logo blog

Keutamaan Shalat Jumat


Shalat Jumat mempunyai keutamaan serta faedah yang besar. Hal ini sesuai dengan hadits-hadits dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam. Abu Amir pernah meriwayatkan bahwa dia mendengar kabar ini dari ayah serta neneknya bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

Sesungguhnya di balik gunung Qaf terdapat sebidang tanah putih yang tidak dapat ditumbuhi tanaman. Kalau dilukiskan maka luas tanah itu seperti tujuh kali luas dunia, yang dipenuhi malaikat. Sehingga andaikata ada sebuah jarum yang dijatuhkan dari atas, niscaya terjatuh di atas kepala salah satu dari mereka. Tangan masing-masing malaikat memegang bendera yang panjangnya empat puluh farsakh. Tiap bendera bertuliskan “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah.” Bila tiba malam Jumat, mereka berkumpul di sekeliling gunung itu untuk merendahkan diri kepada Allah, dan memohon keselamatan untuk umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Dan jika fajar Subuh telah terbit, mereka berdo’a, ‘Ya Allah, ampunilah orang yang mandi di hari Jumat.’ Mereka berdo’a dengan suara dan tangisan yang keras. Lalu Allah berfirman, ‘Hai malaikat-Ku, apa yang kalian kehendaki?’ Mereka menjawab, ‘Kami memiliki keinginan agar Engkau berkenan untuk mengampuni dosa umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.’ ‘Aku telah mengampuni mereka,’ jawab Allah subhanahu wa ta’ala.


Dalam sebuah keterangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan seorang malaikat yang berdiri di bawah ‘Arasy. Ia mempunyai empat puluh ribu tanduk. Sedangkan jarak antara tanduk yang satu dengan tanduk lainnya sejauh perjalanan seribu tahun. Di atas masing-masing tengkuknya ada bulan sedangkan di dadanya terdapat bintang-bintang. Setiap hari Jumat ia bersujud kepada Allah sambil memohon, ‘Ya Allah, ampunilah dosa orang yang mengerjakan shalat Jumat dari umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.’ Dan Allah pun berfirman, ‘Wahai malaikat-Ku, saksikanlah, bahwasanya Aku telah mengampuni orang yang mengerjakan shalat Jumat.” (Kanzul Akhbar)

Di keterangan berbeda dikemukakan bahwa Allah telah menciptakan sebuah menara yang terdiri dari perak putih, berada di sebelah “Bait al-Makmur.” Bila diadakan perbandingan, maka tinggi menara itu sama dengan perjalanan yang dapat ditempuh sejauh lima ratus tahun.

Khusus pada tiap-tiap hari Jumat, malaikat Jibril naik ke atas menara itu dan beradzan. Kemudian Izrafil naik ke mimbar dan berkhutbah, sedangkan Mikail mengimami para malaikat. Setelah mereka selesai mengerjakan salat, kemudian Jibril berkata: “Pahala yang aku peroleh dari adzan yang telah aku lakukan akan aku berikan kepada para muadzin di dunia.”


Seakan tak mau kalah, maka Izrafil juga mengatakan: “Pahala yang aku peroleh dari khutbah yang telah aku lakukan akan aku persembahkan kepada para khatib di dunia.” Hal serupa dilakukan oleh Mikail. Ia juga tidak mau kalah dengan dua malaikat sebelumnya. Karenanya ia berkata: “Pahala yang aku peroleh dari kegiatan mengimami shalat aku berikan kepada para imam shalat Jumat di dunia.”

Tanpa ada komando, para malaikat yang mengikuti serta menyaksikan seluruh prosesi ibadah ini juga mengatakan: “Pahala yang telah kami peroleh dari mengerjakan shalat Jumat di belakang imam, kami berikan kepada seluruh umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam yang mengerjakan shalat Jumat di belakang imam.”

Mendengar ketulusan yang ditampilkan oleh para malaikat tadi, kemudian Allah berfirman: “Wahai malaikat-Ku, kalian telah memperlihatkan kemurahan hati sedemikian rupa, maka demi keagungan dan kebesaran-Ku, Aku nyatakan hari ini bahwa telah Kuampuni dosa-dosa semua hamba-Ku yang telah mengerjakan shalat Jumat dalam memenuhi perintah-Ku dan tuntunan kekasih-Ku Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.”

Malaikat Juga Menjaga Masjid di Hari Jumat

Keterangan-keterangan yang memberikan penegasan sekaligus bukti penguat terhadap adanya malaikat yang memiliki tugas khusus pada hari Jumat adalah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

Ketika hari Jumat telah tiba, maka Allah subhanahu wa ta’ala mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk turun ke bumi membawa kalam dari emas dan kertas dari perak. Mereka berdiri di pintu-pintu masjid, mencatat siapa saja yang masuk ke masjid. Ketika mereka (para jamaah) telah selesai mengerjakan shalat Jumat, para malaikat itu kembali ke langit, lalu melaporkannya kepada Allah, ‘Wahai Tuhan kami, kami telah mencatat siapa yang masuk masjid dan mengerjakan shalat Jumat.’

Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Hai malaikat-malaikat-Ku, demi kemuliaan-ku telah Kuampuni dosa-dosa mereka.” (Rauqanul Majalis)

Di dalam riwayat berbeda, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda:

Barangsiapa yang berangkat ke masjid untuk shalat Jumat pada jam pertama, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor unta. Barangsiapa yang berangkat pada jam kedua, maka seolah-olah ia telah berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang berangkat pada jam ketiga, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor kambing. Barangsiapa yang berangkat pada jam keempat, maka seakan-akan ia telah berkurban seekor ayam. Barangsiapa yang berangkat pada jam kelima, maka seakan-akan ia telah memberi hadiah berupa sebutir telur. [1] Dan bila imam telah naik mimbar, maka diilipat/ditutuplah buku-bukunya, dan diangkat kalam-kalamnya. Dan mereka berkumpul di sekeliling mimbar, untuk mendengarkan khutbah. Maka barangsiapa yang hadir sesudah itu, maka seakan-akan ia datang hanya untuk shalat.”

Al-Bukhari  mencatat hadits dari Amr bin Syuaib, bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam suatu ketika bersabda bahwa para malaikat menyelidiki hamba-hamba Allah yang ketika pergi ke shalat Jumat ternyata datangnya terlambat. Maka antara sesama malaikat yang bertugas kala itu saling bertanya perihal kegiatan yang dilakukan orang tersebut sehingga mengakibatkan datangnya terlambat. Kemudian merkea berdo’a , ‘Ya Allah, ya Tuhan kami, kalau sekiranya orang yang terlambat itu karena miskin, maka cukupkanlah dia. Kalau hal itu karena sakit, maka sudilah kiranya Engkau menyembuhkannya. Kalau karena sibuk, maka berikanlah kepadanya kelapangan waktu untuk beribadah kepada-Mu, dan jika keterlambatan itu lantaran bermain-main, maka palingkanlah hatinya untuk taat kepada-Mu.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Ada tiga hal yang kalau manusia mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka mengendarai unta untuk memperolehnya: Yaitu adzan, shaf pertama, dan berbegas pergi saat shalat Jumat.”

Salah seorang imam fiqih yang terkenal, Imam Ahmad bin Hanbal juga pernah menegaskan bahwa dari sekian waktu yang lebih afdhal kalau seseorang akan berangkat menuju masjid untuk shalat Jumat adalah pergi pada waktu pagi-pagi sekali.

Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung

YouTube Channel Lampu Islam: YouTube.com/c/LampuIslam

Page Facebook Lampu Islam: Facebook.com/LampuIslam   
Google + Lampu Islam: Plus.google.com/+LampuIslam 


[1] Untuk pembagian jam kedatangan ke masjid dalam rangka ibadah shalat Jumat adalah sebagai berikut: Jam pertama adalah sampai terbit matahari. Jam kedua yakni posisi matahari mulai tinggi. Jam ketiga adalah sampai kepada meluasnya sinar matahari (ketika sudah panas tempat kaki berpijak). Sedangkan jam keempat dan kelima adalah sesudah waktu Dhuha meninggi sampai kepada waktu zawal (tergelincirnya matahari). Sedangkan waktu tergelincirnya matahari itu adalah waktu khatib naik ke atas mimbar. Karena itu, tidak ada lagi waktu yang melebihinya.