logo blog

Mengenal Syi'ah dan Penyimpangannya


Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Pertama-tama, kita perlu memahami apa yang disebut “Syi’ah” itu sendiri. Secara etimologi, “asy-Syi’ah” berarti “pengikut” atau “pendukung”. Secara terminologis, Syi’ah adalah kaum yang berkeyakinan bahwa ‘Ali r.a yang paling berhak menjadi khalifah berdasarkan nash dan wasiat Nabi s.a.w. Ada yang bilang Syi’ah adalah kaum pecinta ‘Ali r.a. Ini tidak tepat. Sebab, setiap Muslim pasti cinta ‘Ali r.a. Kita tidak perlu menjadi Syi’ah untuk menjadi pecinta ‘Ali r.a. Tak perlu juga belajar dari Syi’ah caranya mencintai ‘Ali r.a.

Oh ya, seorang ustadz dari organisasi dakwah INSISTS dulu pernah mengingatkan bahwa kita harus konsisten dalam penggunaan nama. Syi’ah. “Sunni” padanannya adalah “Syi’i”, sedangkan “Ahlu Sunnah” padanannya adalah “Syi’ah”. Jadi, kalau menyebut “Sunni dan Syi’ah”, kurang tepat. Mestinya “Sunni dan Syi’i”, atau “Ahlu Sunnah dan Syi’ah”.

Kita kupas dulu pengertian Syi’ah secara terminologis. Setiap kata perlu dikupas maknanya. Masalah utama dalam wacana Syi’ah adalah klaim imamah, alias kepemimpinan umat. Menurut kaum Syi’ah, ‘Ali r.a yang paling berhak untuk menjadi khalifah sepeninggal Nabi s.a.w. Bukan hanya itu, mereka pun berpendapat bahwa hak ‘Ali r.a tersebut adalah berdasarkan nash dan wasiat Nabi s.a.w. Artinya, menurut Syi’ah, ada dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan bahwa ‘Ali r.a-lah yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi s.a.w. Inilah letak perbedaan yang sangat mendasar antara Syi’ah dengan Ahlu Sunnah.

Abu Bakar r.a, sebagaimana kita ketahui bersama, TERPILIH sebagai khalifah sepeninggal Nabi s.a.w. Tidak ada dalil khusus dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menyebutkan bahwa pengganti Nabi s.a.w HARUS Abu Bakar r.a. Dengan kata lain, bagi Ahlu Sunnah, diangkatnya Abu Bakar r.a sebagai khalifah adalah masalah ijma’. Akan tetapi, bagi Syi’ah, semestinya ‘Ali r.a yang diangkat, dan ini bukan masalah ijma’, melainkan masalah ‘aqidah. Kalau kita berandai-andai, misalnya dulu yang terpilih bukan Abu Bakar r.a, apakah akan jadi masalah? Bagi Ahlu Sunnah, hal tersebut tidak menjadi masalah. Yang penting ia disepakati. Namanya juga ijma’. Tapi, tentu saja, kenyataannya, ijma’ sahabat menunjuk Abu Bakar r.a sebagai khalifah. Itu yang sebenarnya terjadi. Sebaliknya, bagi Syi’ah, jika bukan ‘Ali r.a yang menjadi khalifah, maka telah terjadi pelanggaran serius.

 Jika kita tengok makna awal kata “Syi’ah”, yaitu “pendukung”, sebenarnya tidak ada makna negatif. Satu kelompok dukung Abu Bakar r.a, satu kelompok dukung ‘Ali r.a, no problem. Yang penting, setelah khalifah terpilih, semua kompak kembali, tidak terkotak-kotakkan. Masalahnya, setelah lebih dari seribu tahun berlalu, Syi’ah masih saja mempermasalahkan soal tidak terpilihnya ‘Ali r.a. Apakah ini wajar? Tentu saja sikap seperti ini sangat berlebihan. Bahkan ‘Ali r.a sendiri tidak mempermasalahkan kepemimpinan khalifah-khalifah sebelum beliau.

Karena itu, kebencian menjadi corak utama dalam Syi’ah. Pada akhirnya, hampir semua sahabat Nabi s.a.w mereka kafirkan. Menurut Syi’ah, dari seluruh sahabat Nabi s.a.w, hanya 3 yang tidak murtad sepeninggal beliau, yaitu Miqdad r.a, Abu Dzar r.a, dan Salman r.a. Jangankan para sahabat Nabi s.a.w, istri2 Nabi s.a.w pun disebut murtad, terlebih lagi ‘Aisyah r.a. Adapun 3 khalifah pertama (Abu Bakar r.a, ‘Umar r.a dan ‘Utsman r.a) tentu mendapat tempat ‘spesial’. Abu Bakar r.a dan ‘Umar r.a kerap disebut sebagai “Shanamai Quraisyin” (berhalanya kaum Quraisy). Saking bencinya mereka pada keduanya, mereka pun mensyariatkan do’a khusus untuk melaknatnya. Padahal, ketiga tokoh tersebut adalah bagian dari sepuluh sahabat Nabi s.a.w yang dijamin masuk surga.

Kita semua tahu Abu Bakar r.a. Beliau senantiasa mendampingi Nabi s.a.w dalam segala situasi. Kita pun tahu ‘Umar r.a. Kehadiran beliau menguatkan barisan umat secara signifikan. Kita tahu ‘Utsman r.a. Kata Nabi s.a.w, malaikat saja malu pada ‘Utsman r.a. Akan tetapi, bagi Syi’ah, mereka semua kafir karena 'merebut' kekhalifahan ‘Ali r.a. Mudah ditebak, pada perkembangan selanjutnya, Syi’ah tenggelam dalam sikap berlebihan, dimulai dari berlebihan memuja ‘Ali r.a. Itulah sebabnya mereka melakukan ritual-ritual yang janggal. Contohnya yang melukai diri sendiri dalam perayaan Karbala. Googling saja. (Baca juga: Mengenal Syi'ah Rafidhah).

Selain itu, Syi’ah pun kemudian berkembang menjadi banyak aliran. Aliran yang paling ekstrem, disebut Syi’ah Ghulat, bahkan menganggap ‘Ali r.a sebagai Tuhan itu sendiri. Banyak tindakan Syi’ah yang ekstrem lainnya, karena berakar dari pengkultusan dan kebencian yang kelewat batas.

Kita perlu kembali ke masalah imamah untuk menyimpulkan bahwa inilah sumber masalah Syi’ah yang sebenarnya. Sayangnya, banyak yang mengalihkan isu, seolah-olah Syi’ah dizalimi oleh Ahlu Sunnah. Sesungguhnya, Syi’ah-lah yang sejak awal ‘memisahkan diri’ dari umat Muslim. Bagi Ahlu Sunnah, kepemimpinan itu masalah ijma’. Akan tetapi, mereka membawanya ke wilayah ‘aqidah. Akibatnya, Syi’ah menganggap Ahlu Sunnah kafir; ‘aqidah Ahlu Sunnah dianggap cacat karena tidak mendukung ‘Ali r.a sebagai khalifah pertama.

Bagaimana pendapat Ahlu Sunnah terhadap Syi’ah? Apakah mereka dianggap kafir? Karena masalah kepemimpinan dianggap sebagai masalah ijma’, maka ulama umumnya tidak mengkafirkan Syi’ah. Dalam Islam, pengkafiran adalah masalah yang teramat serius, tidak bisa sembarangan. Untuk menyatakan seseorang murtad, harus ada pernyataan dari dirinya sendiri bahwa ia keluar dari agama Islam. Atau, alternatif lainnya, ia harus disidang dan diminta mengklarifikasi pemikiran-pemikirannya, barulah diputuskan, murtad atau tidak. Itulah yang dilakukan oleh para ulama sejak dahulu. Ini adalah tugas MAJELIS ulama, bukan ulama seorang atau dua orang. Para ulama Ahlu Sunnah tidak terbiasa mengkafirkan seseorang yang secara zhahir masih mengucap syahadatain (dua kalimat syahadat). Oleh karena Syi’ah masih mengakui syahadatain, maka mereka tidak dikafirkan. Tentu saja, kita juga menyadari bahwa Syi’ah sering ber-taqiyyah, atau berpura-pura. Bisa jadi syahadatain-nya cuma pura-pura. Akan tetapi, apa yang terjadi di dalam hati adalah urusan manusia dengan Rabb-nya. Kita hanya menghakimi zhahirnya. Sikap ini juga menunjukkan sifat para ulama Ahlu Sunnah yang tidak emosional, berkepala dingin, dan tidak terburu-buru.

Hal yang demikian adalah hasil diskusi yang saya baca di forum diskusi para asatidz INSISTS. Penjelasan mengenai hal ini diberikan oleh Dari. Ugi Soeharto, salah seorang pendiri INSISTS. Awalnya, saya pun susah menerima. Tapi masalah agama memang tidak boleh diputuskan secara emosional, kan?

Mengapa takfir (pengkafiran) tidak dibiasakan dalam Islam? Ya, sebab ia memiliki konsekuensi yang berat. Salah satunya, kata Nabi s.a.w, jika kita salah mengkafirkan orang, maka kekafiran itu berbalik pada kita. Maka, takfir bukan pekerjaan enteng. Ulama saja bermusyawarah dahulu sebelum melakukannya. Orang-orang awam, karenanya, tidak perlu tergoda untuk ikut-ikutan melakukan takfir, kecuali jika ulama telah bersepakat. Ada juga yang bilang “Salah menyebut seseorang sebagai Muslim lebih baik daripada salah menyebut seseorang sebagai kafir.” Jika orang kafir kita sangka sebagai Muslim, maka kita khilaf. Tapi jika seorang Muslim kita sebut kafir, maka kitalah yang kafir.

Lalu, bagaimana dengan kondisi sekarang? Banyak anak-anak muda yang gampang sekali mengkafirkan. Termasuk kepada golongan Syi’ah. Saya banyak jumpai anak-anak muda yang mudah melaknat, mengucapkan kosa kata seperti “anjing2 Syi’ah” dan semacamnya. Pada dasarnya, melaknat bukanlah akhlaq seorang Muslim. Yang sudah jelas-jelas terlaknat pun tak perlu dilaknat terus-menerus. Iblis, Fir’aun, Abu Lahab, yang sudah pasti terlaknat, tak mesti dilaknat terus. Tidak ada urgensinya. Jika kita rajin melaknat Syi’ah, apa bedanya dengan Syi’ah yang rajin melaknat Abu Bakar r.a dan ‘Umar r.a dalam do’a-do’a mereka? Di sisi lain, kebiasaan marah, memaki, dan melaknat itu berpotensi mengalihkan perhatian kita dari masalah sesungguhnya. Dengan memaki Syi’ah, boleh jadi kita merasa ‘puas’. Dalam hati, kita menganggap sudah ‘melaksanakan tugas’. Padahal, makian kita sesungguhnya tidak produktif, bahkan mungkin kontraproduktif. Ada orang awam yang justru menjadi simpati pada Syi’ah gara-gara melihat ada pemuda Ahlu Sunnah yang terlalu ringan lidahnya dalam melaknat. Mereka yang melaknat pun pada akhirnya tidak terlibat dalam ghazwul fikri (perang pemikiran) melawan Syi’ah.

Syi’ah berkembang dengan menyebarluaskan pemikiran-pemikirannya melalui berbagai forum. Di forum Syi’ah, Jalaluddin Rakhmat ‘sangat Syi’ah’. Itulah wajah aslinya. Tapi di forum yang pesertanya didominasi Ahlu Sunnah, gaya bicaranya bisa ‘sangat Ahlu Sunnah’. Sementara itu, diam-diam, ia ‘berselingkuh’ juga dengan kalangan Islam liberal, terutama ketika membicarakan pluralisme. Itulah taqiyyah. Tantangan pemikiran dari Syi’ah tentu saja harus dijawab. Cara-cara kekerasan justru membuat orang simpati pada mereka. Jika kita menyibukkan diri dengan marah-marah dan melaknat, bisa dipastikan kita tidak terlibat dalam perlawanan intelektual. Di Indonesia, sepengetahuan saya, rujukan terbaik tentang Syi’ah adalah buku ini:

Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Sidogiri, penerbit milik Pesantren Sidogiri, salah satu pesantren unggul berlatar NU. Buku ini sejatinya hendak menjawab pemikiran-pemikiran Quraish Shihab tentang ukhuwwah antara Ahlu Sunnah dan Syi’ah. Akan tetapi, pada akhirnya, buku ini menjelaskan dasar2 pemikiran Syi’ah secara lengkap. Sangat direkomendasikan membaca buku ini!

Marilah kita melibatkan diri dalam memberikan perlawanan intelektual terhadap Syi’ah. Bacalah buku-buku yang membahas tentang penyimpangan Syi’ah, hadirilah forum-forum diskusi, bertanyalah pada para ahlinya. Masalah Syi’ah takkan selesai hanya dengan dimaki, dilaknat dan dikafirkan. Masih banyak masalah seputar Syi’ah yang belum dibahas di artikel ini, insya Allah disambung lain waktu. Semoga kita terhindar dari sikap berlebihan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam