logo blog

Pelan-pelan Dalam Berdakwah

Tugas seorang da’i adalah berceramah kepada orang-orang yang paling jauh dari Islam. Tugas da’i adalah mencoba untuk menasihati orang yang bahkan tidak mau ke masjid sama sekali. Itulah orang-orang yang paling utama dijangkau oleh da’i. Karena mungkin orang itu hampir ingin keluar dari Islam. Mungkin dalam hati mereka sudah terbersit “Aku tidak yakin apakah aku ingin menjadi Muslim. Sepertinya lebih baik jika aku keluar dari Islam.” Dan kepada orang-orang seperti itu, jika saya memintanya untuk bersedekah dalam jumlah yang besar, apa yang akan mereka katakan? “Aku bahkan tidak mau bersedekah 1/100 dari kekayaanku! Lupakan saja, aku mau keluar dari Islam!” Orang itu langsung berpikir bahwa Islam terlalu banyak tuntutan. Dan tugas kita sebagai da’i telah gagal. Kita justru mempercepatnya untuk keluar dari Islam dengan memberikan tuntutan yang sangat berat.

Lalu apa yang harus kita lakukan pada orang-orang yang keimanannya rendah seperti itu? Kita harus mengerti bahwa masing-masing orang punya tingkat keimanan yang berbeda, jadi kita harus pelan-pelan. Kita harus membicarakan tentang yang dasar dulu. Lakukan secara pelan-pelan dan bertahap.

Anda tahu di masjid-masjid sering ada kajian Islam rutin. Dan ada sebagian orang yang datang, mereka duduk bersama sang imam dan belajar rutin setiap minggunya. Dan seiring ilmu mereka bertambah, maka sang imam mengharapkan ibadah dan tanggung jawab mereka juga bertambah. Sang imam membuat standar yang lebih tinggi kepada murid-muridnya karena dia ingin agar mereka naik derajatnya.

Misalnya sebagian dari kita tidak tahu banyak tentang Islam 4 tahun yang lalu. Tapi seiring kita mulai belajar bahasa Arab, mulai menghadiri seminar dan kelas-kelas Islam, mulai mendengarkan ceramah demi ceramah, mulai membaca artikel-artikel Islam. Pada akhirnya kita mulai berkhutbah di komunitas kita. Ini berarti sekarang kita lebih banyak tahu daripada 4 tahun yang lalu. Lalu apa yang terjadi? Seiring kita tahu lebih banyak, kita menyadari bahwa tanggung jawab kita bertambah, ibadah yang harus kita lakukan juga seharusnya bertambah. Tapi seiring kita sadar bahwa lebih banyak yang diharapkan dari kita, kemudian kita berpaling kepada orang lain dan berpikir bahwa lebih banyak yang diharapkan dari mereka juga. Ini tidak benar. Lebih banyak yang diharapkan dari kita, tapi kita tidak bisa menempatkan beban kita pada mereka.

Tidak ada seorang pun yang menanggung beban lebih besar melebihi Rasulullah s.a.w. Beban yang ditanggung Rasulullah s.a.w selama 23 tahun masa kenabiannya sangat berat. Dia diusir dari kotanya, sahabat-sahabatnya disiksa, dia berdarah-darah demi memperjuangkan Islam. Dan tidak ada seorang pun dalam sejarah manusia yang pernah menanggung beban seberat Rasulullah s.a.w. Meski begitu, ketika dia mengutus seorang Sahabat pada sebuah misi untuk menyebarkan Islam,
dia memberitahunya “Berilah kemudahan dan jangan dipersulit. Pelan-pelanlah dalam berdakwah kepada orang lain.” Subhanallah! Dia tidak langsung mengharapkan semua orang untuk langsung tunduk kepada Allah dengan ibadah yang sempurna. Tidak, Rasulullah mengajarkan Islam secara perlahan-lahan.

Jadi ketika teman kita belum mau shalat, jangan langsung disuruh shalat Tahajjud. Ajarkan untuk shalat 5 waktu dahulu. Apabila shalatnya masih bolong-bolong, tidak apa-apa, setidaknya sudah ada kemajuan dari yang tadinya belum mau shalat, jadi mau shalat . Terus ajarkan secara pelan-pelan. Apabila sekarang sudah berhasil shalat 5 waktu, barulah ajak shalat berjama'ah ke masjid. Setelah berhasil shalat berjama'ah di masjid, ajarkan shalat rawatib. Setelah berhasil shalat rawatib, barulah naik tingkat lagi dengan shalat Tahajjud, dan begitu seterusnya.


Demikianlah artikel ini. Semoga kita bisa lebih bersabar ketika mengenalkan Islam kepada orang-orang yang tingkat keimanannya masih rendah. Semoga Allah memudahkan kita dalam berdakwah. Aamiin.

YouTube Channel Lampu Islam: youtube.com/ArceusZeldfer
Facebook Page Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam