logo blog

Dualisme Pemikiran Sekuler


Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Dalam jiwa orang-orang sekuler kita sering menjumpai dualisme. Di satu sisi mengakui kebaikan, di sisi yang lain condong pada kemaksiatan. Sekarang ini banyak yang berpikiran absurd. Maksiat dibungkus secantik-cantiknya supaya kelihatan baik.

Kosakata melambangkan konsep. Kita bisa tau kerusakan pemikiran dari bahasanya. Yang sering dibahas: pelacur menjadi WTS, lalu menjadi PSK, lalu menjadi kupu-kupu malam. Perubahannya drastis. Pelacur sudah pasti negatif. Kemudian berubah jadi WTS (Wanita Tuna Susila), padahal kata "tuna" digunakan untuk disabilitas. Berubah lagi jadi PSK (Pekerja Seks Komersial). Disini melacur jadi profesi, dan pelakunya adalah 'pekerja'. Kemudian berubah lagi jadi kupu-kupu malam. Apa salahnya kupu-kupu bos? Mereka tidak melacur! Perubahan kosa kata ini menunjukkan perubahan konsep.

Sekarang, pelacuran tidak dianggap nista lagi. Coba ke toko buku. Ada saja beberapa judul yang isinya membela para pelacur. Kemudian orang diajak fokus pada masalah ekonomi. Memangnya pelacuran cuma masalah ekonomi? Orang lupa bahwa laki-laki yang pergi ke pelacuran berpotensi membawa penyakit ke keluarganya. Apa cuma penyakit saja masalahnya? Kalau ya, kan ada kondom! Begitu pikiran orang-orang sekuler. Tapi kalaupun gak kena penyakit, apa pengkhianatan terhadap istri dengan pergi ke pelacuran itu bisa dianggap selesai? Asumsikanlah istri mau memaafkan. Bagaimana dengan ayahnya yang dulu menikahkannya dengan dia? Apa dia rela putrinya dikhianati? Bagaimana dengan anak-anak mereka? Apa mereka rela ayahnya pergi ke pelacuran dan menyakiti ibu mereka? Itulah sebabnya dalam Islam pezina yang sudah menikah itu mengerikan sekali hukumannya. Jangan bilang merajam itu kejam. Mengkhianati pasangan itu justru yang sangat-sangat kejam.

Di Barat, kondom dibagi-bagikan tapi masalah tak kunjung selesai. Orang depresi karena keluarga hancur itu sering sekali terjadi. Manusia bukan seonggok daging yang hanya mementingkan kesehatan tubuh. Jiwa juga harus dijaga tetap sehat. Kerancuan konsep begini sering terjadi diantara orang-orang sekuler. Mereka sulit membedakan yang haq dan yang bathil. Akal yang rusak memang jadi sukar membedakan. Mereka menyebut pezina sebagai pecinta, pelacur dianggap sebagai pekerja, orang gila dianggap berpikir kreatif. Inilah dunianya kaum sekuler. Mereka tidak selesai-selesai memikirkan segala hal. Segalanya didekonstruksi. Orang-orang sekuler rajin bermaksiat, tapi kadang ahli juga berbicara seperti orang saleh. Ulama yang menyuruh menutup aurat disebut mesum. Padahal yang berbicara seperti itulah yang perilaku sehari-harinya mesum. Artis pamer aurat dianggap profesional, tapi pemerkosaan marak sekali di negeri-negeri sekuler. Pedofili dibenci dan korupsi mereka musuhi, tapi ketika dikasih solusi dengan hukuman yang membuat pelakunya jera malah menolak dengan alasan HAM.

Segalanya tidak pernah selesai dalam pemikiran sekuler, tidak ada solusinya. Semuanya kacau. Mereka terbiasa mencari pembenaran, bukan solusi, makanya, masalahnya nggak beres-beres. Mirip Bani Israil yang mengemis-ngemis minta pemimpin, tapi setelah diturunkan Nabi, mereka malah membangkang. Orang-orang sekuler bilang agama itu suci, dan politik itu kotor. Maka mereka berkata agar agama jangan mengurusi politik. Itu pernyataan orang tak berakal. Kalau agama itu suci, kenapa dia memilih untuk jadi sekuler? Lalu mereka ngeles dengan mengatakan bahwa sekuler itu untuk urusan dunia. Okelah, trus kenapa dia ingin dunianya gak suci? Aneh! Lalu kalau politik itu mutlak kotor dan gak mungkin bersih, kok dia mau berpolitik? Doyan dengan yang kotor-kotor, begitu? Kalau begini, sudah tidak jelas lagi makna "suci" dan "kotor." Normalnya yang suci itu disukai dan yang kotor tidak disukai. Manusia sudah bukan manusia lagi kalau berpikir sebaliknya.

Memang sejak awal sekularisme sudah rancu dan dualis. Makanya cara berpikirnya serba tidak nyambung. Mereka bukan hanya menganggap dunia dan akhirat itu TERPISAH, tapi juga menganggap keduanya TAK BERHUBUNGAN. Mereka percaya Allah menciptakan segalanya, tapi gak mau kalo Allah mengatur segalanya. Mereka percaya akhirat, tapi maunya amal-amal saleh cuma dihitung dari ibadah mahdhah-nya saja. Maka, untuk hal-hal di luar ibadah mahdhah, mereka mengabaikannya. Tapi ketika mereka dibilang gak beriman ya marah juga. Ketika agama memberi solusi yang tepat, mereka menolak. Sebab maunya mereka, agama cukup mengurus ibadah mahdhah saja. Mereka ngotot mengatakan bahwa akal bisa menyelesaikan segalanya. Padahal masalahnya gak beres-beres dan makin runyam. Lalu mereka bilang "kami adalah kaum yang terus mencari kebenaran". Padahal kebenaran itu ada di depan mata, tapi hawa nafsu menolak.

Kasihan, sudah jadi Muslim puluhan tahun belum juga merasa yakin. Kasihan, sudah Muslim sejak lahir tapi belum juga merasakan lezatnya iman. Celaka, sudah dikasi solusi tapi memilih hawa nafsu. Akhirnya masalahnya gak selesai-selesai. Semoga kita dijauhkan dari cara berpikir dualis yang serba tak tuntas. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin...


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam