logo blog

Malaikat 'Izrail: Sang Pencabut Nyawa



Malaikat ‘Izrail alaihissalam diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang memiliki kemiripan dengan malaikat Mikail alaihissalam baik dari segi wajah, sayap, besar, maupun kekuatannya (mengenai rupa malaikat Mikail, bisa dibaca dalam artikel berikut: Malaikat Mikail: Sang Pengatur Rezeki dan Hujan). Nyaris tidak ada yang berbeda dari kedua makhluk ini. Keberadaan malaikat ‘Izrail terselubung dengan rahasia yang dibentengi Allah. Benteng tersebut besarnya melebihi ukuran langit dan bumi. Menurut berbagai sumber dikatakan apabila seluruh air laut dan sungai yang ada di dunia disiramkan ke atas kepala malaikat ‘Izrail, maka tidak setetes pun yang akan jatuh ke bumi. Ia diberi kemampuan yang luar biasa oleh Allah, sehingga arah barat dan timur bisa dijangkau oleh kedua tangannya. Kalau dilukiskan, hal ini sebagaimana keadaan seorang yang berada di hadapan sebuah meja makan yang penuh dengan berbagai makanan dan siap untuk disantap.

Selain itu, malaikat ‘Izrail memiliki kemampuan bisa membolak-balikkan dunia, sebagaimana kemampuan seseorang membolak-balikkan uang koin. Malaikat ‘Izrail selain dibentengi dengan beberapa lapis rahasia Tuhan, juga telah diikat dengan banyak rantai. Dikisahkan bahwa panjang antara satu rantai dengan yang lainnya seperti panjang perjalanan yang memerlukan jarak tempuh selama seribu tahun. Karena tempatnya yang teramat rahasia tersebut, maka tidak satu malaikat pun yang bisa mendekati serta mengetahui tempat dan apa saja yang dilakukannya. Demikian juga tentang suara yang dimiliki, tidak ada satu pun malaikat yang bisa mendengarkan, baik secara jelas maupun samar-samar.

Disebutkan bahwa ketika Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan al-maut dan menyerahkannya kepada ‘Izrail, maka ia berkata: “Wahai Tuhanku, apakah al-maut itu?” Maka Allah menyingkap rahasia al-maut tersebut dan memerintahkan agar seluruh malaikat menyaksikannya. Setelah seluruh malaikat mengetahui, tersungkurlah semuanya dalam keadaan pingsan selama seribu tahun.

Setelah para malaikat sudah sadar kembali, bertanyalah mereka: “Ya Tuhan kami, adakah makhluk yang lebih besar dari ini?” Dan Allah pun berfirman, “Akulah yang menciptakannya, dan Akulah yang lebih agung dibandingkannya. Seluruh makhluk akan merasakan al-maut itu.”

Kemudian Allah berfirman: “Hai ‘Izrail, ambillah al-maut itu, dan Aku telah menyerahkannya kepadamu.” Mendengar itu ‘Izrail berkata: “Ya Tuhanku, apakah dayaku untuk mengambilnya sementara ia lebih agung dari aku?” Kemudian Allah memberinya kekuatan sehingga al-maut itu pun ada dalam genggamannya.

Setelah itu al-maut berkata: “Ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk berseru (menjerit) di dalam langit sekali saja.” Maka setelah diizinkan, berserulah ia dengan suara yang amat keras: “Aku ini adalah al-maut, tugasku sebagai pemisah orang yang saling mencintai. Aku adalah al-maut, tugasku memisahkan antara anak dan ibunya. Aku adalah al-maut, memiliki tugas memisahkan saudara laki-laki dan perempuan. Aku adalah al-maut, tugasku menghancurkan bangunan rumah dan gedung-gedung. Aku adalah al-maut, tugasku meramaikan kuburan. Aku adalah al-maut, tugasku mencari dan mendatangi kamu semuanya, walaupun kamu berada dalam lapisan benteng yang amat kuat. Dan tidak satu pun makhluk yang tidak merasakan kepedihanku.”

Referensi: Saifulloh dan Abu Shofia (2003). Menyingkap Tabir Alam Malaikat. Surabaya: Karya Agung

YouTube Channel Lampu Islam: YouTube.com/c/LampuIslam

Page Facebook Lampu Islam: Facebook.com/LampuIslam   
Google + Lampu Islam: Plus.google.com/+LampuIslam