logo blog

Kisah Malaikat Jibril Bertemu dengan Nabi Muhammad


Jibril ‘alaihissalam merupakan malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi. Seluruh ajaran agama yang wajib diketahui nabi-nabi untuk disampaikan kepada umatnya, bila tidak disampaikan secara langsung oleh Allah, maka akan diturunkan lewat malaikat Jibril.

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri menerima wahyu pertamanya lewat kabar dari Malaikat Jibril. Dalam berbagai keterangan, kala itu dalam suatu malam, Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam sedang berkhalwat (menyendiri) di gua Hira. Hal ini sudah menjadi kebiasaan beliau kala itu untuk menghilangkan berbagai kegundahan hatinya karena menyaksikan banyak penyimpangan yang dilakukan kaumnya seperti membunuh bayi-bayi perempuan, menyembah berhala, perang antar suku, dan sebagainya.

Tanpa diduga sebelumnya, datanglah Malaikat Jibril alaihissalam seraya berkata, “Bergembiralah hai Muhammad, aku adalah Jibril dan engkau adalah utusan Allah untuk umat ini.” Setelah itu Jibril alaihissalam memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca. Betapa terkejutnya perasaan beliau karena beliau tidak bisa membaca maupun menulis. Karena itu, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Belum selesai perasaan bingung nabi Muhammad, kemudian malaikat Jibril membekapnya dengan selimut yang biasa dipakainya untuk tidur, sehingga terasa sesak sekali. Berkali-kali malaikat Jibril melakukan hal itu seraya memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca. Tapi karena memang Nabi Muhammad benar-benar tidak dapat membaca, maka jawabannya tetap saja, “Aku tidak dapat membaca.”

Kejadian ini berlangsung sampai tiga kali, sehingga akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad yang menyatakannya sebagai nabi. Bunyi wahyu itu adalah:

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (makhluk). Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu itu Maha Pemurah. Yang mengajarkan tulis menulis dengan pena. Mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (Qs. Al-Alaq: 1-5)

Jadi, tugas malaikat Jibril adalah untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Selanjutnya, dengan metode berangsur-angsur, Jibril mengirimkan pesan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasulullah.


Sesudah wahyu pertama, agak lama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak menerima wahyu. Padahal ketika itu beliau sangat membutuhkannya. Keberadaan wahyu merupakan hal mendesak untuk memberikan dorongan kepada Nabi Muhammad ketika melihat kondisi kaumnya yang sangat terbelakang. Karenanya, acapkali Rasulullah berangkat ke tempat sunyi, misalnya di atas gunung, hanya untuk dapat bertemu malaikat Jibril dan mendengarkan wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Pernah suatu ketika Rasulullah berjalan-jalan, dan secara tidak sengaja terdengar ada suara dari langit. Begitu beliau menengadahkan wajahnya ke atas, ternyata yang tampak adalah malaikat Jibril alaihissalam. Ini merupakan kedua kalinya malaikat Jibril menampakkan dirinya di hadapan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Kala itu tampak Jibril duduk di antara langit dan bumi. Antara percaya dan tidak, maka beliau cepat-cepat pulang ke rumah dan minta diselimuti kepada sang istri, Khadijah radiyallahu anha. Ketika itu pulalah, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu untuk kedua kalinya, yaitu:

Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkan perbuatan dosa. Janganlah memberi karena ingin memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan bersabarlah terhadap segala tantangan untuk memenuhi perintah Tuhanmu.” (Qs. Al-Muddatstsir: 1-7)

Setelah turunnya wahyu kedua itu, selama kurang lebih 22 tahun, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dalam berbagai kesempatan menerima wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan puncak dari wahyu yang diterimanya adalah:

Pada hari ini Aku (Allah) telah menyempurnakan agama untukmu semua, dan Aku telah mencukupkan kenikmatan-Ku kepadamu semua dan Aku telah rela/ridha bahwa Islam itu sebagai agamamu semua.” (Qs. Al-Maidah: 3)

Di samping datang mengunjungi Rasulullah untuk menyampaikan wahyu, malaikat Jibril juga pernah datang dengan wujud yang berbeda kepada para Sahabat. Kejadian tersebut sebagaimana diceritakan oleh Sahabat Umar ibn Khaththab radiyallahu anhu dalam Sahih Muslim:

Suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, maka sekonyong-konyong nampaklah kepada kami seorang laki-laki yang memakai pakaian sangat putih dan berambut hitam. Tak terlihat padanya bekas (tanda-tanda) perjalanan dan tak seorang pun di antara kami yang mengenalnya, sehingga ia duduk di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lalu disandarkan lututnya pada lutut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan meletakkan tangannya di atas pangkuan Rasulullah kemudian berkata, “Hai Muhammad, terangkanlah padaku tentang Islam.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Islam yaitu hendaklah engkau bersaksi bahwasanya Muhammad itu utusan-Nya. Hendaklah engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan hendaklah engkau mengerjakan haji ke Baitullah (Makkah) jika sudah kuasa menjalankannya.”

Orang asing tersebut kemudian mengatakan, “Engkau benar.” Maka kami heran, ia yang bertanya namun ia juga yang membenarkannya.

Maka orang itu bertanya lagi, “Terangkanlah kepadaku tentang iman.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, terhadap utusan-utusan-Nya, hari kiamat, dan beriman pula kepada takdir baik dan buruk.” Orang itu berkata, “Engkau benar.” Maka orang itu berkata lagi, “Terangkan kepadaku tentang ihsan.”

Jawab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Hendaklah engkau beribadah (mengabdi) kepada Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya sekalipun engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau.”

Kembali orang tadi bertanya, “Beritahukan padaku tentang hari kiamat.” Maka Rasulullah menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” Orang itu selanjutnya bertanya lagi, “Terangkanlah padaku tentang tanda-tandanya”, maka Rasulullah pun menjawab, “Di antaranya, jika seorang hamba (budak) telah melahirkan tuan (majikan)nya. Dan jika engkau melihat orang yang tadinya miskin, berbaju compang-camping, sebagai penggembala kambing, sudah berubah menjadi orang yang mampu hingga berlomba-lomba dalam membangun bangunan yang megah.”

Kemudian orang itu pergi. Setelah aku diam sejenak, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Dia itu adalah Jibril, dia datang untuk menerangkan agama.” (H.R. Muslim)