logo blog

Sebuah Pesan Kepada Ateis

Diterjemahkan dari artikel yang ditulis Dr. Laurence Brown dari leveltruth.com

Tragedi terbesar dalam hidup adalah kehilangan Tuhan dan tidak merindukan-Nya.” –F.W. Norwood-


Para Ateis mungkin berkata bahwa mereka tidak mengakui adanya Tuhan. Tetapi kenyataannya, mereka dalam suatu momen dalam kehidupan mereka, pasti pernah mengakui keberadaan Tuhan. Adanya pengakuan akan keberadaan Tuhan biasanya baru muncul dalam pikiran orang-orang Ateis pada saat dirinya merasa stress berat, seperti yang dipopulerkan oleh pepatah pada Perang Dunia II “Tidak ada ateis di dalam parit perang.”1

Tak dapat disangkal ada saat-saat – entah ketika menderita penyakit dalam waktu yang lama, saat-saat seorang perampok menodongkan pistolnya dan melakukan tindakan kekerasan, atau detik-detik sebelum kecelakaan mobil terjadi di depan mata - ketika semua manusia mengakui kenyataan dari betapa rapuhnya manusia dan betapa nasib tidak bisa dikendalikan, kepada siapakah seseorang memohon pertolongan dalam keadaan seperti itu selain kepada Sang Pencipta? Saat-saat dimana semua harapan telah sirna harusnya mengingatkan semua orang, mulai dari para pemuka agama sampai mereka yang mengaku ateis, tentang ketergantungan manusia pada realitas yang jauh lebih besar daripada diri kita sendiri. Sebuah realitas yang jauh lebih besar dalam hal pengetahuan, kekuatan, kemauan, keagungan, dan kemuliaan.

Pada saat-saat tertekan, ketika semua upaya manusia telah gagal dan tidak ada yang dapat memberikan kenyamanan atau pertolongan, kepada siapa lagi seseorang secara naluriah meminta pertolongan? Dalam saat-saat cobaan berat seperti itu, seberapa banyak permohonan yang diserukan kepada Tuhan, lengkap dengan janji-janji untuk menjadi orang beriman seumur hidup apabila Tuhan mengeluarkannya dari kesulitan yang dialaminya? Namun, betapa sedikit orang yang menepati janjinya setelah Tuhan mengeluarkannya dari kesulitan itu?

Tidak diragukan lagi, penderitaan terbesar yang akan dialami manusia adalah pada hari kiamat, dan seseorang akan sangat tidak beruntung jika dirinya baru mengakui keberadaan Tuhan untuk pertama kalinya pada hari itu. Penyair Inggris, Elizabeth Barrett Browning, berbicara tentang ironi manusia di hari kiamat dalam The Cry of Human:

"Dan mulut mengucapkan “Tuhan ampunilah diriku.” Sedangkan orang yang beriman berkata “Terpujilah Tuhan."

Seorang ateis yang bijaksana, yang penuh skeptisisme akan keberadaan Tuhan tapi takut apabila Tuhan dan hari kiamat benar-benar ada, mungkin bisa memanjatkan 'doa orang skeptis,' sebagai berikut:

"Ya Tuhan, jika memang Engkau ada, selamatkanlah jiwaku, jika memang aku memiliki jiwa." 2

Dalam menghadapi skeptisisme yang menghalangi keimanan, apa salahnya berdo’a seperti di atas? Apabila Ateis tersebut tetap pada kekafiran, dia tidak akan lebih buruk daripada sebelumnya; Dan apabila keimanan datang dari permohonan yang tulus, Thomas Jefferson berkata sebagai berikut:

"Jika Anda menemukan alasan untuk percaya adanya Tuhan, kesadaran bahwa Anda bertindak di bawah pengawasan-Nya, dan Dia meridhoi Anda, akan menjadi pendorong bagi Anda untuk terus berbuat kebaikan. Jika ada sebuah keadaan di masa depan, berharap akan kehidupan bahagia di dalamnya akan meningkatkan semangat untuk mengejarnya... "3

Disarankan kepada orang-orang yang merasa tidak melihat bukti adanya Tuhan dalam kemegahan ciptaan-Nya, mereka lebih baik melihat dengan lebih cermat. Seperti yang pernah dikatakan oleh Francis Bacon, "Saya lebih baik mempercayai semua dongeng dalam legenda, Talmud, dan Qur’an, daripada mempercayai bahwa jagat raya ini tidak ada Penciptanya." 4 Lebih lanjut dia berkomentar, "Tuhan tidak pernah mengadakan mukjizat yang luar biasa untuk meyakinkan orang-orang ateis, karena karya-Nya yang biasa saja sudah meyakinkan." 5 Yang layak direnungkan adalah kenyataan bahwa bahkan unsur terendah dari ciptaan Tuhan, mungkin meskipun Tuhan menganggapnya biasa saja, namun hal ini adalah sebuah keajaiban dalam pandangan kita. Ambil contoh seekor laba-laba. Apakah ada yang benar-benar percaya bahwa makhluk bersel satu setelah jutaan tahun pada akhirnya berevolusi menjadi makhluk yang kompleks seperti itu? Seekor laba-laba kecil ini dapat memproduksi hingga tujuh jenis jaring, beberapa di antaranya setipis panjang gelombang cahaya yang kasat mata, tetapi lebih kuat dari baja. Jaring ini bermacam-macam jenisnya, mulai dari yang elastis dan lengket untuk menjebak mangsa, sampai yang tidak lengket dan seperti benang untuk untuk membungkus mangsa, membuat kantung telur, dll. Laba-laba tidak hanya dapat memproduksi tujuh jenis jaring sesuai dengan kebutuhannya, tetapi juga dapat menyerap kembali, mengurai, dan mendaur ulang unsur-unsur dari jaring tersebut untuk digunakan kembali. Dan ini hanya salah satu bagian kecil dari keajaiban laba-laba.


Namun tetap saja manusia meninggikan sikap kesombongan. Luangkanlah waktu sejenak untuk merenung agar kita menjadi lebih rendah hati. Lihatlah sebuah bangunan dan dibaliknya pasti ada seorang arsitek, lihatlah patung dan seseorang langsung memahami bahwa pasti ada pemahatnya. Tetapi ketika memeriksa seluk-beluk penciptaan yang luar biasa, yang begitu rumitnya namun dengan keseimbangan yang sempurna, dari sebuah partikel sampai luasnya jagat raya yang belum dipetakan, bagaimana mungkin seseorang berpikir bahwa tidak ada penciptanya? Dikelilingi oleh lingkungan yang kompleks dan teknologi yang sangat maju, kita sebagai manusia bahkan tidak dapat menciptakan sayap seekor nyamuk. Haruskah kita percaya bahwa dunia dan alam semesta berjalan dalam harmoni yang sempurna sebagai hasil dari kejadian acak? Dari kekacauan kosmik kepada kesempurnaan yang berjalan teratur? Sebagian orang mengatakan ini kebetulan, sebagian lagi mengatakan ini hasil karya Tuhan.

Kebanyakan ateis berargumen bahwa Tuhan Yang Maha Mencintai berkontradiksi dengan ketidakadilan yang ada dalam kehidupan, bahwa sebagian orang terlahir dalam keluarga kaya, namun ada yang terlahir dalam keluarga sangat miskin. Ada yang terlahir dengan kondisi fisik prima, namun ada juga yang terlahir dalam keadaan cacat secara fisik. Orang-orang beragama berkata bahwa argumen ini mencerminkan arogansi intelektual - sebuah asumsi bahwa kita sebagai umat manusia, kita sebagai salah satu elemen dari ciptaan Tuhan, merasa lebih tahu daripada Tuhan tentang bagaimana ciptaan-Nya harus berjalan - ditambah dengan kegagalan untuk menghormati rencana-Nya yang jauh lebih besar.

Fakta bahwa banyak manusia tidak memahami aspek-aspek tertentu dari kehidupan ini seharusnya tidak menghalangi keimanan mereka pada Tuhan. Tugas manusia bukanlah untuk mempertanyakan atau menolak sifat atau eksistensi Tuhan, dan bukan untuk menjadi arogan dengan mengatakan bahwa seharusnya Tuhan melakukan hal ini dan itu, melainkan untuk menerima fakta bahwa manusia hanya sementara hidup di dunia ini. Kita harus melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan dengan apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Misalnya seseorang yang tidak menyukai cara bosnya memperlakukan dirinya di tempat kerja, dan tidak memahami keputusan yang dibuat bosnya, tidak meniadakan keberadaannya. Melainkan, tugas setiap orang adalah untuk memenuhi tugas dari pekerjaannya agar dia mendapatkan gaji dan kenaikan jabatan. Demikian pula, kegagalan untuk memahami atau menyetujui cara Tuhan mengatur dan menjalankan ciptaan-Nya tidak meniadakan keberadaan-Nya. Sebaliknya, manusia harus mengakui dengan rendah hati bahwa, tidak seperti bos di tempat kerja yang sewaktu-waktu bisa salah, Tuhan menurut definisi adalah kesempurnaan mutlak, selalu benar dan tidak pernah salah. Manusia harus sujud kepada-Nya dalam ketundukan dan pengakuan bahwa kegagalan untuk memahami cara kerja-Nya tidak mencerminkan bahwa Dia salah. Sebaliknya, Dia adalah Tuhan dan Penguasa dari segala makhluk sedangkan kita bukan. Dia tahu segalanya dan kita tidak. Dia mengatur semua urusan sesuai dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna, dan kita hanyalah hamba-Nya, sepanjang perjalanan hidup kita.

Jiwa-jiwa yang kebingungan dan sensitif yang mengalami kesulitan menerima keberadaan Tuhan karena mereka menjalani hidup yang sulit dan menyakitkan layak mendapatkan simpati dan penjelasan. Jika seseorang menerima kenyataan bahwa Tuhan tahu apa yang Dia lakukan sedangkan kita tidak, dia lebih baik menenangkan diri dengan memahami bahwa segala hal yang buruk bisa jadi adalah sesuatu yang baik sebenarnya. Mungkin yang paling sengsara di antara umat manusia layak mendapatkan hal demikian dalam hidup mereka untuk alasan yang tak diketahui, dan mungkin mereka hanya menderita sementara saja di dunia untuk menerima hadiah kekal di kehidupan berikutnya. Janganlah ada yang lupa, bahwa Tuhan memberikan yang terbaik dari makhluk-Nya (para nabi) dengan karunia-karunia terbesar seperti keimanan, petunjuk, dan wahyu; Namun, mereka sangat menderita dalam hal-hal duniawi. Bahkan, cobaan dan penderitaan yang dialami kebanyakan orang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan para nabi. Jadi orang-orang favorit Tuhan, yaitu para nabi, juga tidak merasakan kenikmatan dunia ini. Namun penderitaan mereka di dunia ditukar dengan kenikmatan akhirat yang jauh melebihi kenikmatan dunia. Seseorang yang menanggung cobaan dan kesulitan dalam hidup ini, namun tetap teguh pada keimanan yang benar juga mendapatkan pahala yang berlimpah dari sisi Tuhan.

Demikian pula, seseorang tidak bisa disalahkan karena mengharapkan para penguasa yang dzalim dan orang-orang kafir untuk memiliki semua kesenangan di dunia ini, tetapi tidak mendapatkan apa-apa di akhirat. Beberapa orang terjahat yang pernah hidup di bumi muncul dalam pikiran kita. Firaun, misalnya, hidup dalam kemegahan dan kemewahan sampai-sampai bahwa ia menyatakan dirinya sebagai tuhan. Dan hal ini akan berubah seratus delapan puluh derajat ketika dia dibawa kepada pengadilan Tuhan di akhirat. Kita bisa membayangkan dia menjadi menderita dengan tempatnya di neraka nanti, dan kenangan akan karpet mewahnya, makanan yang enak, dan para permaisuri-permaisurinya akan sirna digantikan dengan siksa yang luar biasa pedih.

Kebanyakan orang telah memiliki pengalaman yang menyenangkan namun pada akhirnya berakhir buruk. Tidak ada yang menikmati makan malam mewah yang berakhir dengan perceraian, sebuah kisah cinta yang berakhir dengan AIDS, atau malam pesta pora yang berakhir dengan kecelakaan mobil. Demikian pula, tidak ada sukacita dalam hidup ini, tidak peduli seberapa besar kebahagiaan atau seberapa lama pun durasinya, ketika kita merasakan 100% luka bakar di sekujur tubuh kita. Di sisi lain, jari kita hanyalah 1% dari total tubuh kita, namun luka bakar yang kecil pada jari kita membuat kita merintih kesakitan dan terus mengingat rasa sakitnya. Menderita luka bakar di seluruh tubuh, terutama jika kita tidak bisa kembali, tidak ada yang mau menolong kita dari siksaan ini - adalah sesuatu yang tidak bisa dibayangkan manusia. Beberapa orang yang selamat dari luka bakar seperti ini setuju. Tidak hanya rasa sakit dari luka bakar itu tidak bisa dibayangkan manusia, namun juga penderitaan dan pengalaman darinya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kengerian itu tidak dapat sepenuhnya diceritakan oleh yang mengalaminya, dan juga tidak bisa sepenuhnya dipahami oleh mereka yang belum merasakannya. Tentu saja dibakar dalam api untuk jangka waktu yang sangaaaattt panjaaangg atau dibakar untuk selama-lamanya, dapat menghapus semua kenangan yang menyenangkan di masa lalu, konsisten dengan firman Tuhan bahwa "kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)." (Qs. 13:26 )

Sehubungan dengan topik ini, dua elemen yang membimbing kesadaran layak dipertimbangkan, yang pertama bahwa jauh di lubuk hati, semua orang memiliki kepercayaan alami pada kehadiran Sang Pencipta. Manusia mungkin dapat melupakan kesadaran ini ketika mencari kesenangan dan kenikmatan dunia ini, tapi jauh di hati kita yang terdalam, semua manusia tahu yang sebenarnya. Terlebih lagi, Tuhan tahu bahwa kita tahu, dan hanya Dia yang mengetahui seberapa tunduk atau seberapa membangkangnya suatu individu.

Unsur kedua untuk menimbulkan kesadaran spiritual adalah dengan memahami bahwa hampir tidak ada makan siang yang gratis. Jarang sekali ada orang yang mendapatkan sesuatu tanpa melakukan apa-apa. Misalnya seseorang bekerja dengan bosnya yang tidak ia sukai dan tidak ia pahami, namun pada akhirnya ia masih harus melakukan pekerjaannya untuk mendapatkan gajinya. Tak seorang pun yang pergi ke tempat kerjanya namun tidak pernah melakukan apa-apa bisa mengharapkan gajinya. Demikian pula, manusia harus memenuhi tugasnya untuk beribadah dan menyembah Tuhan jika ingin menerima hadiah-Nya. Lagipula, ini tidak hanya sekedar tujuan hidup, inilah pekerjaan yang diberikan Tuhan pada kita. Umat Muslim mengakui bahwa itulah pekerjaan bagi manusia dan jin, sebagaimana Tuhan berfirman dalam Qur’an "Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku." (Qs. 51:56).

Banyak orang mempertanyakan tujuan hidup, tetapi penjelasan dari banyak agama adalah seperti yang dinyatakan di atas - manusia diciptakan tidak lain untuk melayani dan menyembah Tuhan. Setiap elemen atau unsur ciptaan yang lain digunakan untuk mendukung atau menguji umat manusia dalam pemenuhan kewajiban itu. Tidak seperti pekerjaan duniawi, seseorang dapat melalaikan tanggung jawabnya kepada Tuhan dan diberikan tenggang waktu. Namun, pada akhir dari kehidupannya, dia harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukannya ketika hidup, dan tentu bukanlah hal yang baik ketika seseorang menemukan rapornya berwarna merah di akhirat kelak.

Francis Bacon menulis dengan sangat indah untuk menutup pembahasan ini, "Mereka yang mengingkari Tuhan telah menghancurkan kemuliaan manusia; karena sesungguhnya tubuh manusia dekat dengan binatang; dan, jika jiwanya tidak menjadi dekat kepada Tuhan, ia adalah makhluk yang rendah dan tercela. "6 Semua manusia memiliki akal, dan di sinilah hal utama yang membedakan manusia dari hewan. Mari kita gunakan akal kita, yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai salah satu karunia terbesar, untuk berpikir dan memahami keberadaan Tuhan. Dan mungkin, meski begitu, masih ada orang-orang yang menolak mempercayai keberadaan Tuhan, tetapi mereka kemungkinan besar akan menemukan diri mereka dalam keadaan tidak beruntung.

YouTube Channel Lampu Islam: YouTube.com/c/LampuIslam
Page Facebook Lampu Islam: facebook.com/LampuIslam

Catatan Kaki:

1 N.Y. Times. 13 Apr 1944. Cummings: Sermon on Bataan, The Philippines.
2 Renan, Joseph E. Prayer of a Skeptic.
3 Parke, David B. 1957. The Epic of Unitarianism. Boston: Starr King Press. p. 67.
4 Bacon, Francis. Atheism. p. 16.
5 Bacon, Francis. Atheism. p. 16.
6 Bacon, Francis. Atheism. p. 16.