logo blog

Ketika Musuh Islam Kehilangan Akal



Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Saya mau sharing sekilas tentang pelajaran dari Sirah Nabawiyah. Perjalanan dakwah Nabi s.a.w tidak pernah sepi dari hambatan, bahkan siksaan. Sepanjang masa, tabiat dakwah memang demikian. Semua buku seputar Fiqih Dakwah niscaya mengatakannya. Ada masa-masanya di mana dakwah berada di bawah tekanan, ada pula masanya di atas angin. Panjangnya masa penindasan dakwah di Mekkah dan fase jihad membuat kita sering kehilangan perspektif. Yang saya maksud adalah: kita hanya menyoroti aspek-aspek tertentu saja dari masa-masa itu sehingga ada hal-hal yang kita lewatkan.

Ada banyak hal menarik yang saya jumpai ketika belajar Sirah Nabawiyah dengan Ustad Asep Sobari di INSISTS. Sebenarnya, sejak awal, dakwah Nabi s.a.w selalu membuat musuh-musuh Islam hilang akal. Sejak awal, dakwah Nabi s.a.w terbebas dari ashabiyah golongan. Maka, dari setiap kabilah, ada pengikut beliau. Hal ini membuat peta politik Mekkah kacau. Sebab, mengganggu dakwah Nabi s.a.w berarti berhadapan dengan pemuda dari semua kabilah.

Selain itu, fase awal dakwah Nabi s.a.w ditandai dengan perekrutan dengan seleksi ketat. Maka, meski masih sedikit, namun yang pertama mendukung dakwah Nabi s.a.w adalah para pemuda yang cerdas. Ada Abu Bakar r.a yang dihormati, ada 'Utsman r.a yang saudagar, ada Mush'ab r.a yang cerdas dan rupawan, dan seterusnya. Inilah basis utama pendukung dakwah Nabi s.a.w. Dakwah dikuatkan oleh orang-orang yang kuat meski masih kalah jumlah.

Sejarah mencatat kehadiran Abu Lahab yang hilang akal. Ia berkata "tabban laka", Qur'an pun membalasnya "tabbat yadaa abii lahabin watabb!" Ada Abu Jahal (Bapak Kebodohan) yang dulunya dikenal sebagai Abul Hakam (Bapak Kebijaksanaan). Mereka goda Nabi s.a.w dengan berbagai nikmat dunia, tapi ditolak. Mereka ajak Nabi s.a.w mengkompromikan 'aqidahnya, malah turun Surah Al-Kaafiruun yang menghardik mereka. Semakin hilang akal, mereka kemudian memfitnah Nabi s.a.w sebagai tukang sihir padahal semua tahu beliau mereka juluki Al-Amin (orang yang terpercaya). Semakin panik, mereka pun main fisik. Pengikut Nabi s.a.w mulai disiksa. Apa dinyana, Allah s.w.t berkenan memperkuat dakwah dengan kehadiran Hamzah r.a dan 'Umar r.a. Dua orang yang setara seperti dua ratus orang! Sudah benar-benar hilang akal, Abu Jahal menyerukan boikot ekonomi, tanpa persetujuan semua kabilah. Kesalahan Abu Jahal inilah yang kemudian membuat boikot dihentikan. Banyak kabilah yang tidak sampai hati.

Ditindas di Mekkah, ternyata dakwah berbunga di Yatsrib (Madinah). Maka diserukanlah hijrah. Tapi mereka yang sudah hilang akal ini tidak juga mengizinkan Nabi s.a.w. Mereka bersiasat untuk membunuh beliau di tempat tidurnya. Diajaklah para pemuda dari semua kabilah, supaya pembunuhan ini jadi 'kejahatan bersama', tapi toh gagal juga. Ketika 'Umar r.a masuk Islam, beliau katakan pada orang-orang musyrik bahwa jika jumlah Muslim sudah tiga ratus orang, mereka akan menang. Allah memberkahi 'Umar r.a dengan firasat yang benar. Di Perang Badar, tiga ratus Muslim berhasil mengalahkan seribu musuh. Yang membaca Sirah Nabawiyah dengan teliti pasti tahu bahwa umat Muslim sebenarnya tidak siap berperang di Badar. Bagaimanapun, mereka menang, walau kalah jumlah. Dan ini membuat musuh makin hilang akal. Di Perang Uhud, memang ada kesalahan fatal, tapi hasil akhir sesungguhnya hanya seri, bukan kalah, apalagi kalah mutlak. Setelah pasukan Muslim mundur ke Madinah, ternyata kaum musyrikin tidak mengejar. Kaum musyrikin pun terpukul. Inilah yang namanya hilang akal.

Setelah itu terjadi Perang Ahzab. Berbagai kabilah bersatu menggempur kaum Muslimin. Dahsyat! Meski jumlah mereka sangat besar, tapi pahamilah bahwa sesungguhnya ini adalah bukti bahwa mereka telah kalah mental. Orang Arab Jahiliyyah sangat fanatik dan membanggakan kabilahnya sendiri. Mereka tidak terbiasa menyatukan kekuatan seperti di Perang Ahzab. Bersatunya musuh-musuh Islam di Perang Ahzab adalah bukti bahwa mereka tak mungkin menang jika sendirian. Dan sudah barang tentu, meski kekuatannya bersatu, namun hatinya masih berpecah. Inilah ashabiyah. Dengan iman yang kuat, barisan yang solid dan taktik yang hebat, akhirnya umat Muslimin menang lagi di Perang Ahzab.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran dari dua sisi. Pertama, jalan dakwah yang benar. Dakwah dilakukan dengan ilmu, dengan kekuatan kader-kader terpilih. Kita bisa menang jumlah dengan berbagai 'jalan pintas', tapi bukan itu yang kita cari. Dakwah harus dimenangkan dengan cara yang benar. Untuk itu, butuh proses, dan proses butuh waktu. Kemenangan akan datang, bi’idznillaah. Kedua, kita belajar memahami perilaku musuh-musuh dakwah, melihat tanda-tanda terjadinya hilang akal di antara mereka. Jika mereka sudah mulai berkata-kata kasar atau kotor seperti Abu Lahab, itu tandanya mereka sudah hilang akal. Jika fitnah ditebar sehingga orang terbaik seolah-olah menjadi yang terburuk, tandanya mereka hilang akal dan tak bisa lagi melayani argumen-argumen kita. Jika mereka sudah main fisik, menyiksa, dan membunuh, artinya mereka sudah benar-benar hilang akal menghadapi dakwah. Dan jika para pengusung ideologi yang berbeda-beda kepentingannya sudah menyatukan kekuatan, yakinlah bahwa mereka sudah benar-benar hilang akal. Orang yang sudah hilang akal akan menghalalkan segala cara.  Tentu kita tidak boleh melakukan hal yang sama. Jangan tertipu dengan materi dan hal-hal yang bersifat fisik. Musuh-musuh Islam mungkin sejenak di atas angin, namun sesungguhnya mereka yang hilang akal akan jatuh juga.

Itulah sebabnya banyak ulama yang mengatakan bahwa siksaan kepada umat ini menunjukkan bahwa kemenangan telah dekat. Musuh sudah panik dan hilang akal. Mereka menghalalkan apa saja. Tapi kita harus sabar, sebab kita tidak bersifat seperti mereka. Semoga Allah memberi kita kesabaran agar istiqamah di jalan dakwah. Aamiin.


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam