logo blog

16 Dosa Yang Dibalas Allah dengan Neraka


Disini akan disebutkan beberapa dosa yang menurut Al-Qur’an dan hadits, akan dibalas dengan azab neraka:

1) Mengikuti Golongan yang Menentang Sunnah

Abu Daud, ad-Darimi, Ahmad, al-Hakim, dan lain-lain meriwayatkan bahwa Mu’awiyah ibn Abi Sufyan berkata:

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berdiri di antara kami dan bersabda, “Sebagian Ahlul kitab sebelum kamu terpecah menjadi 72 golongan. Umat ini akan terbagi menjadi 73 golongan, dimana 72 di antaranya akan masuk neraka, dan hanya satu golongan yang akan masuk surga. Kelompok (yang masuk surga) ini adalah al-Jama’ah.”

Hadits ini sahih. Setelah menyebutkan berbagai sanadnya, al-Hakim mengatakan, “Para perawi tersebut membuktikan bahwa hadits ini sahih.” Adz-Dzahabi sependapat dengannya. Ibn Taimiyah berkata, “Hadits ini adalah sebuah hadits yang masyhur-sahih.” Asy-Syathibi mengatakan dalam al-I’tisham bahwa hadits ini sahih.

Syekh Nashir ad-Din al-Albani membuat daftar para perawinya dan menyatakan bahwa hadits tersebut, tanpa diragukan lagi, adalah sahih. [1]

Siddiq Hasan Khan menyatakan bahwa keterangan dalam hadits tersebut, yang menyatakan bahwa “mereka semua akan masuk neraka, kecuali satu golongan,” atau “72 golongan akan masuk neraka”, merupakan keterangan tambahan yang dhaif. Pendapat yang disampaikannya ini berasal dari Syekh asy-Syaukani, yang mengutip dari Ibn al-Wazir dan Ibn Hazm. Ia menyetujui pendapat yang mengatakan bahwa keterangan tambahan ini merupakan buatan kaum ateis, karena keterangan tersebut dapat menjauhkan orang dari agama Islam dan membuat mereka takut untuk memeluk Islam. [2]

Syekh Nashir ad-Din al-Albani menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa keterangan tambahan tersebut dhaif, karena dua alasan:

(i) Penelitian yang dilakukan secara ilmiah terhadap hadits tersebut menunjukkan bahwa hadits tersebut sahih, sehingga pendapat yang menilainya dhaif tidak ada bobotnya.

(ii) Yang mengatakan bahwa hadits ini sahih jauh lebih banyak jumlahnya dan lebih dalam pengetahuannya dari Ibn Hazm, yang terkenal sangat ketat dengan kritikan-kritikannya. Karena ia adalah satu-satunya orang yang berpendapat demikian, maka pendapatnya tidak seyogyanya dianggap sebagai bukti, bahkan jika tidak ada pertentangan pendapat sekalipun. Maka, bagaimana mugnkin pendapatnya dianggap sebagai bukti jika hal itu berbeda dengan pendapat semua orang lain?

Ibn al-Wazir menolak hadits tersebut dari segi maknanya. Siddiq Hasan Khan membicarakan persoalan ini dalam Yaqazah Uli al-I’tibar. Ia menerangkan bahwa implikasi dari keterangan tambahan tersebut ialah bahwa jumlah umat Muhammad yang masuk surga sangat sedikit, padhaal nash-nash yang sahih menyatakan bahwa jumlah umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam yang masuk surga banyak sekali, mencapai separuh dari penduduk surga. [3]

Perbedaan pendapat ini dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut:

(i) Membagi umat ke dalam 73 golongan tidak berarti bahwa kebanyakan mereka akan masuk neraka, karena kebanyakan dari umat ini adalah orang-orang awam yang tidak termasuk ke dalam golongan-golongan tersebut. Orang-orang yang melakukan penyimpangan dan membuat aturan-aturannya sendiri yang bertentangan dengan sunnah sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mau masuk ke dalam perangkap tersebut.

(ii) Tidak semua orang yang dalam beberapa hal berbeda pendapat dengan Ahlu Sunnah dianggap sebagai golongan yang menentang Sunnah. Yang tergolong dalam penentang Sunnah adalah orang-orang yang membuat aturan-aturan yang menjadikan mereka sebagai suatu kelompok terpisah dan independen, dan menyebabkan mereka meninggalkan nash-nash dari Al-Qur’an dan hadits, seperti kelompok Khawarij, Mu’tazilah, dan Rafidi.

Mengenai orang-orang yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah serta tidak menyimpang dari keduanya, jika mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal, tidak berarti mereka termasuk ke dalam golongan-golongan yang akan dimasukkan ke dalam neraka.

(iii) Keterangan tambahan tersebut menyatakan bahwa semua golongan lainya akan masuk neraka, tetapi tidak berarti bahwa mereka akan kekal di dalamnya.

Kita mengetahui bahwa sebagian dari golongan-golongan tersebut adalah orang-orang kafir yang akan kekal di dalam neraka, seperti kelompok Batini yang pura-pura beriman tetapi hati mereka sebenarnya kafir, dan kaum Ismailiah, Druze, Nusayris, dan lainnya.

Terdapat juga beberapa golongan lain yang berbeda pendapat dengan Ahlu Sunnah dalam hal-hal yang cukup serius, tetapi tidak berarti mereka kafir. Memang tidak ada jaminan yang tegas bahwa mereka akan masuk surga, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mungkin saja memaafkan atau menghukum mereka, sesuai dengan kehendak-Nya. Mungkin mereka melakukan amalan-amalan baik yang dapat menyelamatkan mereka dari api neraka, atau mungkin mereka diselamatkan berkat syafaat para nabi, atau mungkin saja mereka masuk neraka dan tinggal di dalamnya selama yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian mereka akan dikeluarkan atas pertolongan para nabi dan ampunan dari Yang Maha Pengampun.

2) Menolak Hijrah di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala


Umat Muslim tidak dibenarkan tetap berada di Dar al-Kufr (negeri non-Muslim) jika ada negeri Muslim yang bisa mereka huni, terutama apabila mereka terus dihadapkan kepada cobaan-cobaan dan penderitaan di Dar al-Kufr tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala tidak aakn menerima alasan apapun dari orang-orang yang menolak pindah tersebut. Allah mengatakan bahwa para malaikat akan mengutuk orang-orang ini pada waktu mereka menghadapi maut, dan tidak akan menerima alasan bahwa mereka lemah dan tertindas di bumi.

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Merek menjawab “Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekkah).” Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki, wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk) hijrah.(Qs. An-Nisa’[4]: 97-98)

Allah tidak akan mengampuni siapapun dari mereka, kecuali mereka yang lemah, tertindas, dan tidak mempunyai apa-apa untuk hijrah ke negeri-negeri Islam.

3) Menghakimi Secara Tidak Adil


Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan syariat untuk menegakkan keadilan di antara umat manusia, dan Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berlaku adil, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan...(Qs. An-Nahl[16]: 90)

Allah mewajibkan para penguasa dan hakim untuk belaku adil dan jangan sekali-kali berlaku curang:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkan dengan adil...” (Qs. An-Nisa’[4]: 58)

Allah subhanahu wa ta’ala mengancam dengan azab neraka orang-orang yang menjatuhkan hukuman tanpa keadilan. Buraidah ibn al-Husaib meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Ada tiga jenis hakim: yang satu penghuni surga dan dua lainnya penghuni neraka. Hakim yang menghuni surga adalah hakim yang tahu kebenaran dan menjatuhkan hukuman berdasarkan kebenaran tersebut. Sedangkan hakim yang mengetahui kebenaran, tetapi menjatuhkan hukuman yang tidak adil, ia akan masuk neraka, dan begitu juga dengan hakim yang menghakimi orang tanpa pengertian dan pengetahuan. (H.R Abu Daud) [4]

4) Berbohong tentang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam


Ibn al-Atsir dalam buku terkenalnya, Jami’ al-Ushul, memuat sebuah bab dimana dia mengutip banyak hadits yang memperingatkan orang agar jangan berbohong tentang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Di dalamnya juga dikutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi yang berasal dari ‘Ali ibn Abi Thalib, yang berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Jangan berbohong tetnang aku (mengatakan sesuatu sebagai ucapanku padahal bukan), karena siapa saja yang berbohong tentang aku akan masuk neraka.’”

Bukhari meriwayatkan bahwa Salamah ibn al-Akwa’ mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Siapa yang sengaja berbohong tentang aku, biarkan ia mengambil tempat tinggalnya di neraka.’”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari al-Mughirah ibn Syu’bah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Berbohong tentang aku tidak sama dengan berbohong tentang siapa saja selain aku. Barangsiapa yang berbohong tentang aku, biarlah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka.”

5) Sombong


Salah satu dosa besar (kaba’ir) adalah sikap sombong. Abu Hurairah mengabarkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Sombong adalah jubah-Ku dan kebesaran-Ku. Barangsiapa menandingi-Ku dalam hal salah satu dari keduanya, akan Aku masukkan dia ke dalam neraka.’ (Menurut riwayat lain, ‘Aku akan membuat dia merasakan api neraka’).” (H.R. Muslim)

Ibn Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak seorang pun yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong, sekalipun seberat atom, akan masuk surga.” Seseorang bertanya, “Tetapi bagaimana dengan orang yang menyukai baju dan sepatunya agar kelihatan bagus?” Beliau menjawab, “Allah subhanahu wa ta’ala itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (H.R Muslim)

6) Membunuh Orang Tanpa Alasan yang Sah


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

Dan siapa yang membunuh seorang Muslim dengan sengaja, maka balasannya ialah jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, mengutuknya, serta menyediakan azab yang sangat besar baginya.[5]

Seorang Muslim tidak diperkenankan membunuh seorang Muslim yang lain, kecuali dalam tiga hal, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak dibenarkan seorang Muslim menumpahkan darah seorang Muslim lainnya yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah nabi-Nya, kecuali dalam tiga hal: menebus nyawa dengan nyawa (dalam kasus pembunuhan), lelaki menikah yang melakukan perzinaan, dan seseorang yang meninggalkan agama dan jama’ahnya.” [6]

Bukhari meriwayatkan dari Ibn ‘Umar bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda, “Seorang Muslim mempunyai kesempatan selama ia tidak menumpahkan darah yang dilarang untuk ditumpahkan.” Ibn ‘Umar berkata, “Salah satu keadaan dimana kita tidak bisa meloloskan diri darinya adalah menumpahkan darah tanpa alasan yang sah.” [7]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memperingatkan orang-orang Islam agar mereka tidak berkelahi atau saling berperang, dan mengatakan bahwa baik yang melakukan pembunuhan maupun yang menjadi korbannya, keduanya akan masuk neraka. Abu Bakrah berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Jika dua orang Muslim saling bertarung dengan pedang, baik yang membunuh maupun yang terbunuh akan masuk neraka.’ Saya bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengenai yang membunuh sudah jelas, tetapi bagaimana dengan yang terbunuh?’ Beliau berkata, ‘Ia juga berusaha keras untuk membunuh lawannya.’” [8]

Oleh karenanya, hamba Allah yang benar tidak akan mau berkelahi dengan atau memerangi saudaranya yang seiman, karena takut bahwa ia juga akan masuk neraka, sebab yang membunuh disamping akan menanggung dosa-dosanya sendiri, juga akan menanggung dosa orang yang dibunuhnya itu.

Ceritakanlah kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Habil berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan memikul dosa karena membunuhku dan dosamu sendiri, lalu engkau akan menjadi penghuni neraka.” Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat aniaya.” (Qs. Al-Ma’idah[5]: 27-29)

7) Memakan Riba


Salah satu dosa yang akan mengantarkan seseorang ke dalam neraka adalah memakan riba. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengenai orang-orang yang melakukan dosa ini setelah ia mengetahui bahwa Allah melarangnya:

... siapa yang mengerjakannya lagi (makan riba), maka mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(Qs. Al-Baqarah[2]: 275)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya mendapatkan keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir.(Qs. Ali Imran[3]: 130-131)

Menurut sebuah hadits yang telah disepakati keasliannya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menganggap riba sebagai satu di antara tujuh dosa yang akan mencelakakan pelakunya ke dalam api neraka. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Hindarilah tujuh dosa yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka.” Para Sahabat bertanya, “Apa saja dosa-dosa itu ya Rasulullah?” Beliau berkata, “Menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala, sihir, membunuh seseorang yang dasar pembunuhannya dilarang Allah subhanahu wa ta’ala kecuali untuk menegakkan keadilan, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan memfitnah wanita-wanita beriman.”

8) Memakan Harta Orang Lain Secara Tidak Adil


Dosa lain yang dapat menjebloskan kita ke dalam api neraka adalah memakan harta orang lain secara tidak adil, sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan siapa yang berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Qs. An-Nisa’[4]: 29-30)

Termasuk memakan harta orang lain secara tidak adil adalah memakan harta anak yatim secara tidak adil. Allah subhanahu wa ta’ala dengan khusus menyebut harta anak yatim karena posisinya sangat lemah. Karena kedudukan mereka begitu lemah, harta mereka dapat dipakai oleh siapa saja dengan sangat mudah. Betapa kejinya dosa ini, dapat disimak dari firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara lalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api neraka yang menyala-nyala.(Qs. An-Nisa’[4]: 10)

9) Membuat Gambar Makhluk Hidup


Orang-orang yang akan mendapatkan hukuman berat pada hari kiamat nanti adalah mereka yang suka membuat gambar-gambar dan berusaha meniru ciptaan-ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Abdullah ibn Mas’ud berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu a’laihi wassalam bersabda, ‘Orang-orang yang akan mendapat hukuman paling berat pada hari kiamat kelak adalah orang-orang yang membuat gambar.’”

Ibn ‘Abbas berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Setiap orang yang membuat gambar akan masuk neraka, dan setiap gambar yang dibuatnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menciptakan baginya sebuah jiwa (maksudnya agar hukumannya semakin berlipat ganda), dan Allah subhanahu wa ta’ala akan menghukumnya di neraka.’” (H.R. Bukhari dan Muslim) [9]

‘Aisyah melaporkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda mengenai sebuah bantal yang dihiasi dengan gambar-gambar, “Orang-orang yang membuat gambar ini akan dihukum pada hari kiamat kelak. Kepada mereka akan dikatakan, ‘Berilah nyawa kepada gambar yang telah engkau buat itu.’” (H.R. Bukhari-Muslim) [10]

‘Aisyah juga meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Orang-orang yang akan mendapat hukuman berat adalah orang-orang yang meniru ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala.” [11]

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa dia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Siapa yang lebih besar kesalahannya daripada seseorang yang mencoba menciptakan seperti ciptaan-Ku? Coba suruh mereka menciptakan sebutir padi-padian atau menciptakan sebuah biji (benih) atau sebutir jawawut.’” (H.R. Bukhari-Muslim) [12]

10) Cendrung Kepada Orang-orang yang Berbuat Lalim


Salah satu sebab mengapa orang masuk neraka adalah kecendrungan dan dukungannya kepada orang-orang yang melakukan kesalahan atau berbuat lalim, yaitu musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala: “Dan janganlah kamu cendrung kepada orang-orang lalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Qs. Hud[11]: 113)

11) Wanita yang Berpakaian Tetapi Seperti Telanjang dan Orang yang Mencambuk Punggung Manusia


Tipe manusia lainnya yang akan masuk neraka adalah wanita-wanita jahil yang suka memamerkan tubuhnya untuk merayu lelaki, dan tidak pernah menaati perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Ada dua jenis manusia penghuni neraka yang tidak pernah aku lihat; orang yang membawa cambuk seperti ekor ternak, yang mereka gunakan untuk mencambuk orang lain, dan wanita-wanita yang memakai pakaian tetapi terlihat seperti telanjang, yang berjalan dengan genitnya, dengan kepala seperti punuk unta yang miring ke salah satu sisi. Mereka tidak akan pernah masuk surga, bahkan mereka tidak akan bisa mencium wanginya surga, kendati pun wangi surga itu tercium (oleh orang lain) dari jarak yang sangat jauh.” (H.R. Muslim, al-Baihaqi, dan Ahmad) [13]

Mengenai orang-orang yang memiliki cambuk seperti ekor binatang ternak, al-Qurtubi berkata, “Cambuk semacam ini dapat kita lihat bahkan sampai sekarang ini di Maroko.” Menanggapi ucapan al-Qurtubi tersebut, Siddiq Hasan Khan berkata, “Memang cambuk yang demikian itu dapat dilihat setiap waktu dan di setiap tempat, dan jumlahnya semakin hari semakin banyak di kalangan para pemimpin. Semoga kita dilindungi Allah subhanahu wa ta’ala dari semua yang dibenci-Nya.” [14] Di zaman sekarang ini pun kita masih dapat menyaksikan orang-orang seperti itu di banyak tempat mencambuk orang. Semoga orang-orang itu serta para sekutunya binasa!

Dewasa ini banyak wanita yang memakai pakaian tetapi mereka kelihatan seperti telanjang dan tampaknya fenomena seperti ini sudah sangat meluas pada masa sekarang ini. Persis seperti yang dinubuatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, mereka berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan genit, dengan kepala seperti punuk unta yang miring ke salah satu sisi.

12) Orang-orang yang Suka Menyiksa Makhluk Hidup


Muslim meriwayatkan dalam kumpulan hadits-hadits sahihnya dari Jabir bahwa Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam bersabda, “Kepadaku diperlihatkan neraka, dan aku melihat seorang wanita Bani Israil yang sedang disiksa karena seekor kucing yang dimilikinya. Wanita tersebut mengikat kucingnya tetapi tidak memberinya makan, atau membiarkannya memakan serangga-serangga yang terdapat di tanah sampai ia mati kelaparan.” [15]

Jika siksaan seperti ini harus diterima oleh seroang yang menyiksa kucing, bagaimana azab yang akan diterima oleh rang-orang yang memakai semua cara untuk menyiksa manusia, apalagi yang disiksa itu adalah orang-orang yang berada di jalan yang benar untuk mempertahankan keyakinan dan agama mereka (Islam)?

13) Menuntut Ilmu Secara Tidak Ikhlas


Al-Hafizh al-Mundziri mengatakan bahwa banyak hadits yang memperingatkan orang-orang yang sedang menuntut ilmu untuk tujuan-tujuan yang bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Disini kita kutip beberapa buah saja. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya dituntut hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala tetapi ia menuntunya hanya untuk maksud-maksud keduniawian, ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat nanti.” (H.R. Abu Daud, Ibn Majah, Ibn Hibban, dan al-Hakim). Menurut al-Hakim, hadits ini sahih berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan Bukhari dan Muslim.

Jabir berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah menuntut ilmu dengan niat untu menyaingi orang yang berilmu, atau agar menang berdebat dengan orang awam, atau untuk menonjolkan diri di hadapan orang banyak! Barangsiapa yang melakukan hal itu akan masuk neraka.” (H.R. Ibn Majah, Ibn Hibban, dan al-Baihaqi)

Ibn ‘Umar berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ilmu dengan alasan bukan untuk kepentingan Allah subhanahu wa ta’ala maka ia akan tinggal di neraka.” (H.R. Tirmidzi, dan Ibn Majah dari Ibn ‘Umar melalui Khalid ibn Duraik, yang tidak mendengar langsung dari Ibn ‘Umar; para perawinya dapat dipercaya.) [16]

14) Minum dari Wadah yang Terbuat dari Emas dan Perak


Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umm Salamah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Orang yang minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak sama dengan menuangkan api neraka ke dalam perutnya.” Menurut sebuah riwayat yang diceritakan oleh Muslim, kata-katanya yang sebenarnya adalah: “Orang yang makan dan minum dari tempat yang terbuat dari emas dan perak ...” [17]

Hudzaifah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Jangan memakai sutra atau brokad, jangan minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak, dan jangan makan dari piring-piring serupa itu, karena benda-benda tersebut kepunyaan mereka di dunia ini, sedang kepunyaan kamu di akhirat.” (H.R. Bukhari dan Muslim) [18]

15) Menebang Pohon yang Memberikan Keteduhan kepada Orang Lain


‘Abdullah ibn Hubaisy berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa menebang pohon-pohon yang memberikan keteduhan kepada orang lain, Allah subhanahu wa ta’ala akan melemparkannya ke neraka dengan kepala lebih dulu.” (H.R. Abu Daud) [19]

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menebang pohon-pohon tempat berteduh akan dilemparkan dengan kepala di bawah ke dalam neraka.” [20]

16) Bunuh Diri


Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan besi (benda tajam), maka besi tersebut akan berada di tangannya, lalu ditikamkan ke perutnya untuk selamanya di neraka nanti. Barangsiapa yang membunuh dirinya denganracun, maka di neraka nanti dia akan meminum racun tersebut untuk selamanya. Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung dan mati, maka dia akan menjatuhkan dirinya untuk selamanya di neraka kelak.” [21]

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang mencekik dirinya, maka dia juga akan mencekik dirinya di neraka kelak; barangsiapa yang menusuk dirinya, maka dia juga akan menusuk dirinya di neraka.” [22]

[1] Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits no. 204
[2] Yaqazah Uli al-I’tibar, hal. 206
[3] Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits no. 204; Yaqazah Uli-al-I’tibar, hal. 207
[4] Jami’ al-Ushul, X, hal. 168. Penyunting buku ini berkata, “Hadits ini hasan-sahih.”
[5] Tafsir ibn Katsir, II, hal. 355
[6] Tasir ibn Katsir, II, hal. 355
[7] Shahih al-Bukhari, bab “ad-Diyat.” Lihat Fath al-Bari, XII, hal. 187
[8] Diriwayatkan oleh Muslim, IV, hal. 2213
[9] Ibid
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, III, hal. 316, no. 1326
[14] Yaqazah Uli al-I’tibar, hal. 113
[15] Misykat al-Mashabih, II, hal. 688
[16] Hadits-hadits ini dan sumber-sumbernya dapat dibaca pada al-Hafizh al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib, I, hal. 91
[17] Misykat al-Mashabih, II, hal. 462
[18] Ibid
[19] Ibid. Hal. 125. Syekh Nashir ad-Din al-Albani menyebutkannya dalam Shahih al-Jami’; V, hal. 341, hadits no. 6352, dan menceritakan bahwa hadits ini berasal dari Abu Daud. Al-Albani menilai hadits ini sahih.
[20] Menurut al-Albani, hadits ini sahih
[21] At-Takhwif min an-Nar, hal. 148
[22] Shahih al-Jami’, IV, hal. 114