wanita kalau tidak bisa lihat auratnya?" Sinting, bukan? "Perlihatkan auratmu! Pegawai wanita tidak penting kinerjanya, yg penting tubuhnya!" Apakah bukan pelecehan namanya? "Tidak penting kamu itu pintar. Yang penting saya bisa lihat aurat kamu!" Pemberi kerja macam apa ini?

Teman-teman, larangan berhijab itu bukan hanya sekedar larangan. Kalau pemberi kerja melarang hijab, seolah-olah ia ingin katakan bahwa aset terpenting dari pegawai wanita adalah auratnya. Seolah-olah ia ingin katakan bahwa pegawai Muslimah itu direkrut karena auratnya, bukan karena kemampuannya. Pada hakikatnya ini adalah pelecehan. Kalau begitu, kapan wanita bisa setara dengan pria di dunia kerja? Never, selama pelecehan seperti ini masih terjadi. Maka, janganlah bangga punya karir tinggi jika harus gadaikan agama. Jangan pula takut kehilangan rezeki dengan memegang teguh prinsip agama. Rezeki datang dari Allah, porsi rezeki kita tidak akan tertukar dengan orang lain. Banyak Muslimah berhijab yang jauh lebih berprestasi dgn hijabnya. Bu Yoyoh Usroh berani ke Palestina. Bu Ledia Hanifa berangkat ke Myanmar. Yang hobi perjuangkan rok mini malah tidak terdengar prestasinya.

Ibu Yoyoh Usroh

Ibu Ledia Hanifa

Lihatlah kontes-kontes beauty pageant di Indonesia. Sekarang malah ada penghargaan untuk wanita berkulit indah segala. Lenggak-lenggok memamerkan aurat dianggap berprestasi. Sementara itu yang pakai hijab sudah melanglang buana kemana-mana, sejajar dengan kaum pria. Hijab adalah statement bahwa penggunanya merasa auratnya terlalu berharga untuk dilihat oleh orang-orang yang bukan muhrimnya. Apakah kerja orang-orang yang perjuangkan “hak” untuk buka aurat? Ya kerjanya seputar aurat saja.

Kepada saudari-saudariku yg ditekan karena berhijab, percayalah bahwa kalian tidak sendiri. Allah selalu bersama kalian. Kepada saudari-saudariku yg belum berhijab, buka dan lapangkanlah hati, insya Allah dimudahkan. Aamiin...

Dikutip dari Twitter Akmal Sjafril dengan perubahan.

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam