logo blog

Bukti-bukti Bahwa Bibel Tidak Bisa Dipercaya | Bagian Ketiga




Berikut ini adalah ringkasan dari apa yang telah kita bahas hingga saat ini:

1) Bagian 1: Bibel yang dikenal dengan nama “Yohanes” hampir pasti tidak ditulis oleh Yohanes murid Yesus (Silahkan klik link berikut untuk membacanya: Siapakah yang Menulis Kitab-kitab dalam Bibel Sebenarnya?).

2) Bagian 2: penerjemah Bibel secara tidak jujur menggunakan huruf besar pada kata 'dia' dalam Yohanes 3:16 ("Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal") untuk memberi kesan seolah-olah Yesus tampak seperti Tuhan; (Silahkan klik link berikut untuk membacanya: Bukti Bahwa Para Penerjemah Bibel Tidak Jujur).

3) Juga di Bagian 2: Bibel tidak dapat dipercaya, dan karenanya tidak memenuhi standar untuk disebut sebagai kitab suci.

Sekarang kita lanjut kepada bagian ketiga, dan ini sangat penting. Dalam rangka untuk mempercayai klaim Yohanes 3:16, Bibel sendiri harus lulus dari analisis kritis. Itulah analisis yang saya lanjutkan disini. Artikel pada bagian sebelumnya lebih teknis; tapi artikel kali ini membahas hal yang lebih umum.

Mari kita mulai. Jika Bibel adalah firman Tuhan, bagaimana dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa mereka bukanlah firman Tuhan? Dan inilah yang kita temukan dalam 1 Korintus 7:12: "Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan..."- Ini menunjukkan bahwa ayat ini berasal dari si penulis (dalam hal ini, Paulus), dan bukan dari Tuhan. Jadi bagian dari Bibel ini, menurut pengakuannya Paulus sendiri, bukanlah firman Tuhan. 1 Korintus 1:16 menunjukkan bahwa Paulus tidak ingat apakah ia membaptis orang lain selain Krispus, Gayus, dan keluarga Stefanus: "Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis." Oke, apakah ini terdengar seperti firman Tuhan? Akankah Tuhan berfirman, "Paulus membaptis Krispus, Gayus, dan keluarga Stefanus, dan mungkin juga orang lain. Tapi itu waktu dahulu, dan, yah, kau tahu, begitu banyak hal telah terjadi sejak saat itu. Sekarang Aku sedikit lupa akan hal itu."?

1 Korintus 7: 25-26 mencatat bahwa Paulus telah menulis, "Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya." 2 Korintus 11:17 berbunyi, "Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah." Sekali lagi, apakah ada yang percaya bahwa Tuhan berbicara seperti ini? Paulus mengakui bahwa dia memberi jawaban tanpa bimbingan dari Tuhan dan ini menurut pendapatnya sendiri, dan bahwa ia secara pribadi meyakini dirinya dapat dipercaya dalam satu hal namun berkata bahwa dirinya bodoh dalam hal yang lain. Paulus merasa pendapatnya sendiri benar dengan kata-kata, "Dan aku berpendapat, bahwa aku juga mempunyai Roh Allah" (1 Korintus 7:40). Masalahnya adalah banyak orang telah mengklaim dirinya bertindak berdasarkan tuntunan "Roh Allah," sementara mereka melakukan beberapa hal yang sangat aneh dan jahat. Jadi apakah dalam hal ini kepercayaan diri Paulus harus kita kagumi atau kita waspadai? Bagaimana pun kita menjawab pertanyaan ini, intinya adalah bahwa sementara keyakinan manusia terkadang goyah, tapi tidak demikian kasusnya dengan Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Tuhan tidak akan pernah mengatakan, "Saya kira..." seperti yang Paulus lakukan.

Pada intinya, Bibel bukanlah kitab yang 100 persen murni sebagai firman Tuhan. Di dalamnya juga tercampur pendapat dan kata-kata dari manusia.


Jika kita menganggap Bibel sebagai wahyu, termasuk menceritakan kisah Yesus Kristus, maka kita harus bertanya-tanya mengapa Bibel sangat tidak konsisten. Contohnya, ketika seorang selebriti meninggal dunia, kata-kata terakhir mereka seringkali dicatat dan diabadikan oleh para fans mereka. Namun, Bibel memberi kita dua kesaksian yang berbeda tentang kata-kata terakhir Yesus. Lukas 23:46 mencatat: "Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.”  Tapi Yohanes 19:30 mencatat hal yang sama sekali berbeda. Jadi setelah Yesus menerima anggur asam, dia berkata, "Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah ia: "Sudah selesai." Lalu ia menundukkan kepalanya dan menyerahkan nyawanya."

Ini adalah kontradiksi yang jelas dan tak terbantahkan.

Ajaran Yesus yang paling terkenal dan dihormati kemungkinan adalah "Doa Bapa Kami," dimana Matius 6: 9-13 mencatatnya sebagai berikut: "Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." Tapi Lukas 11: 2-5 mencatat do’a yang sama dengan beberapa perbedaan yang sangat kentara: "Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

Hmm. Do’a Yesus Kristus yang paling terkenal, sementara dua tulisan dalam Bibel yang mencatatnya saling tidak sesuai. Perbedaan ini begitu besar sampai-sampai The Jesus Seminar, perkumpulan besar dari sarjana-sarjana Bibel, mengumumkan bahwa satu-satunya kata dalam Do’a Bapa Kami yang benar-benar terucap dari mulut Yesus adalah kata "Bapa" (Newsweek. 31 Oktober 1988. hlm. 80). Kesimpulan ini mencengangkan, karena ini tidak hanya menggetarkan salah satu pondasi yang paling diterima di dalam keimanan Kristen, tetapi mempertanyakan legitimasi keimanan tersebut.

Selain itu, "Rabbi" Yesus mengajarkan hukum Perjanjian Lama. Lebih jauh, ia mengajarkan bahwa hukum Taurat akan bertahan (sampai langit dan bumi lenyap): "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." (Matius 5: 17-18). Ditambahkan lagi perkataannya: "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." (Matius 19:17). Jadi itulah yang diajarkan Yesus. Sekarang, apakah yang Paulus ajarkan? Jawabannya adalah penebusan dosa oleh iman – Sebuah konsep hampa bahwa dengan beriman kepada Yesus Kristus dapat menghapuskan semua dosa seseorang. Paulus tidak hanya mengubah satu titik dari hukum Perjanjian Lama. Tidak, ia malah membatalkan seluruh hukumnya: "Dan di dalam dia (Yesus Kristus) setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa" (Kisah Para Rasul 13:39). Benar-benar sebuah pernyataan yang bertentangan dengan Yesus. Kita bisa dengan mudah membayangkan suara pekikan dari orang-orang di zaman itu berkata, "Silahkan, lanjutkan perkataanmu!" Dan inilah lanjutannya: "Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat" (Roma 7: 6). Atau, jika saya boleh menjelaskannya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami: "Tapi sekarang aku ingin memberitahu kalian untuk melupakan hukum kuno ini, yang telah membuat hidup kita menjadi tidak nyaman dalam jangka waktu yang lama. Lebih baik hidup sesuai dengan agama dan aturan yang kita ciptakan sendiri, bukan oleh wahyu kuno yang membuat hidup kita tidak nyaman.” Menurut Paulus, hukum dari Tuhan baik untuk Musa dan Yesus, tetapi tidak untuk manusia-manusia yang lain.

Mari kita lanjutkan. Tidak ditemukan dalam Bibel bahwa Yesus mengajarkan Trinitas. Bahkan, ia mengajarkan tauhid (keesaan Tuhan). Bacalah Markus 12:30, Matius 22:37 dan Lukas 10:27: "Yang utama dari segala perintah adalah:  “Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa." Tapi tiba-tiba, teologi Paulus mengajarkan trinitas.

Jadi ajaran Yesus yang paling utama - kata-kata terakhirnya, do’anya, keesaan Tuhan, dan hukum dari Sang Pencipta bagi umat manusia - semuanya dibatalkan dalam oleh Paulus, atau oleh para ahli agama yang mengikuti Paulus di belakangnya. Ajaran Yesus yang manakah, tepatnya, yang tidak bertentangan dengan Paulus? (Lebih jauh mengenai masalah ini, bacalah: Pertentangan Ajaran Paulus dengan Yesus)

Kontradiksi adalah suatu hal yang menjadi ciri khas Bibel, para pembacanya pun tidak mengetahui ayat mana yang harus dipercaya: II Samuel 24: 1 mengatakan, "Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: "Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda." Namun, 1 Tawarikh 21: 1 mengatakan, "Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel." Yang manakah yang benar? Tuhan atau Iblis? Kedua ayat ini menceritakan kejadian yang sama, tapi yang satu mengatakan bahwa pelakunya adalah Tuhan dan yang satu lagi mengatakan pelakunya adalah Iblis. Ada perbedaan yang sangat fatal. Jika sebuah 'kitab suci' tidak bisa membedakan antara Tuhan dengan Iblis, satu-satunya hal yang pasti adalah bahwa kitab suci itu bukanlah sebuah wahyu yang murni. (Lebih jauh tentang masalah ini, bacalah: Kesalahan-Kesalahan Fatal dalam Perjanjian Lama).

Ada begitu banyak kontradiksi sampai-sampai para sarjana Kristen menulis banyak sekali buku untuk membahas permasalahan ini. Misalnya, Matius 2:14 dan Lukas 2:39 berbeda pendapat mengenai apakah keluarga Yesus melarikan diri ke Mesir atau Nazareth (di Palestina). Matius 6: 9-13 dan Lukas 11: 2-4 berbeda pendapat perihal do’a Yesus. Matius 11: 13-14, 17: 11-13 dan Yohanes 1:21 saling berkontradiksi mengenai apakah Yohanes Pembaptis adalah Elia atau bukan. (Lebih lengkap mengenai masalah ini, silahkan baca: Kontradiksi dalam Bibel dan Ajaran Yesus yang Menghilang).

Kontradiksi yang lebih buruk terdapat dalam Bibel berkenaan dengan kisah-kisah seputar penyaliban: Siapa yang membawa salib? Apakah Simon (Lukas 23:26, Matius 27:32, Markus 15:21) atau Yesus (Yohanes 19:17)? Apakah Yesus mengenakan jubah merah (Matius 27:28) atau jubah ungu (Yohanes 19: 2)? Apakah tentara Romawi menempatkan empedu (Matius 27:34) atau mur (Markus 15:23) dalam anggurnya? Apakah Yesus disalibkan jam sembilan (Markus 15:25) atau jam dua belas (Yohanes 19: 14-15)? Apakah Yesus dinaikkan pada hari pertama (Lukas 23:43) atau tidak (Yohanes 20:17)? (Lebih lengkap mengenai masalah ini, silahkan baca: Misteri Kisah Penyaliban Yesus Kristus).