logo blog

Akhlaq Hina

Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Hari ini saya agak banyak membicarakan komen-komen tak beradab yang contohnya diambil dari Timeline Twitter. Ada beberapa komen yang membuat saya merasa perlu meluruskan sedikit, supaya logikanya jelas. Pertama, background-nya memang soal pilkada yang bikin heboh. Tapi yang saya bicarakan bukan itu. Yang saya bicarakan adalah perilaku hinanya.

Jadi, terserah saja mau memihak pada kubu yang mana. Asal jangan lakukan perbuatan hina macam begini. 


Apalagi kalau pelakunya selama ini mengaku sering bicara soal etika, moralitas, suka diskusi, dan menghargai perbedaan. Nah sekarang ketahuan bohongnya.
Nabi s.a.w gak pernah bicara kasar. Kalau marah memang pernah, melaknat pun pernah, tapi mulutnya gak kotor seperti ini. 



Di zaman Nabi s.a.w ada yang dirajam karena berzina, tapi yang ikut merajam dilarang memaki. Itulah akhlaq hina. Saya selalu bilang, manusia gak akan melakukan perbuatan hina sebelum ia sendiri menerima bahwa dirinya hina. Manusia gak akan menyontek, misalnya, sebelum ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia bodoh. Manusia gak akan curang sebelum ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia tak bisa sukses dengan jujur. Maka, orang yang melakukan perbuatan hina sesungguhnya telah menghinakan dirinya sendiri. Lain dengan orang terhormat, takkan mau melakukan perbuatan hina, karena hal itu akan membuatnya turun derajat.

Manusia harus ingat posisinya di antara dua hal: sebagai hamba Allah dan sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah). Sebagai hamba Allah, dia tidak boleh berperilaku sombong. Tapi sebagai khalifah Allah di muka bumi, dia tidak boleh merendahkan dirinya dengan perbuatan-perbuatan hina. Kalau menyadari posisi sebagai wakil Allah, apakah orang bisa seenaknya bersikap?
 

Kalau merasa sebagai wakil Allah, apakah tega mengotori lisan (atau timeline Twitter) dengan kata-kata begini?


Kalau memang khalifah Allah (dan diasumsikan mengenal Allah), apa bicaranya seperti ini? Seluruh dunia menyaksikan, manusia pun bisa membedakan siapa yang hina dan menghinakan dirinya sendiri. Maka, kata Nabi s.a.w, "Jika tidak lagi merasa malu, perbuatlah semaumu." Ya, kalau tidak malu, mau diapain lagi? Kalau manusia merendahkan dirinya ke bawah derajat hewan, apa bisa kita 'paksa' dia menjadi manusia? Semoga Allah jauhkan kita dari perbuatan-perbuatan hina yang akan menghinakan diri kita sendiri... Aamiin...


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam