logo blog

Kasih Sayang Ibu

Oleh: Salim A. Fillah  ||  Twitter: twitter.com/salimafillah

Pertama kali kau menyapaku tanpa suara tetapi sangat asih. Dari diriku yang paling dalam, aku disini ibu. (Rene Van DeCarr).

Bagi jiwa perempuan penuh yang kasih, menjadi ibu adalah mimpi yang dilatih dengan kerinduan, cinta, dan asahan rasa. Ia mencahaya dalam jiwa. Seruak cita itu adalah fitrah terindah yang dikaruniakan Allah. Kecenderungan, rasa, dan kemuliaan! Seorang ibu mulia dengan tapak kaki juangnya, sebab tak seorang pria pun termuliakan begitu tinggi sampai-sampai surga berada di telapak kakinya. Demi Allah, tak seorang lelaki pun, melainkan seorang ibu.

Ibu adalah panggilan yang begitu menggetarkan, mengharu-biru, menggemakan rasa terdalam di lubuk rasa setiap wanita. Ia menggeletarkan cinta. Ada imaji surgawi & gairah hayat menggelora setiap kali kata tiga huruf itu diteriakkan oleh sosok-sosok mungil yang menyambut kehadiran seorang ibu! Ibu adalah madrasah cantik, tempat anak-anak mempertanyakan alam semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak, dan keingintahuan paling dalam.

Ibu adalah dermaga paling tenang tempat melabuh hati saat mereka merasa teraniaya. Seorang ibu membelai paling menenteramkan saat mereka gelisah. Ibu adalah dekapan paling memberi rasa aman saat ketakutan. Dia bahu paling kukuh untuk merebah, bertahan dari amuk badai kesedihan.

Ibu adalah perpustakaan terlengkap, kelas ternyaman, gelanggang terlapang. Tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tanpa nyawa. Ibu adalah panggilan yang meneguhkan keutamaan; diulangkan, didahulukan. Sang Rasul menyebut ibumu tiga kali di depan, ayahmu menyusul kemudian.

Ibu adalah panggilan perjuangan. Cantik nian senyumnya walau dia merasa pegal membawa kandungan, susah ketika tidur, kakinya bengkak, dan perutnya mual tak tertahan. Ibu adalah panggilan kepahlawanan. Seribu sakit berhimpun, tulang berlolosan, syaraf tercabik, robekan pedih, darah bersimbah, namun dia tersenyum. Ibu, degub jantungnya menenangkan saat kita didekapnya mesra, dia relakan jiwa raganya diserap untuk memberi hidup pada makhluk nan baru.

Ada pemuda nan berbakti pada ibunya di masa ‘Umar. Dia menyuapi, mengipas lalat, mengelap peluh, memandikan, dan mengurus segala hajat kotoran ibunya. Pemuda itu menggendong ibunya di sepanjang jalan. Setiap kali dia berhenti, dia merangkak melengkungkan badannya untuk melindungi sang ibu dari mentari dan terpaan hujan. Dia bertanya “Cukupkah semua yng kulakukan ini untuk membalas segala kebaikan yang ibuku lakukan di waktu kecilku? “Tidak, sama sekali tidak!”, jawab ‘Umar berkaca-kaca. “Sebab ibumu dulu melakukan semua itu sambil berdo’a bagi kehidupanmu, sementara enganda kini melakukannya sembari menanti kematiannya.”

Ada wanita yang kini enggan menjadi seorang ibu. Maka kemuliaan pun enggan menyapa, seirama anggapan wanita-wanita seperti itu bahwa anak adalah belenggu. Ketika kata “ibu” dianggap neraka atau penjara, mereka tertuntun memasuki jerat kesendirian yang menuakan, menghampakan, dan mematikan. Ketika kata “ibu” diabaikan, ia enggan menyediakan dermaga tempat para wanita menambat perahu hati, berlabuh dari galaunya kehidupan.

Mungkin memang tak sederhana. Sebab menjadi ibu adalah anugerah yang tak semua wanita dapat meraih keagungannya. Bahkan imanpun, tak bisa menjaminkan. Sebagaimana Aisyah. Dia adalah ummul mukminin, ibu dari semua orang beriman. Tetapi pernahkah dia mengandung, melahirkan, menyusui, menimang sibir tulang? Tidak. Aisyah tak diberi Allah luap rasa yang melekati hakikat kata ibu itu. Tapi rindu dan kesabaran hati adalah jua kesempatan berpahala.

Di lain hal, kegelisahan, kecemasan, malu, dan pilu hati jika panggilan ibu itu tak segera hadir adalah ujian lain yang menyesakkan. Alasan kesehatan, gangguan organ, serangan kuman, usia rawan persalinan, menjadi gurita kecemasan lain yang mencoraki ujian menjadi seorang ibu.

Allah menjawab doa hamba-hamba-Nya; istri Ibrahim dengan si shalih Ishaq, istri Imran dengan si suci Maryam, istri Zakariya dengan si alim Yahya. Mereka rayakan syukur karunia setelah penantian yang panjang, tubuh nan uzur, uban memutih, doa menghiba, dan rasa yang tersembilu. Menjadi ibu, kadang adalah ujian yang membuat teragukannya suci dan ibadah nan terjaga, seperti yag dialami Maryam (Maria), ibunda Isa (Yesus).

Begitulah karunia besar nan disyukuri, Isa (Yesus) nan tiada duanya; selalu jua merupakan ujian besar yang harus dihadapi dengan sabar oleh ibunya. Menjadi ibu; melahirkan ataupun tidak; ba’da ikhtiar paling gigih, doa paling tulus, dan tawakkal paling pasrah, adalah kemuliaan utuh.

Menjadi ibu yang hakiki, agar bidadari cemburu padamu, maka pahamlah kita; anda takkan tersaingi oleh jelita surgawi itu selama-lamanya.

Terima kasih kepada follow4ku.wordpress.com. Dipublikasikan kembali oleh cooltwit.wordpress.com

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam