logo blog

Menganalisis Doktrin-doktrin dalam Kekristenan | Bagian Keempat


Diterjemahkan dari artikel yang ditulis Dr. Laurence Brown dari leveltruth.com

Berikut ini adalah ringkasan dari apa yang telah kita bahas hingga saat ini:

1) Bagian 1: Bibel yang dikenal dengan nama “Yohanes” hampir pasti tidak ditulis oleh Yohanes murid Yesus (Silahkan klik link berikut untuk membacanya: Siapakah yang Menulis Kitab-kitab dalam Bibel Sebenarnya?).

2) Bagian 2: penerjemah Bibel secara tidak jujur menggunakan huruf besar pada kata 'dia' dalam Yohanes 3:16 ("Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal") untuk memberi kesan seolah-olah Yesus tampak seperti Tuhan; (Silahkan klik link berikut untuk membacanya: Bukti Bahwa Para Penerjemah Bibel Tidak Jujur).

3) Bagian 3: Bibel bukanlah seratus persen firman Tuhan dan telah bercampur dengan tulisan-tulisan manusia, termasuk Paulus. Ditambah doktrin yang diajarkan Paulus bertentangan dengan ajaran-ajaran Yesus Kristus. Dan juga dibahas mengenai kontradiksi-kontradiksi fatal yang ada dalam Bibel. (Silahkan klik link berikut untuk membacanya: Bukti-bukti Bahwa Bibel Tidak Bisa Dipercaya).
Sekarang kita masuk ke bagian 4. Pondasinya adalah Yohanes 3:16 dan, dalam hal ini, seluruh konsep Kekristenan tentang penebusan dosa dengan iman, adalah berdasarkan pengorbanan Yesus Kristus. Yohanes 3:16 mengatakan: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anaknya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Di sisi lain, sejumlah besar sarjana Kristen memberitahu kita bahwa ini tidak benar. Jadi siapa yang harus kita percayai - Bibel, atau Mereka? Lagipula, kita tahu siapa saja para Sarjana itu, sedangkan kita tidak tahu siapa yang menulis kitab-kitab dalam Bibel (seperti yang dibahas dalam Bagian 1 dari seri ini). Kedua, penerjemah Bibel secara tidak jujur  menggunakan huruf besar pada kata 'dia' dalam Yohanes 3:16 untuk membuat Yesus seakan-akan tampak seperti Tuhan (seperti yang dibahas dalam bagian 2 dari seri ini). Jika Anda memperhatikan, Anda akan melihat bahwa saya melakukan hal yang sama di atas, menggunakan huruf besar pada kata ‘Sarjana,' dan 'Mereka.’ Hal ini tampak seakan-akan membuat para sarjana ini terlihat istimewa, bukan? Tapi itu hanyalah satu dari sekian banyak cara di mana penerjemah Bibel menipu para pembaca. Dimana dalam hal ini, saya melakukannya dan mengakuinya; sedangkan mereka tidak.

Terakhir, apa yang saya telah sajikan sejauh ini sesuai dengan akal sehat dan logika, tidak seperti Bibel, yang tidak konsisten dan tidak dapat dipercaya (Lihat Bagian 2 & Bagian 3 dari seri ini).

Dalam bagian kali ini saya akan membahas konsep pengorbanan dan penebusan dosa, tentang keselamatan yang dengan sangat mudah didapatkan hanya dengan iman.

Pondasi dari konsep ini terletak pada keabsahan doktrin Dosa Warisan, sebuah doktrin gereja bahwa bayi-bayi terlahir dengan membawa dosa dari Adam (Baca juga: Apakah Yesus Mengajarkan Dosa Warisan?). Ternyata kita ketahui bahwa ini salah, karena Yesus mengajarkan sebaliknya: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga" (Matius 19:14). Lalu, bagaimana bisa " yang seperti itulah" menjadi " empunya Kerajaan Sorga" jika yang tidak dibaptis dipastikan masuk neraka? Jadi ada dua pilihan disini: Entah anak-anak terlahir dengan membawa dosa warisan sehingga masuk neraka atau akan masuk Kerajaan Sorga. Gereja harus memilih salah satunya. Tentunya kita tidak bisa membayangkan bahwa seorang bayi yang lucu, yang masih belum dibaptis, akan masuk neraka apabila dia meninggal dunia. Yehezkiel 18:20 berbunyi, "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.” Begitu juga Ulangan 24:16 menyampaikan pesan yang sama.

Sebagian orang mungkin dapat berkata “Tapi ini ada di Perjanjian Lama! Kami orang-orang Kristen mengikuti Perjanjian Baru.” Tapi masalahnya adalah Perjanjian Lama tidak lebih tua daripada Adam! Jika dosa warisan memang sudah ada dan berasal dari Adam dan Hawa, seseorang tidak akan menemukan dosa warisan ditentang dalam kitab suci dari segala zaman! Tentunya para nabi dari segala zaman akan mengajarkan tentang konsep dosa warisan kepada pengikut-pengikutnya. Namun faktanya tidaklah demikian! Bahkan Yesus seperti yang dijelaskan di atas, menentang konsep dosa warisan ini.

Sekarang mari kita bahas tentang mengimani pengorbanan Yesus cukup untuk memperoleh keselamatan. Tapi Yesus tercatat membantah hal ini sebagai berikut: "Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuan, Tuan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga." (Matius 7:21) dan “Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup (kehidupan kekal atau keselamatan) turutilah segala perintah Allah." (Matius 19:17). ‘Yakobus’ tidak sependapat dengan Paulus perihal doktrin ini, dan dia mengajarkan pentingnya perbuatan-perbuatan baik: "Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati." (Yakobus 2:26).

Tapi pernahkah Yesus dalam Perjanjian Baru Yesus memberitahu para pengikutnya bahwa mereka bisa bersantai-santai, karena dalam beberapa hari berikutnya ia akan menebus dosa-dosa mereka sehingga mereka semua bisa pergi ke surga hanya dengan bermodalkan iman? Tidak pernah! Lebih jauh, ketika Yesus diduga telah bangkit kembali, mengapa ia tidak mengumumkan tentang penebusan dosa? Mengapa ia tidak mengumumkan bahwa ia telah membayar dosa-dosa manusia di seluruh dunia, baik dosa-dosa masa lalu, sekarang, dan masa depan? Dia tidak pernah melakukannya, dan kita harus bertanya-tanya mengapa. Mungkinkah konsep penebusan dosa tidak benar? Mungkinkah ini hanyalah angan-angan belaka yang seseorang tuliskan ke dalam Bibel? (Baca juga: Bukti-Bukti Bahwa Bibel Telah Rusak dan Dimodifikasi).

Jadi darimana konsep 'Penebusan dosa' berasal? Apakah ada yang terkejut ketika mendengar nama, "Paulus"? Ternyata doktrin penebusan dosa yang meragukan ini datang dari orang yang juga meragukan (Baca juga: Pertentangan Ajaran Paulus dengan Ajaran Yesus Kristus)? Kisah Para Rasul 17:18 berbunyi, "Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia (Paulus) dan ada yang berkata: "Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?" Tetapi yang lain berkata: "Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing." Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitannya."

Paulus langsung mengajarkan tentang doktrin kebangkitannya sebagai berikut: "Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Gospelku" (2 Timotius 2: 8). Benar saja, konsep Yesus Kristus mati untuk menebus dosa manusia ditemukan dalam surat-surat Paulus (misalnya, Roma 5: 8-11 dan Roma 6: 8-9), dan di surat-surat lainnya. Dari surat-suranya? Bukan dari Yesus? Bukan dari para murid Yesus? Sungguh sukar dipercaya. Jadi konsep ini hanyalah ciptaan Paulus?

Jadi di salah satu sudut ada para nabi yang menyampaikan ajaran yang benar, Yesus Kristus termasuk di dalamnya, mengajarkan tentang keselamatan melalui hukum-hukum Tuhan yang disampaikan melalui wahyu, yaitu kita dapat memperoleh keselamatan melalui iman dan perbuatan-perbuatan baik. Di sudut lain ada sang penantang, Paulus, yang menjanjikan keselamatan yang mudah tanpa harus mematuhi hukum-hukum Tuhan, yaitu keselamatan cukup dengan iman saja.

Apa yang terjadi ketika Yesus kembali ke dunia ini, dia menemukan sekumpulan "pengikut" nya yang lebih memilih teologi Paulus daripada ajarannya sendiri? Mungkin Yesus akan mengutip Yeremia 23:32 - "Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman TUHAN, dan yang menceritakannya serta menyesatkan umatku dengan dustanya dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman TUHAN."

Ketika Yesus kembali, satu hal yang pasti adalah dia tidak akan mengucapkan selamat kepada para "pengikut" nya karena telah mengabaikan segala sesuatu yang ia telah ajarkan dan malah melakukan hal yang sebaliknya, dengan mempercayai otoritas Paulus.