logo blog

Sekuler Inlander (Sekuler Kampungan) Bagian Kedua


Ternyata banyak yang darah tinggi karena artikel Sekuler Inlander kemarin. Lanjutin lagi aah... Bahasan soal Sekuler Inlander ini menarik, karena sudah dari dulu saya amati bahwa mereka ini memang berlebihan dalam ‘ber-sekuler ria’. Ketika mereka berusaha mengomentari artikel Sekuler Inlander, malah makin jelas kelihatan mental inlander-nya (kampungannya).

Tanggapan tipikal nih: “Jangan menilai orang dari tato dan rokok!” Wah, bukan itu topiknya... Kebanyakan di antara mereka jelas sekali nggak baca artikelnya dengan jernih, atau malah gak tuntas. Dalam artikel yang lalu sudah saya katakan, yang dibicarakan bukan rokok, tapi dialektikanya. Artinya, saya menganalisis cara-cara kaum Sekuler Inlander ini berargumen, bukan cuma soal rokok dan tato itu. Ada juga yang bilang “Memangnya rokok dan tato merusak kinerjanya?” Nah, ini juga ketahuan gak baca artikel. Dengan membaca artikel yang lalu harusnya sudah jelas bahwa saya tidak mempertanyakan kapabilitas Bu Susi. Clear banget, kok! Saya tidak mempermasalahkan soal pendidikannya juga. Baca saja paragraf terakhir artikel kemarin. Kalau orang lain mau debat soal itu, ya silakan. Tapi saya tidak.


Tapi mari berpikir jernih. Di masyarakat Barat yang sekuler, rokok memang tidak dilarang. Tapi bagi figur publik urusannya lain. Namanya figur publik ya muncul di depan publik. Ada hal-hal yang tidak boleh, walau larangannya tidak tertulis. Saya sudah kasi contoh kasus Obama. Coba dibaca lagi Why is Obama Still Smoking? Obama dikritik hanya karena MASIH merokok. Padahal dia tidak pernah merokok di depan publik. Nggak ada yang bilang kinerjanya buruk karena rokok. Hanya saja, rokok itu hal yang buruk. Orang sekuler saja tau! Di Barat, walau mereka bicara relativisme juga, tapi masih menggunakan batasan. Nggak seperti di Indonesia, belajar filsafat sebentar aja sudah pakai relativisme sebagai exit strategy dalam segala hal. Di Indonesia, banyak dosen filsafat mengajarkan relativisme tapi masih marah ketika didebat mahasiswanya. Mereka menyanjung-nyanjung kaum Sophist yang gemar debat, tapi ketika mahasiswa mendebat malah tidak diapresiasi. Ini yang saya sebut Sekuler Inlander. Mereka meniru yang salah, tapi gak akurat. Malah jadi salah kuadrat! Cuma bisa meniru, yang ditirunya pun salah, dan cara menirunya pun nggak akurat, akhirnya lebih salah lagi. Wah-wah! Katanya suka berdiskusi, tapi gak bisa menangani kritik. Tau-tau membuat gambar olok-olok seperti ini:


Dikasih gambar pembanding, marah deh.


Perlu digarisbawahi juga, gambar sebelumnya tidak saya buat untuk mengolok-olok Bu Susi. Gambar itu saya berikan semata-mata untuk menunjukkan bahwa perbandingan sebelumnya itu absurd. Kan sudah saya bilang, yang disoroti bukan Bu Susi atau rokoknya, tapi dialektikanya. Argumen-argumen yang digunakan oleh kaum Sekuler Inlander yang lagi panik ini benar-benar memprihatinkan.

Lalu soal rokok, muncul deh gambar absurd berikutnya.


Karena Soekarno merokok, lantas pemimpin zaman sekarang juga boleh begitu? Yaelah, katanya sekuler. Orang sekuler itu berpikirnya kekinian, bukan ke-Soekarno-an. Di zaman Soekarno, memang semua orang terbiasa merokok. Ulama juga banyak yang merokok, pejabat-pejabat publik di Barat juga banyak yang merokok di zaman itu. Tapi itu kan duluuuu... Orang Barat sekarang sudah mengevaluasi sikapnya terhadap rokok. Tapi copycat-nya di Indonesia gagal meniru. Di Barat, orang berusaha makan raw food, tapi para peniru di Indonesia masih bangga makan fast food. Di Barat, orang sudah mulai kembali bersepeda, di Indonesia masih gengsi banget kalau gak naik mobil. Dan ehm, di Barat, sekarang Islam laku keras. Di Indonesia, orang malah berlomba-lomba menjadi ateis, agnostik, liberal, dan murtad.

Yang namanya penjiplak ya gak lebih baik daripada yang dijiplak. Mental inlander (kampungan) ini harus diperbaiki dulu. Apalagi kalau yang dijiplaknya adalah yang salah. Hasil jiplakannya lebih salah lagi. Barat maju karena disiplinnya, kerja kerasnya, integritasnya, tapi yang ditiru malah dugemnya, maboknya, free sexnya. Barat timpang karena ‘work hard dan play hard’, tapi kaum Sekuler Inlander lebih rusak lagi karena yang ditiru cuma ‘play hard’-nya.

Nah, ngomong-ngomong nih, tadi ada info bahwa Bu Susi mengeluh karena foto beliau saat merokok disebar. Konon, saat Bu Susi merokok, beliau sudah meminta supaya awak media tidak memfotonya agar tidak menjadi contoh yang buruk. Saya belum sempat cari link beritanya. Mungkin nanti akan ketemu. Sekarang asumsikan saja info ini benar. Nah, berita ini adalah bukti bahwa mereka yang marah-marah kemarin ini benar-benar Sekuler Inlander. Bu Susi sebagai perokok saja tidak menampik bahwa rokok itu tidak baik. Dan beliau gak suka diekspos ketika merokok. Jadi, pembelaan berlebihan kaum Sekuler Inlander yang kemarin-kemarin itu apa gunanya? Dengan klarifikasi Bu Susi (kita husnuzan saja ya), sebenarnya masalahnya langsung beres. Dan ini tidak membuat gugatan orang-orang sebelumnya jadi salah. Memang wajar rakyat menggugat. Figur publik merokok di depan sorot kamera ya harus dikritisi. Kalau ternyata karena salah media, ya media yang salah.

Kalau saja kaum Sekuler Inlander ini mau berpikir jernih dan merespon dengan benar, kan gak perlu malu-maluin. Semoga mental inlander ini segera dibasmi dari tanah air. Aamiin.


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam