logo blog

Keutamaan Istighfar di Bulan Ramadhan


Hati manusia itu diibaratkan sebagai kristal putih bersih yang bercahaya. Namun seiring berjalannya waktu, kristal yang putih bersih itu dihinggapi oleh debu-debu hitam. Apabila dibiarkan terus-menerus, lama-kelamaan seluruh kristal itu akan tertutup oleh debu-debu hitam tersebut dan cahayanya pun akan redup. Apabila dibiarkan begitu saja, lama-lama cahaya redup itu pun akan padam. Oleh karenanya, agar kristal putih itu senantiasa bersih dan bercahaya, secara berkala harus dibersihkan. Begitu pula hati manusia yang tadinya putih bersih. Seiring berjalannya waktu, manusia terkadang melakukan perbuatan dosa, baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Untuk membersihkan dosa-dosa itu agar hatinya tetap bersih, maka manusia haruslah memohon ampun kepada Allah secara kontinyu. Salah satu caranya adalah dengan senantiasa melakukan istighfar.

Bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam beristighfar sebanyak seratus kali dalam sehari. Sementara di hadits lainnya dikatakan bahwa Rasulullah beristighfar sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sudah mendapatkan jaminan masuk surga dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu bagaimana dengan kita sebagai manusia biasa yang sudah pasti berlumuran dosa? Seberapa sering kita beristighfar dalam sehari?


Terlebih lagi yang paling utama adalah istighfar di bulan Ramadhan. Hal ini karena Ramadhan adalah bulan yang penuh hikmah, rahmat, dan ampunan dari Allah. Letak dari ampunan Allah ini bentuknya beraneka ragam. Yang menarik adalah bahwa ampunan itu datang karena beberapa malaikat telah diberikan tugas untuk membacakan istighfar di bulan yang mulia itu. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

Umatku telah dikaruniai lima perkara, yang tidak (belum) pernah diberikan kepada umat sebelumnya. Pertama, jika datang malam pertama dari bulan Ramadhan, Allah memandang mereka dengan penuh rahmah (kasih). Dan barangsiapa yang dipandang dengan penuh rahmah (kasih) tentu tidak akan disiksa (di akhirat kelak). Kedua, Allah menugaskan beristighfar bagi umatku. Ketiga, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Keempat, Allah berfirman kepada surga, ‘Hiaslah dirimu!’ Dan firman selanjutnya, ‘Sungguh beruntng hamba-hamba-Ku yang beriman, mereka adalah kekasihk-Ku.’ Kelima, Allah mengampuni mereka semua.

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menciptakan malaikat yang berwajah empat. Jarak wajah yang satu dengan yang lainnya sejauh perjalanan seribu tahun. Wajah yang satu bersujud hingga hari kiamat dan berdo’a dalam sujudnya: “Alangkah agungnya keindahan-Mu.” Dan dengan wajah yang kedua, ia memandang ke neraka sambil berkata, ‘Celakalah bagi siapa saja yang memasukinya.’ Dan dengan wajah yang ketiga ia memandang ke surga dan berkata, ‘Sungguh beruntung bagi siapa saja yang memasukinya.’ Dan dengan wajah yang keempat dia memandang ke ‘Arasy Allah sambil berdo’a, ‘Ya Tuhanku, kasihanilah dan jangan Engkau siksa mereka yang berpuasa Ramadhan dari umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.”

Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung

YouTube Channel Lampu Islam: YouTube.com/c/LampuIslam

Page Facebook Lampu Islam: Facebook.com/LampuIslam   
Google + Lampu Islam: Plus.google.com/+LampuIslam