logo blog

Neraka Bersifat Kekal

 
Keberadaan neraka kekal dan tidak akan pernah berakhir, sebagaimana dikatakan ath-Thahawi dalam karyanya ‘Aqidah, “Surga dan neraka adalah dua kesatuan yang diciptakan terpisah, eksistensi keduanya tidak akan pernah berakhir.” [1]

Ibn Hazm mengatakan bahwa seluruh umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam sepakat mengenai hal ini. Dalam al-Milal wa an-Nihal, ia berkata, “Semua kelompok dalam umat Islam sepakat bahwa surga dengan segala kesenangannya tidak akan pernah berakhi, begitu juga neraka dengan siksaan-siksaannya. Satu-satunya orang yang tidak menerima hal ini adalah al-Jahm ibn Shafwan.” [2]

Dalam bukunya Maratib al-Ijma’, ibn Hazm berkata, “Neraka itu nyata; neraka adalah tempat untuk menghukum yang tidak akan padam; penduduknya akan tetap tinggal di dalamnya dan tidak akan pernah mati.” [3]

Terdapat banyak teks yang menerangkan keabadian neraka, dan dalam pembahasan berikut akan kami kutipkan beberapa di antaranya. Perlu diketahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menyebut neraka Dar al-Khuld (“tempat tinggal yang abadi”).

Inilah pendapat Ahlussunnah wal Jama’a: neraka abadi dan tidak akan pernahmati; para penghuninya akan tetap berada disana untuk selama-lamanya; tidak ada yang akan keluar dari neraka kecuali orang-orang berdosa yang beriman, sedangkan orang-orang kafir dan musyrikakan tinggal disana selama-lamanya.

Orang-orang yang Berpendapat Bahwa Neraka Akan Berakhir

Terdapat tujuh kelompok yang menyangkal pendapat yang benar dalam persoalan ini:

1) Jahamiyah, yang mengatakan bahwa neraka dan surga akan ada akhirnya. Pada bagian terakhir bukunya ar-Radd ‘ala az-Zanadiqah, Imam Ahmad berkata, “Kelompok Jahamiyah berpendapat bahwa neraka dan surga akan berakhir.” Tetapi, pendapat ini dibantah oleh Al-Qur’an dan hadits yang menyatakan bahwa surga dan neraka tidak akan pernah berakhir.

2) Khawarij [4] dan Mu’tazilah, yang berkata bahwa setiap orang yang masuk neraka akan tetap berada disana selamanya, walaupun dia Muslim. Bagi kaum Khawarij, alasannya adalah karena seorang Muslim akan menjadi kafir jika dia berbuat dosa. Jadi, setiap orang yang berbuat dosa adalah kafir dan karenanya dia akan berada di neraka untuk selamanya. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa siapa saja (Muslim—peny.) yang berbuat dosa berada pada posisi antara: bukan Muslim dan bukan pula kafir. Hukum Islam tetap diberlakukan terhadapnya di dunia, sedangkan di ahirat ia akan berada di neraka untuk selamanya. Dan yang benar berdasarkan dalil-dalil yang ada berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah adalah bahwa orang-orang yang mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala pada akhirnya akan dikeluarkan dari api neraka.

3) Orang-orang Yahudi yang mengaku bahwa hukuman atas mereka di neraka kelak akan terbatas waktunya, dan tempat mereka akan digantikan oleh yang lain. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyatakan bahwa klaim kaum Yahud itu adalah dusta:

“Dan mereka (orang-orang Yahudi) itu berkata, “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah, (Ya Muhammad), “Sudahah kamu menerima janji dari Allah, sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Buka demikian) yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(Qs. Al-Baqarah[2]: 80-81)

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian, yaitu al-Kitab (Taurat)? Mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi kebenaran.(Qs. Ali ‘Imran[3]: 23)


Dalam tafsirnya, Ibn Jarir mengabarkan bahwa ‘Abbas berkata mengenai ayat ini, “Musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu orang-orang Yahudi, berkata, ‘Allah tidak akan mengirm kami ke neraka kecuali untuk memenuhi sumpah-Nya ang dikeluarkan-Nya ketika kami mulai menyembah anak sapi, selama empat puluh hari. Apabila masa empat puluh hari itu sudah berakhir, kami tidak akan dihukum lagi.’”

Ibn Jarir menyebutkan bahwa as-Saddi pernah berkata, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Allah subhanahu wa ta’ala akan mengirim kami ke neraka selama empat puluh hari, sampai api neraka telah membersihkan dosa-dosa kami, kemudian akan terdengar sebuah suara, “Keluarkan orang-orang yang telah dikhitan di kalangan Bani Israil!” Inilah alasannya mengapa kami diperintahkan untuk mengkhitan putra-putra kami, sehingga tidak seorang pun dari kami yang akan tertinggal di neraka kelak.’” [5]

Ibn Jarir juga melaporkan bahwa Ibn ‘Abbas berkata, “Disebut-sebut bahwa orang-orang Yahudi menemukan dalam kitab Taurat tertulis bahwa jarak dari satu sisi neraka ke sisi neraka lainnya sama dengan empat puluh tahun berjalan kaki, dan berakhir di pohon zaqqum, yang akarnya menunjang sampai ke dasar neraka.”

Ibn ‘Abbas sering berkata, “Musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala mengakui bahwa mereka tidak akan tinggal di neraka lebih lama dari jumlah hari yang tertulis dalam kitab mereka.” Ibn Jarir menjelaskan, “Yakni perjalanan (selama empat puluh tahun) yang akan membawa mereka ke dasar neraka. Mereka berkata, ‘Apabila masa ini sudah habis, tidak akan ada hukuan lagi dan neraka akan dihancurkan, karena Allah telah berfirman, “Kami sekali-kai tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.”

Ibn ‘Abbas berkata, “Ketika mereka memasuki pintu neraka, mereka berjalan dengan penuh siksaan sampai mereka tiba di pohon zaqqum pada hari terakhir perjalanan mereka yang lamanya telah ditentukan itu. Penjaga neraka aka berkata kepada mereka, ‘Kalian mengaku bahwa api neraka akan menyentuh kalian hanya untuk beberapa hari saja, dan masa itu kini sudah habis, tetapi kalian akan kekal disini.’ Penjaga neraka lalu membawa mereka ke tempat yang bahkan lebih dalam lagi di neraka.” [6]

4) Ibn ‘Arabi ath-Tha’i, imam aliran Ittihadiyyah, yang berpendapat bahwa hukuman atas penghuni neraka akan berlangsung sebentar saja, sesudah itu keadaan mereka akan disesuaikan dengn keadaan di neraka itu sendiri sehingga mereka akan menikmati hidup di neraka. Ibn Hajr mengatakan dalam al-Fath, “Ini adalah pendapat sebagian kaum zindiq yang mengaku sebagai orang-orang sufi.” [7]

5) Mereka yang berpendapat bahwa penduduk neraka akan dikeluarkan darinya, tetapi keberadaan neraka akan tetap kekal dan tidak akan pernah berakhir.

6) Abu Hadzil al-‘Allaf, salah seorang penganut Mu’tazilah, yang berpendapat bahwa kehidupan orang-orang di neraka akan ada akhirnya. Caranya, mereka akan menjadi solid, padat, tidak bisa bergerak, dan tidak akan merasakan sakit. Ha ini karena, menurutnya, mustahil makhluk yang diciptakan Allah tidak ada akhirnya. Pendapat ini jelas bertentangan dengan bukti-bukti yang nyata dan akal sehat.

7) Mereka yang berpendapat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan mengeluarkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dari neraka, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits, kemudian Allah an meninggalkan neraka untuk sementa sebelum menghancurkannya. Karena, Allah telah menetapkan suatu masa tertentu bagi keberadaan neraka, dan apabila masa itu sudah habis, eksistensi neraka akan berakhir. [8]

Pendapat terakhir ini didukung oleh Ibn Taimiyah—semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati dan mengampuninya. Beberapa murid ibn al-Qayym—semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya—juga mendukung pendapat ini.

Banyak sekali ulama telah berusaha menjelaskan kesalahan pemikiran ini. Ibn Hajar al-‘Asqallani, setelah melaporkan pendapat ini, berkata, “Beberapa ulama condong ke pendapat ini dan mengemukakan bukti-bukti dari berbagai sudut untuk mendukungnya. Ini adalah gagasan bodoh yang harus ditolak. As-Sibki menjelaskan secara rinci bagaimana lemahnya pendapat ini, dan ia berhasil melakukannya dengan baik.” [9]

Buku as-Sibki yang dirujuk itu adalah al-I’tibar bi Baqa’ al-Jannah wa an-Nar. Nama lengkapnya adalah Taqiy ad-Din ‘Ali ibn Abd al-Baqi as-Sibki asy-Syafi’i (meninggal tahun 756 hijriah).

Siddiq Hasan Khan berkata, “Syekh Mar’i al-Karami al-Hanbali telah menulis sebuah buku berjudul Tawfiq al-Fariqain ‘ala Khulud Ahl ad-Darain. Dalam buku tersebut terdapat sebuah tulisan Muhammad ibn Isma’il al-Amie dan sebuah tulisan lain oleh Muhammad ibn ‘Ali asy-Syaukani; keduanya berkesimpulan bahwa surga dan neraka akan keal dan penghuninya akan tetap tinggal disana selama-lamanya.” [10]

Ada beberapa hal yang perlu kami jelaskan:


1) Argumentasi bahwa keberadaan neraka akan berakhir adalah argumentasi yang keliru, meskipun didukung oleh dua orang ulama terkenal. Ibn Taimiyah dan muridnya, Ibn al-Qayyim, mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada kebenaran harus lebih diunggulkan daripada cinta kepada orang. Bukti-bukti bahwa pendapat ini keliru dapat ditemukan dalam banyak nash yang membuktikan kekekalan neraka. Nash-nash tersebut sudah jelas dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Di samping itu, telah ada ijma’ di kalangan ulama bahwa neraka kekal adanya.

2) Bagaimanapun juga, kita tidak boleh mengutuk Ibn Taimiyah dan muridnya, Ibn al-Qayyim, karena pendapat mereka itu. Sebagian orang bahkan telah mencap mereka kafir atau fasik karena pendapat mereka tersebut. Ini adalah sikap yang tidak patut. Mereka adalah mujtahid-mujtahid yang akan mendapat ganjaran atas ijtihad mereka, dan seandainya mereka tahu bahwa kebenaran yang sebenarnya berbeda dengan pendapat mereka, tentu mereka akan mengikutinya. Mencap siapa saja yang berbeda pendapat dalam soal-soal yang demikian sebagai kafir dapat membuat orang beranggapan bahwa banyak ulama terkenal, yang pengetahuan dan kedalaman pkiran mereka tidak diragukan lagi, juga kafir. ‘Umar ibn Khaththab berpendapat bahwa jika seorang pengembara tidak menemukan air, tidak wajib baginya bertayamum atau melaksanakan salat, padahal yang disepakati umat Islam adalah yang sebaliknya. Imam Malik berpendapat bahwa kata-kata “Bismillah ar-Rahman ar-Rahim” bukan bagian dari Al-Qur’an, sedangkan umat Islam sepakat bahwa apapun yang tertulis di antara dua kulit mushaf Al-Qur’an adalah bagian dari Al-Qur’an. Sebagian orang berpendapat bahwa keimanan tidak dapat bertambah atau berkurang, padahal A-Qur’an dan Sunnah jelas-jelas menyatakan, dan juga para ulama sepakat, bahwa keimanan dapat bertambah atau berkurang.

3) Perlu dikemukakan disini bahwa Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim juga pernah berkata bahwa neraka tidak akan pernah berakhir. Dalam Majmu’ al-Fatawa, Ibn Taimiyah berkata, “Kaum salaf dan para pemimpin umat ini, serta Ahlu Sunnah wal Jama’ah, sepakat bahwa ada beberapa ciptaan Allah, seperti surga, neraka, ‘Arasy, dan lain-lain yang tidak akan pernah berakhir keberadaannya sama sekali. Tidak ada yang berpendapat bahwa setiap ciptaan Allah akan binasa, kecuali beberapa filsuf dan pelaku bid’ah, seperti al-Jahm ibn Shafwan, kaum Mu’tazilah, dan beberapa pihak lain. Pendapat ini keliru dan bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah, dan kesepakatan kaum salaf dan para imam umat ini.” [11]

Jika ada dua pendapat dari mereka, maka tidak dapat ditegaskan bahwa mereka berpendapat bahwa keberadaan neraka akan berakhir, kecuali bila kita mengetahui dengan pasti bahwa itu merupakan pendapat final mereka. Jika kita tidak tahu mana pendapat mereka yang final, maka lebih baik kita tidak menisbahkan yang manapun, dari kedua pendapat itu, kepada mereka.

4) Beberapa dalil yang digunakan oeh Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim untuk menunjukkan bahwa neraka akan berakhir atau musnah tidaklah sahih, sedangkan yang dianggap sahih, maknanya tidak jelas dan dapat ditafsirkan bermacam-macam. Pernyatan-pernyataan mereka tidakharus diartikan bahwa seluruh neraka akan berakhir keberadaannya, tetapi dapat diartikan bahwa bagian neraka dimana orang-orang mukmin yang berdosaakan dihukum pada akhirnya akan lenyap. Ash-Shan’ani membahas hal ini dalam tesisnya. Dia menyangkal dalil-dalil yang digunakan Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim dan menjelaskan pula mengapa dalil-dalil tersebut tidak dapat mendukung pendapat mereka. Tesis tersebut berjudul Bi Raf’ al-Astar li Ibthal Adillah al-Qa’ilin bi Fana an-Nar. [12]

Ulama lain yang membahas masalah ini adalah al-Qurtubi. Dalam karyanya, at-Tadzkirah, dia mengutip nash-nash yang membuktikan bahwa keberadaan surga dan neraka kekal. Dia mengutip bahwa maut akan disembelih di suatu tempat antara surga dan neraka, kemudian para penghuni surga akan diberitahu, “Wahai para penghuni surga, kalian akan hidup selamanya; tidak ada lagi kematian (karena kematian telah dibunuh). Wahai penduduk neraka, kalian akan hidup selamanya; tidak ada lagi kematian.” Kemudian al-Qurtubi berkata, “Hadits ini jelas-jelas menyatakan bahwa para penghuni kedua tempat tersebut (surga dan neraka) akan kekal di dalamnya, bukan hanya sementara. Mereka berada disana selamanya, tanpa kematian, tanpa kematian, tanpa kehidupan, tanpa istirahat, dan tanpa pelarian.” [13] Kemudian dia menyanggah orang-orang yang berpendapat bahwa eksistensi neraka akan berakhir dan menjelaskan bahwa yang akan berakhir adlah eksistensi api neraka yang dimasuki oleh orang-orang Muslim yang berdosa. Dia mengatakan:

“Orang-orang yang berkata bahwa mereka akan dikeluarkan dari neraka dan bahwa neraka akan kosong sehingga akhirnya dihancurkan, telah mengataka sesuatu yang tidak rasional dan bertentangan dengan ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam serta konsensus para pendukung Sunnah dan imam-imam terkemuka. Bagian neraka yang akan dikosongkan adalah tingkat paling atas, tempat orang-orang Muslim yang berdosa dihukum, yang di pinggirnya tumbuh seledri air. [14] Fadhl ibn Shalih al-Mu’afiri berkata, “Pada suatu hari, kami bersama Malik ibn Anas, tetapi kemudian ia meminta kami supaya memisah. Pada malam harinya, kami kembali menemuinya. Ia berkata, ‘Aku tadi meminta kalian memisah karena ada seseorang yang minta izin untuk menemuiku. Dia mengaku datang dari Suriah dan ingin menanyakan sesuatu kepadaku. Ia bertanya kepadaku, “Abu Abdullah, apa pendapat anda tentang memakan seledri air, karena konon tanaman ini tumbuh di tepi neraka?” Aku katakan kepadanya, “Tidak ada salahnya memakan seledri air.” [15] Kemudian dia meninggalkan aku.’” Al-Khathib Abu Bakr Ahmad menyebutkan kejadian ini, begitu juga dengan Abu Bakr al-Bazzar, dari ‘Amr ibn Maimun, dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash, yang mengatakan, “Akan datang suatu masa dimana angin akan bertiup melalui pintu-pintu neraka, tetapi tidak ada orang di dalamnya.” Artinya, tidak ada orang Muslim. Ini adalah riwayat mauquf (rantai periwayatannya hanya sampai ke Sahabat—peny.) yang diceritaka dari ‘Abdulah ibn ‘Amr, dan bukan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Tetapi, seseorang seperti ‘Abdullah ibn ‘Amr tidak akan mengatakan sesuatu berdasarkan pendapatnya sendiri. Karena itu, riwayat tersebut adalah marfu’ (rantai periwayatanya sampai kepada Rasulullah—peny.). [16]



[1] Syarh ath-Thahawiyah, hal. 476
[2] Ibn Hazm, al-Mila wa an-Nihal, IV, hal. 83
[3] Maratib al-Ijma’, hal. 173
[4] Khawarij: salah satu sekte dalam Islam yang semula ikut berperang bersama ‘Ali melawan Mu’awiyah, tetapi belakangan memberontak melawan ‘Ali. Interpretasi mereka cendrung amat keras dan harfiah
[5] Tafsir ibn Jarir, I, hal. 381
[6] Ibid.
[7] Fath al-Bari, XI, hal. 421
[8] Lihat Syarh ath-Thahawiyyah, hal. 483; Syarh ‘Aqidah as-Safarini, II, hal. 234; Siddiq Hasan Khan, Yaqazah Uli al-I’tibar, hal. 41 Fath al-Bari, XI, hal. 421
[9] Fath al-Bari, XI, hal. 422
[10] Siddiq Hasan Khan, Yaqazah Uli al-I’tibar, hal. 42; Risalah ash-Shan’ani, al-Maktab al-Islami, Beirut, tahkik oleh Syekh Nashir ad-Din al-Albani, yang juga menulis kata pengantarnya.
[11] Ibn Taimiyah, Majmu’ Fatawa, XVIII, hal. 307
[12] Diterbitkan oleh al-Maktab al-Islami, Beirut.
[13] Al-Qurtubi, at-Tadzkirah, hal. 436
[14] Ucapan ini tidak ada bukti kebenarannya; seolah-olah orang-orang Muslim yang berdosa akan ditempatkan di neraka yang sejuk yang memungkinkan tumbuhnya tanaman serupa itu.
[15] Jika cerita ini benar, si penanya berarti berupaya keras untuk mengetahui sesuatu yang sudah jelas adanya.
[16] Al-Qurtubi, at-Tadzkirah, hal. 437