logo blog

Menyikapi Ikhtilaf

Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Saya ingin membahas tentang sebuah persoalan yang sebenarnya sudah lama. Persoalan mendasarnya adalah sikap intelek. Istilah lainnya: tradisi ilmu. Di antara para ulama, ikhtilaf itu biasa. Yang tidak terbiasa ya yang bukan ulama. Ikhtilaf itu luas. Tapi ini justru dipandang sebagai kelebihan Islam. Bukan kekurangan. Dengan adanya ikhtilaf di antara ulama, Islam menjadi lapang. Sesama Muslim tidak perlu saling menuduh. Masalah biasanya di akar rumput (orang-orang yang kurang ilmu). Karena mereka gak paham bahwa ikhtilaf itu ada. Kurang gaul lah, gitu. Misalnya soal ikhtilaf shalat Shubuh pakai qunut atau tidak. Yang berdebat adalah imam-imam madzhab. Akar rumputlah yang bikin rusuh. Apa yang mau kita cela dari para imam madzhab itu? Semuanya orang shalih! Setuju dengan satu imam, dan tidak setuju dengan yang lain? Boleh. Tapi jangan cela imam-imam yang lain. Harus punya adab. Sering terjadi, orang yang hanya mengetahui 1 pendapat menuduh-nuduh orang yang berpendapat lain. Karena ulama yang mereka ikuti berpendapat A, mereka pikir semua ulama berpendapat sama. Seperti yang saya katakan: mereka kurang gaul.

Sebelum Ramadhan yang lalu, saya dapat fitnah yang luar biasa bombastis dari penggembos perjuangan melawan Syi'ah di Twitter! Alasannya? Karena dalam artikel saya tentang Syi'ah, saya mengatakan bahwa jumhur ulama tidak berpendapat bahwa semua orang syi'ah itu kafir. Artikel yang mana? Bisa dicek disini di chirpstory mulai dari poin ke-53. Gak cukup disebut 'penggembos', saya juga dituduh menjual nama INSISTS. Mantabs brooo. Yang nuduh tersebut juga melapor kepada Ustad Bachtiar Nasir dan Ustad Fahmi Salim. Memang orang itu gak tau malu sih. Konon, saya mau diadukan sama INSISTS, tapi dia sampai sekarang gak muncul di sana. Yaelah brooo... Habis itu, dia berikan akunnya ke orang lain. Menghilang deh dia dari Twitter selama beberapa bulan. Sekarang muncul lagi, dan pura-pura lupa sama dosa fitnahnya. Ya cukuplah bahas dia, tidak penting juga. Namanya juga MANTAN aktivis dakwah.

Kembali ke soal fitnah tadi. Waktu difitnah itu, saya sih setengah ingin tertawa, setengah kasihan juga. Soalnya yang saya bicarakan di artikel itu adalah hasil diskusi di grup BlackBerry INSISTS. Yang menyimpulkan bukan saya. Siapalah saya ini. Sebagai anak bawang di INSISTS, saya hanya mengikuti diskusi para ulama dan cendekiawan. Adabnya, kita harus ikuti pendapat yang lebih ahli. Ketika Ustad Ugi bilang bahwa Syi'ah tidak semuanya kafir, sayalah yang protes. Sebab (tadinya) saya yakin semua Syi’ah kafir. Siapa Ustad Ugi Soeharto? Beliau adalah salah satu pendiri INSISTS. Beberapa waktu yang lalu beliau datang ke Indonesia. Jadi, lucu saja kalau artikel saya mau diadukan kepada INSISTS, karena yang saya sampaikan itu hasil diskusi di grup INSISTS. Ditunggu berbulan-bulan, eh yang mau mengadukan gak datang-datang ke INSISTS. Cape deh. Ngomong-ngomong, saya gak akan ceritakan disini mengapa Ustad Ugi berpendapat demikian. Bukan itu fokus artikel kali ini. Yang jelas, saya hanya ingin katakan bahwa pendapat seperti demikian itu ADA.

Berpendapat lain boleh, tapi jangan bersikap seolah-olah pendapat tadi itu TIDAK ADA. Jangan pula gampang berpendapat bahwa kalo tidak mengkafirkan Syi'ah berarti pro Syi'ah. Coba diskusi dengan Ustad Ugi. Ustad Ugi sangat anti Syi'ah. Di grup kami, beliau mengajarkan kami caranya melawan Syi'ah. Syi'ah ini sesat, tapi eksis belasan abad. Mereka gak akan punah kalau kita merespon dengan emosional. Harus dilawan secara intelek. Di artikel saya tempo hari, saya rekomendasikan rujukan untuk memahami kesesatan Syi'ah, yaitu buku dari Pesantren Sidogiri. Mantap, buku ini membantah bukunya Quraish Shihab. Kalau saya pro-Syi'ah, kira-kira saya akan rekomendasikan buku tadi gak? Kalau INSISTS anti-Syi'ah dan saya dituduh pro-Syi'ah, kenapa buku tadi malah saya rekomendasikan? Mikir atuh lah. Tapi ya kayaknya yang memfitnah saya gak baca rujukan-rujukan yang berat seperti itu. Orang intelek keliatan dari sikapnya.

Ini fenomena kehilangan adab. Bahkan para ulama pun akan mereka cela kalau tidak mengikuti pendapat mereka. Na'uudzubillaah. Ya inilah musuh INSISTS. Orang-orang yang berdebat tanpa ilmu, adab entah hilang kemana. Silakan berdebat bagaimana caranya membuat Islam berjaya. Yang pasti: harus dengan menumbuhkan tradisi ilmu. Wajib punya intelektualitas. Terlalu sering berdebat membuat orang lupa bercermin. Gajah di pelupuk mata pun tidak kelihatan deh.

Sekarang ini banyak anak muda gayanya "syar'i" sekali kalau membicarakan tentang demokrasi. Padahal timeline Twitternya isinya modus. Kalau membicarakan Syi'ah seperti sudah siap bunuh-bunuhan aja. Padahal diam-diam mereka berpacaran. Ada lho! Dahulukan adab ketimbang ilmu. Sebelum menuntut ilmu, belajar memposisikan diri. Kasihan umat ini. Tradisi intelektual terlupakan. Generasi penerus malah ingin tegakkan Islam dengan gaya preman. Coba, kalau cara berpikirnya penuh prasangka, bagaimana menyikapi buku ini?

Beberapa cendekiawan sekarang sedang mengkritisi judul buku ini. Tapi tak ada yang menuduh penulisnya pro-Syi'ah. Kenapa? Ya, memang menuduh itu gak sederhana. Orang intelek tidak menggampangkan urusan begini. Jadi, berdiskusilah tenang-tenang dan jangan rusuh, jangan gampang menuduh. Cek dulu, pelajari ikhtilaf-nya. Susahnya, yang suka marah-marah ini gak keliatan di kajian-kajian serius INSISTS, padahal mereka perlu sekali.

Masalah Syi'ah gak akan selesai dengan kemarahan kita. Kita lawan mereka dengan intelektualitas. Bukan berarti gak perlu jihad ya. Di Suriah sih sudah jelas harus jihad. Tapi jihad juga harus intelek kan? Bukan asal tembak. Di INSISTS ada Sirah Club bersama Ustad Asep Sobari. Coba tanya beliau, jihad Nabi s.a.w seperti apa sih? Saya ikut Sirah Club, Korpus Indonesia TanpaJIL juga ikut. Sayangnya, yang suka marah dan gampang menuduh ini gak ada yang ikutan.

Sudahlah. Bosen juga debat kusir. Hasilnya apa? Apakah dengan mengamuk lantas terlahir sebuah buku yang membongkar kesesatan Syi'ah? Nggak toh? Tanya sama yang nulis buku-buku yang membongkar kesesatan Syi’ah. Ketika menulis, mereka marah-marah atau dalam keadaan tenang? Saya juga menulis soal kesesatan Syi'ah. Ada di situs fimadani, meskipun masih beradadi bawah level penulis lain yang memiliki pengetahuan tentang Syi'ah lebih tinggi. Jadi, kalau ada yang berdakwah dengan marah-marah, tinggalkan saja deh karena gak bermanfaat. Cek saja keadaan mereka 1, 2 atau 3 tahun lagi. Biasanya mentok, gak maju-maju karena tradisi ilmu tidak mereka hidupkan. Kalau beneran intelek, pasti cepat maju. Perubahannya dahsyat ke arah yang lebih baik, tentunya. Semoga kita semua ditempatkan di sisi Allah bersama para pecinta ilmu. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam