logo blog

Ketika Syi'ah Melakukan Taqiyyah


Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Saya ingin menekankan kembali bahwa perbedaan tajam antara Ahlu Sunnah dan Syi’ah, yaitu tentang masalah imamah (kepemimpinan). Bagi Ahlu Sunnah, para Khulafaur Rasyidin terpilih berdasarkan ijma’ (kesepakatan bersama). Tapi dalam pandangan Syi’ah, ‘Ali r.a yang berhak memimpin, dan ini masalah ‘aqidah. Maka, sejak awal kita sudah bisa memahami siapa yang duluan menebar bibit kebencian. Bagi Ahlu Sunnah, jika ada yang menganggap ‘Ali r.a lebih cocok jadi khalifah, it’s OK. Namanya juga opini. Asal jangan memecah-belah. Tapi bagi Syi’ah, yang tidak setuju mengangkat ‘Ali r.a sebagai khalifah adalah musuh. Sebab ini masalah ‘aqidah. Oleh karena itu, sejak awal ideologi Syi’ah adalah ideologi kebencian. Mereka memendam dendam karena ‘Ali r.a tidak menjadi khalifah pertama, dan dendam itu dipendam berabad-abad lamanya.

“Dendam” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi emosional mereka. Ini lebih daripada sekedar kecewa atau marah. Lihatlah bagaimana mereka melukai diri sendiri dalam perayaan Karbala. Foto-foto dan video-videonya sudah banyak di dunia maya. Mereka menyakiti diri sendiri sebagai ekspresi kemarahan. Konon, kemarahan atas kematian Hasan r.a dan Husain r.a. Muslim macam apa yang tidak sedih mengingat kematian dua cucu Nabi s.a.w tersebut? Tapi kita tidak diajarkan untuk melukai diri karena sedih.

Salah satu ‘batu sandungan’ bagi kalangan Syi’ah adalah sikap ‘Ali r.a sendiri. Sebab, ‘Ali r.a tidak pernah berontak pada ketiga khalifah sebelum beliau. Bahkan beliau sangat mendukung para pendahulunya. Untuk itulah kalangan Syi’ah ‘mengkonstruksi’ sebuah doktrin yang kita kenal dengan nama taqiyyah.

Taqiyyah, secara sederhana, berarti ‘menyembunyikan kebenaran dengan alasan keselamatan’. Dalam Islam, memang ada praktik semacam itu, yaitu rukhshah yang diberikan Nabi s.a.w kepada sahabatnya ‘Ammar bin Yasir r.a. Ketika itu, ‘Ammar r.a sekeluarga disiksa dengan sangat kejam. Mereka sekeluarga dipaksa mengucapkan kata-kata kekufuran. Turunlah Qs. An-Nahl[16]: 106 yang memperbolehkan seorang Muslim menyelamatkan jiwanya dengan berpura-pura kafir. Bunyinya sebagai berikut:

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Qs. An-Nahl[16]: 106)

Tentu saja, aturan ini harus dipandang sebagai rukhshah (dispensasi/keringanan), bukan aturan dasar. Jika tak ada yang mengancam, kita tak boleh ucapkan kata-kata kekufuran. Itu aturan dasarnya. Akan tetapi, bagi kalangan Syi’ah, taqiyyah bahkan dijadikan sebagai salah satu doktrin ‘aqidah. Ibnu Babawaih al-Qummi, tokoh Syi’ah mengatakan bahwa taqiyyah itu wajib sebagaimana wajibnya shalat. ‘Kitab hadits’ milik kaum Syi’ah, al-Kafi, menyatakan bahwa 9 dari 10 bagian dalam agama adalah taqiyyah. Bahkan tokoh Syi’ah lainnya mengatakan bahwa meninggalkan taqiyyah adalah dosa yang tak terampuni.

Doktrin taqiyyah ini terbukti sangat strategis untuk penyebaran paham Syi’ah. Doktrin taqiyyah, misalnya, dapat digunakan untuk menjelaskan sikap ‘Ali r.a yang tidak memberontak pada khalifah-khalifah sebelum beliau. Menurut kaum Syi’ah, sikap ‘Ali r.a tersebut tidak lain hanya taqiyyah belaka. Kata mereka, ‘Ali r.a sebenarnya tidak ridha dengan kepemimpinan mereka, namun beliau melakukan taqiyyah.

Taqiyyah juga memiliki fungsi strategis untuk membenarkan imam-imam kaum Syi’ah. Sebab, dalam doktrin Syi’ah, para Imam tersebut bersifat ma’shum (tidak mungkin salah). Bagaimana kalau imam-imamnya mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan doktrin Syi’ah? Ya, mereka dikatakan sedang ber-taqiyyah.

Kita ambil contoh sikap kaum Syi’ah kepada para sahabat Nabi s.a.w, mulai dari Khulafaur Rasyidin sampai ‘Aisyah r.a. Di Youtube, dengan mudah kita dapat jumpai video-video yang memperlihatkan tokoh-tokoh Syi’ah melaknat para sahabat Nabi s.a.w. Tidak perlu jago bahasa Arab. Kalau ada kata “’Umar, la’natullaah ‘alaih!”, paham kan artinya? Video-video tersebut jumlahnya sangat banyak, beredar bebas di dunia maya. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, kaum Syi’ah mengatakan bahwa tidak ada lagi yang menghina sahabat Nabi s.a.w. Ada yang bilang, Khomeini telah mengeluarkan fatwa haramnya menghina sahabat Nabi s.a.w. Lalu bagaimana dengan video-video rekaman pelaknatan itu? Manakah yang benar? Dengan menggunakan doktrin taqiyyah, mudah saja menjelaskan hal tersebut. Kepada non-Syi’ah, dikatakan bahwa Syi’ah yang benar adalah yang mengikuti fatwa Imam mereka, yaitu Khomeini. Akan tetapi, di kalangan intern Syi’ah, nampaknya semua sudah maklum bahwa Khomeini sedang ber-taqiyyah. Oleh karena itu, mereka terus saja menghujat sahabat Nabi s.a.w, dan masih berlaku sampai sekarang.

Doktrin taqiyyah membuat Syi’ah dan para penganutnya tumbuh dan berkembang diam-diam sekian lamanya di Indonesia. Di Indonesia, tokoh Syi’ah yang paling terkenal mungkin adalah Jalaluddin Rakhmat. Meski demikian, selama bertahun-tahun, ia tak pernah mau dikenal sebagai tokoh Syi’ah. Dulu sering terdengar istilah “Susi”, alias “Sunni-Syi’ah”. Ini istilah main-main kaum Syi’ah, dalam rangka taqiyyah. Hemat saya, doktrin taqiyyah inilah yang membuat persoalan di antara Ahlu Sunnah dan Syi’ah menjadi sangat pelik. Sebab, selama masih memegang teguh doktrin taqiyyah, kita tidak pernah tahu seorang Syi’ah itu sedang bicara jujur atau tidak.

Selama bertahun-tahun, Jalaluddin Rakhmat banyak mengisi pengajian yang dihadiri kaum Ahlu Sunnah. Sebagian orang yang terlanjur ‘kepincut’ dengannya sulit menerima penjelasan bahwa ia memang penganut Syi’ah. Sebelum keributan di Sampang belum lama ini, ia masih mengisi kajian di salah satu masjid terkemuka di Jakarta. Kebetulan saya pun kerap diundang ke sana, dan saya selalu memperingatkan akan bahaya tokoh Syi’ah yang satu ini. Akan tetapi, nasihat tersebut tidak mempan. Baru terjawab setelah insiden di Sampang. Ketika itu, Jalaluddin Rakhmat tampil dengan menampakkan identitasnya sebagai penganut Syi’ah. Semua mata terbuka. Setelah itu, ia tak lagi mengisi kajian di masjid tersebut, Alhamdulillaah. Insiden di Sampang memang merupakan ‘point of no return’ untuk kalangan Syi’ah. Insiden ini mereka gunakan untuk merebut simpati. Tapi di sisi lain, bangunan taqiyyah yang mereka dirikan secara otomatis rubuh.

Selain Jalaluddin Rakhmat, muncul pula Haidar Bagir. Sekarang, semua orang tahu ia Syi’ah. Haidar Bagir adalah pendiri penerbit Mizan yang cukup sukses mempenetrasi pasar pecinta buku di Indonesia. Ada artikel bagus yang mengungkap taqiyyah-nya Jalaluddin Rakhmat: Membaca Kerancuan Jalaluddin Rakhmat. Ada pula dokumentasi yang bagus dari Fathi Nasrullah atas perdebatan di Republika beberapa waktu yang lalu: Perang Opini di Republika Antara Haidar Bagir, Mohammad Baharun, dan Fahmi Salim. Perdebatan tersebut melibatkan Haidar Bagir, Adian Husaini, Fahmi Salim, M. Baharun dan lain-lain. Harus bermanfaat untuk dibaca!

Selama Syi’ah tidak mau meninggalkan doktrin taqiyyah-nya, maka selamanya dialog yang jujur takkan terlaksana. Terkait permasalahan di Sampang, penyelesaiannya justru harus dimulai dengan kejujuran. Jika ada aksi kekerasan yang dilakukan oleh massa, tentu perhatian kita tak hanya terfokus pada kekerasan tersebut. Apa sebabnya massa mengamuk? Ini perlu diselidiki. Jangan-jangan, ada provokasi. Satu orang marah, itu biasa. Tapi kalau satu kampung, harus dicari sumber masalahnya. Jika kalangan Syi’ah, misalnya, melaknat para sahabat Nabi s.a.w, bukankah wajar terjadi kerusuhan?

Bagi seorang Muslim, Nabi s.a.w dan para sahabatnya dicintai sebagaimana anggota keluarganya sendiri. Jika kita mendengar Abu Bakar r.a, ‘Umar r.a, ‘Utsman r.a, atau ‘Aisyah r.a dilecehkan, sakitnya bukan kepalang. Bagi saya sendiri, lebih mudah mendengar nama saya dilaknat ketimbang nama Khulafaur Rasyidin dilaknat. Ini harus diselidiki. Jika memang ada provokasi semacam ini, maka tidaklah heran jika warga mengamuk. Akan tetapi, apakah penyelidikan itu dilakukan? Apakah dialog yang jujur itu dilaksanakan?

Bicara soal taqiyyah, ada juga satu masalah lainnya yang mengemuka. Banyak yang bertanya, “Jika Syi’ah sesat, kok masih dibolehkan naik haji?” Jawabannya, menurut saya, sederhana saja. Sebab jika mereka ditanya agamanya, mereka tidak jawab “Syi’ah”, melainkan “Islam”. Apakah orang yang mengaku agamanya Islam bisa dicegah masuk ke Tanah Suci? Karena ia warga negara Iran, lantas tak boleh masuk Tanah Suci? Padahal di Iran pun ada Ahlu Sunnah. Di sisi lain, bukan kebiasaan ulama Ahlu Sunnah untuk meragukan pernyataan keislaman seseorang.

Itulah sebabnya doktrin taqiyyah ini membuat perdamaian antara Ahlu Sunnah dengan Syi’ah menjadi sulit terealisasi. Sulit bagi seorang Muslim yang memuji para sahabat Nabi s.a.w untuk bersahabat dengan orang yang melaknati mereka. Seperti yang sudah saya tegaskan sebelumnya, insiden Sampang digunakan oleh kaum Syi’ah untuk mencari simpati. Tapi, sebaliknya, ini momentum yang pas untuk membongkar taqiyyah mereka. Marilah kita libatkan diri dalam diskusi-diskusi dan kajian-kajian serius untuk menangkal bahaya pemikiran Syi’ah. Seperti tempo hari, saya merekomendasikan buku keren yang satu ini:



Semoga kita diselamatkan dari penyimpangan ‘aqidah. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin...


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam