logo blog

Obrolan Seputar Filsafat Busuk

Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Dari kemarin sudah berusaha nahan, sambil menunggu kereta bolehlah saya bahas dikit soal filsafat busuk. Beberapa waktu yang lalu, suasana dibuat riuh oleh ulah segelintir mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN SA, Surabaya. Dalam acara penerimaan mahasiswa baru, muncul sebuah tema besar: “Tuhan Membusuk.” Jelas, banyak yang marah. Berikut berita-beritanya:


Ini mengingatkan saya pada peristiwa tahun 2004, persis sepuluh tahun yang lalu, bagaikan deja vu. Waktu itu, UIN SGD Bandung jadi sumber kehebohan karena mahasiswanya berteriak lantang, “Anjinghu akbaar!” Selain itu, konteks peristiwanya juga terjadi pada acara penyambutan mahasiswa baru. Deja vu lagi! Nampaknya, memang ada upaya untuk membuat kehebohan di hadapan para mahasiswa baru yang mungkin dianggap ‘polos’. Bisa bayangkan nggak anak yang baru lulus SMA, ingin belajar agama, tiba-tiba ketemu makhluk ajaib berteriak “Anjinghu akbaar?” Bisa bayangkan anak baru lulus SMA, ingin memperdalam ilmu agama, tahu-tahu disambut dengan spanduk “Tuhan Membusuk?”

Kemungkinannya dua: merasa jijik banget, atau malah mengikuti arus! Opsi pertama (jijik banget) cukup realistis, tapi sayangnya untuk remaja-remaja polos, opsi kedua (ikut arus) juga sangat mungkin. Betapa banyak kenakalan remaja yang terjadi hanya karena alasan cari sensasi atau ikut-ikutan. Ini bukan fenomena baru.

Ngomong-ngomong, yang tahun 2004 lalu mengatakan “Anjinghu akbaar” adalah mahasiswa aqidah filsafat. Mau tidak mau, muncullah pertanyaan: Apa belajar filsafat memang merusak otak? Saya tidak berminat membahas terlalu mendalam soal ini, karena memang sudah mengulasnya dalam sebuah buku. Saya hanya ingin memperlihatkan kepada teman-teman betapa konyolnya argumen yang diajukan untuk membenarkan filsafat busuk ini. Sebagian mengatakan, misalnya, bahwa “Tuhan Membusuk” itu artinya bukan Tuhannya yang membusuk. Merasa bingung? Ya, saya juga! Ada yang bilang, yang membusuk itu adalah pemahaman soal Tuhan di kepala masing-masing manusia. Muncul anekdot: jika demikian, apakah “Jogja tolol” juga bisa dimaknai “pemahamanmu soal Jogja itulah yang tolol”? Amat disayangkan, ada yang belajar filsafat tapi ternyata tidak paham bahasa negerinya sendiri.

Inilah cara licik kaum relativis; semuanya dibilang relatif. Padahal, bahasa itu tergantung kesepakatan. Karena kita sepakat menyebut tempat duduk kita sebagai “kursi”, maka ia disebut “kursi”. Jika muncul orang dari antah-berantah dan menyebut “kursi” sebagai “kucing”, maka akan terjadi kesalahpahaman yang parah.

Jadi masalahnya hanya salah paham? Nggak juga. Masalahnya, mereka ini MENGAKU belajar filsafat. Filsafat asal katanya dari philosophia, dua kata yang digabung jadi satu dengan makna “pecinta kebijaksanaan”. Marilah kita bertanya: Apakah bijak menggunakan bahasa dengan mengabaikan kesepakatan? Tanyakan lagi: Apakah bijak menggunakan bahasa dengan cara yang sangat mungkin membuat orang marah? Tanyakan juga: Apakah orang bijak akan melakukan hal-hal kontroversial hanya untuk cari sensasi? Berkacalah pada insiden tahun 2004: Dimanakah kebijaksanaan dari kalimat "Anjinghu akbar"? Apakah ada orang bijak yang berdzikir dengan mengingat anjing?

Filsafat bukanlah seni untuk mencari pembenaran. Pokok keilmuannya bukanlah kebebasan, melainkan kebijaksanaan. Orang bijaksana justru tidak suka bertindak tanpa aturan, tanpa kaidah, dan tanpa juntrungan. Jika orang belajar filsafat namun cara berpikirnya makin semrawut, bicaranya meracau dan wajahnya berantakan, itulah filsafat busuk. Filsafat memang mengerahkan logika manusia. Anehnya, di negeri ini orang yang lemah logikanya ikut berfilsafat juga.

Sampai lulus kuliah S-1 dulu, saya cukup antipati terhadap filsafat. Dalam pandangan saya dulu, orang-orang filsafat itu arogan, selalu bersikap seolah-olah paling pintar, ternyata kenyataannya tidak begitu. Pendapat saya baru berubah setelah ketemu Ustad Adnin Armas, Ustad Hamid Fahmy Zarkasyi, dan Ustad Syamsuddin Arif.

Ustad Adnin Armas adalah Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)

Ustad Hamid Fahmy Zarkasyi adalah pengelola Gontor, keturunan sang pendiri Gontor, yaitu KH. Imam Zarkasyi

Ustad Syamsuddin Arif adalah cendekiawan Muslim Indonesia yang mengajar di Malaysia, menempuh pendidikan di Malaysia dan Jerman, serta banyak bertukar pikiran dengan kaum orientalis

Yang cara berpikirnya menjadi rusak adalah mereka yang memang belajar filsafat busuk. Sementara orang berfilsafat untuk menemukan cara berpikir yang benar, mereka berfilsafat untuk membenarkan semuanya. Maka, jangan heran kalau di dunia ini ada dua jenis mahasiswa filsafat. Pertama, yang berpakaian rapi, wangi, berpikirnya runut, bicaranya teratur, perilakunya sopan, dan seterusnya. Kedua, yaitu yang pakaiannya lusuh, wajah seperti jarang mandi, berpikirnya rusak, bicara berantakan, kelakuan ajaib, dan seterusnya.

Lalu mengapa ada filsafat busuk yang justru berlawanan betul dengan ciri-ciri para ‘pecinta kebijaksanaan’? Ya, sebab praktik ilmu di dunia ini tergantung SDM-nya. Jika jurusan-jurusan filsafat diisi oleh pemuda-pemuda terbaik negeri, maka akan muncul diskusi-diskusi yang memikat dan bermanfaat. Tapi kalau SDM-nya memang rusak, ya hasilnya cuma bisa mencari sensasi. Ah, kalau cuma mencari sensasi, apa perlu kuliah S-1? Dari sinilah kita memahami bahaya yang ditimbulkan oleh para pengusung filsafat busuk. Ini masalah kita bersama. Semoga Allah s.w.t melindungi keluarga kita dari setiap pemikiran yang bersumber dari filsafat busuk. Aamiin...


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam