logo blog

Apakah Ad Hominem Bertentangan dengan Islam?

Oleh: Akmal Sjafril || Twitter: twitter.com/malakmalakmal

Kita hidup di masa ketika peradaban Islam sedang terpuruk. Harus kita akui, keterpurukan ini membuat banyak Muslim kehilangan orientasi. Mereka yang ‘kalah’ memandang ‘para pemenang’ dengan semacam ketakjuban. Saya memberi tanda kutip pada kata “kalah” dan frase “para pemenang” karena kalah dan menang memang kadang samar. Sebagai contoh, jika kita hidup di Eropa pada tahun 1942, mungkin kita akan menganggap Hitler sebagai pemenang. Tapi menang dan kalah toh dipergilirkan saja. Kita tidak semestinya menilai kemenangan dari materi belaka. Belanda pun pernah jadi ‘pemenang’ di negeri ini, setelah itu, kekuasaan dipergilirkan kembali. Mereka yang hidup di masa-masa penjajahan Belanda pun memiliki pandangan ambigu akibat keterpurukannya. Karena memandang Belanda sebagai ‘pemenang’, maka diam-diam mereka ingin menirunya. Apakah segala hal yang melekat pada kaum penjajah Belanda itu pantas ditiru? Ini kunci persoalannya.

Nah, meski negara ini sudah lama merdeka, namun jiwanya masih banyak yang terbelenggu. Dalam konteks peradaban Islam, dapat kita katakan bahwa umat Muslim di Indonesia masih banyak yang terjajah jiwanya. Oleh karena itu, mereka menganggap baik segala hal yang dibawa oleh ‘para pemenang’ di masa ini. Karakter orang-orang Sekuler Inlander ini sudah pernah saya bahas di dua artikel:


Nah, sekarang kita masuk pada bahasan ad hominem. Istilah ini singkatan dari “argumentum ad hominem”. Secara sederhana, ad hominem adalah argumen yang ditujukan kepada pribadi lawan debat, bukan isi argumennya. Bagi mereka yang belajar logika argumen ala Barat, ad hominem seolah menjadi hal yang tabu. Padahal, sesungguhnya ad hominem tidak selalu salah. Ia bisa digunakan untuk meruntuhkan otoritas. Barat pun mengakui hal ini. Misalnya, ada orang yang dimintakan fatwa agamanya. Padahal ia suka minum khamr. Fakta kebiasaannya minum khamr adalah argumen yang tepat untuk meruntuhkan otoritasnya dalam memberi fatwa. Ada beberapa artikel saya yang dituduh telah melakukan ad hominem. Berikut ini artikel-artikel yang dituduh tersebut:


Apakah menolak sepenuhnya ad hominem adalah ajaran Islam? Ini yang akan kita telusuri. Sebagian orang tidak menggunakan dalil ad hominem, tapi mengucapkan “undzur maa qaalaa wa laa tandzur man qaala.” Terjemahan bebasnya: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihatlah apa yang dikatakannya”. Konon, ini kata-kata ‘Ali r.a. Memang kata-kata ‘Ali r.a memiliki bobot. Akan tetapi, harus ditemukan pula konteksnya. Kata-kata ini bukan wahyu. Betapa pun kita mencintai ‘Ali r.a, tidak mungkin kata-kata beliau lebih ditinggikan daripada Al-Qur’an. Bahkan kita yakin ‘Ali r.a tidak mungkin memiliki maksud yang melangkahi Al-Qur’an.

Coba kita lihat Qs. Al-Hujuraat[49]:6. Bagaimana sikap Al-Qur’an? Ayat itu mengatakan, “...jika datang kepadamu ORANG-ORANG FASIQ dengan sebuah berita, maka periksalah dengan teliti...” Ayat ini tidak hanya menggarisbawahi tentang proses tabayyun, melainkan juga tentang identifikasi pembawa berita. Jika ada sebuah berita yang signifikan (yang digunakan adalah kata naba’), maka cek pembawa beritanya. Apakah pembawa beritanya itu orang fasiq? Jika ya, telitilah kebenarannya. Begitu urutan berpikirnya.

Jadi yang harus dicek pertama kali adalah signifikansi beritanya. Kalau cuma skor pertandingan sepakbola, terserahlah. Tapi kalau bicaranya soal Tuhan, Nabi, agama, tentu hal-hal tersebut kita kategorikan ‘sangat penting’. Nah, karena urusan Tuhan, Nabi, agama dan semacamnya itu penting, maka yang membicarakannya akan dinilai juga.

Apakah yang membicarakannya adalah orang-orang fasiq? Ini menjadi perhatian berikutnya. Ngomong-ngomong, fasiq itu apa sih? Secara bahasa, fasiq artinya “keluar”. Keluar dari perintah agama, kurang lebihnya. Dalam Qs. As-Sajdah [32]:18-20 kita melihat Al-Qur’an membedakan orang yang beriman dan yang fasiq. Bunyi ayatnya sebagai berikut:

Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (Qs. As-Sajdah [32]:18-20)

Dalam pengertian ini, yang dimaksud adalah kefasiqan yang besar, yaitu kekafiran. Kekafiran adalah lawan dari keberimanan. Dalam Qs. Al-Hujuraat [49]:7 berbunyi, “tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” Disini, Allah membedakan antara kekafiran, kefasiqan, dan, kedurhakaan. Menurut para ulama, kefasiqan di ayat ini adalah kefasiqan yang kecil, yaitu pelaku dosa besar. Dikenal juga kaidah di antara para ulama bahwa pelaku kefasiqan tidak diterima persaksiannya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa apa yang disebut sebagai ad hominem itu memang ada tempatnya dalam Islam. Jika seseorang dikenal sebagai orang fasiq, maka berita darinya harus diteliti. Akan tetapi, apakah prinsip ini bermaksud membuat kita repot dengan semua berita dari orang-orang fasiq yang harus diteliti? Jika ada seratus orang fasiq berbicara soal agama, apakah keseratus teori itu harus kita teliti lagi? Betapa sibuknya hidup kita jika semua kata-kata orang fasiq harus kita teliti kebenarannya! Di era informasi ini, kita merasakan betul fenomena ini. Begitu banyak orang, akun, dan situs yang membicarakan soal agama. Mana informasi yang benar? Apa SEMUANYA harus dibaca dan diteliti ulang? Benar, dalam urusan agama pun ada ikhtilaf-nya. Tapi apakah semua pendapat harus ditelusuri?


Jangankan sekarang, berabad-abad yang lampau pun masalah keshahihan berita ini sudah menjadi perhatian ulama. Dalam ilmu hadits ada prosedur jarh wa ta’dil. Ini adalah prosedur mengecek keburukan dan kebaikan periwayat hadits. Singkat cerita, kredibilitas seseorang menentukan apakah hadits yang diriwayatkannya dapat diterima atau tidak. Yang ‘fanatik’ pada prinsip ad hominem, mungkin akan menolak prosedur semacam ini.

Memang, dalam tradisi keilmuan di Barat, hal semacam ini tidak ada. Ini adalah ciri khas Islam. Hal ini juga menimbulkan keresahan bagi sebagian orang di Barat. Paul Johnson dalam buku “Intellectuals” mengkritik sebagian pemikir yang inkonsisten dengan kata-katanya. Jean-Jacques Rousseau, misalnya, adalah filsuf ternama yang banyak berbicara soal pendidikan anak. Apa dinyana, Rousseau ternyata pernah membuang anak-anaknya sendiri. Fakta ini membuat Rousseau dikritik banyak pihak, antara lain oleh Voltaire.


Lihat apa kata Wikipedia tentang kritik ini. Ini disebut ad hominem juga. Patutkah kita belajar mendidik anak dari orang yang membuang anak-anaknya sendiri? Oke, mungkin tidak semua yang ia katakan salah. Tapi perlukah kita membuang-buang waktu untuk melakukan pengecekan itu? Ataukah lebih praktis mengabaikan saja teori-teori dari pribadi yang rusak ini dan mencari ilmu dari orang-orang yang baik? Apakah orang-orang baik itu jumlahnya sangat sedikit sehingga kita harus belajar dari orang-orang yang bejat?

Terlebih lagi jika berbicara soal agama. Apa orang yang suka berkata-kata kotor perlu dijadikan referensi soal agama? Jika orang yang suka berkata-kata kotor itu mengatakan bahwa ia hafal kitab kuning, apakah kita mesti percaya? Ataukah kita harus menghabiskan waktu untuk mengecek setiap kata-katanya, memilah mana yang benar dan yang tidak?

Jelaslah bahwa tuntunan Islam sangat sempurna. Kita diajarkan untuk berpikir logis, rasional, dan juga praktis. Masih banyak orang-orang baik yang dapat dijadikan referensi soal agama. Masih banyak orang-orang shalih yang ucapannya tidak kontradiktif dengan perbuatannya. Mari menuntut ilmu dengan adab yang benar, salah satunya dengan mencari sumber ilmu yang benar. Jika mencari ilmu agama dari tempat yang salah, jangan heran jika semakin lama belajar malah semakin jauh dari agama.

Penolakan terhadap ad hominem banyak digunakan sebagai ‘senjata’ oleh mereka yang pribadinya bermasalah. Mereka tidak suka aibnya diungkap, dan karenanya, menganggap tabu ad hominem. Mereka silau dengan kemajuan Barat, dan meniru segalanya, termasuk kerusakan ilmunya. Mereka mengambil ilmu dari pribadi-pribadi yang tidak baik, maka ilmunya pun tidak membuahkan kebaikan. Semoga kita terhindar dari pemahaman yang menyesatkan. Aamiin...


YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam