logo blog

Siksaan Bagi Penduduk Neraka Tidak Akan Diringankan


Allah berfirman, “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam bayangan (naungan) asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (Qs. Al-Waqi’ah[56]: 41-44)

Ayat ini menyebut tiga unsur yang dimanfaatkan manusia di atas bumi ini untuk melawan panas, yaitu: air, udara, dan bayangan (naungan) untuk tempat berteduh. Tetapi, dijelaskan lagi dalam ayat ini bahwa ketiga unsur tersebut tidak akan ada gunanya atau tidak akan dapat membantu penduduk neraka dalam mengurangi siksaan panas api neraka. Udara yang bertiup di neraka adalah sumum, atau angin panas yang luar biasa panasnya; airnya adalah hamim, air yang mendidih; sedangkan bayangan sebagai tempat bernaungnya adalah yahmum, yaitu bagian dari asap neraka. [1]

Kalau ayat di atas tadi memberi penekanan pada keadaan yang amat mengerikan dari golongan kiri, yaitu para penghuni neraka, maka ayat di bawah ini memberi penekanan pada betapa mengerikannya neraka itu sendiri, sebagaimana yang difirmankan Allah, “Dan adapun orang-orang yang ringan timbangannya (amal kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang panas.(Qs. Al-Qari’ah[101]: 8-11)

Bayangan (naungan) yang dimaksud dalam ayat, “dan dalam bayangan asap yang hitam,” adalah bayangan asap neraka. Bayangan sebagai tempat berteduh biasanya membuat orang merasa sejuk dan nyaman, sehingga kita menyukainya, tetapi bayangan yang disebutkan disini (di neraka) jauh dari kesejukan dan kenyamanan; karena bayangan tersebut adalah bayangan asap hitam.

Al-Qur’an menceritakan kepada kita bahwa bayangan ini adalah banyangan asap yang berasal dari api neraka: “Pergilah kamu untuk mendapatkan bayangan (naungan) yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka. Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah ia iringan unta-unta kuning.(Qs. Al-Mursalat[77]: 30-33)

Ayat ini menyatakan bahwa asap yang berasal dari api neraka begitu besarnya sehingga ia terpecah menjadi tiga cabang. Memang asap tersebut memberikan bayangan, tetapi bukan bayangan yang memberi kesejukan dan perlindungan dari api neraka yang berkobar-kobar itu. Percikan-percikan atau bunga-bunga api yang dilontarkan api neraka seperti istana-istana besar, dan dipersamakan dengan unta-unta yang kuning atau hitam.

Allah subhanahu wa ta’ala selanjutnya menerangkan betapa kuat dan menyiksanya api neraka itu: “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka saqar) adalah pembakar kulit manusia.” (Qs. Al-Muddatstsir[74]: 26-29)

Api neraka memakan semuanya dan menghancurkan segala sesuatu sehingga tidak ada yang tertinggal. Api itu membakar kulit, dan panasnya terasa sampai ke tulang, mencairkan dan mengeluarkan semua isi perut. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda, “Api yang kita kenal di dunia ini adalah sepertujuh puluh bagian dari api neraka.” Seseorang berkata, “Ya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, sudah cukup, sudah cukup!” Rasulullah bersabda, “Api neraka itu laksana api yang kita kenal ditambah 69 bagian yang setara.” (H.R. Bukhari)

Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menggunakan frase: “api yang kita kenal dan api yang seperti digunakan anak-anak Adam...” [2]

Api neraka tidak akan pernah padam dalam jangka waktu berapa pun lamanya:
“Karena itu, rasakanlah. Dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain azab.” (Qs. An-Naba’[78]: 30)

Tiap-tiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambahkan lagi bagi mereka nyalanya.(Qs. Al-Isra’[17]: 97)

Orang-orang kafir tidak akan pernah dapat merasakan berkurangnya panas api neraka, karena azab dan siksa mereka tidak akan diringankan, berapa pun lamanya mereka harus merasakannya: “Maka siksa mereka tidak akan diringankan dan mereka tidak akan ditolong.” (Qs. Al-Baqarah[2]: 86)

Api neraka dinyalakan setiap hari, sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Amir ibn Absah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Laksanakanlah shalat Subuh, kemudian berhentilah shalat tatkala matahari telah terbit sampai naik sepenuhnya, karena tatkala itu matahari naik antara tanduk-tanduk setan, dan pada waktu itu pula orang-orang kafir bersujud menyembah matahari. Setelah itu shalatlah, karena shalat itu disaksikan (oleh malaikat-malaikat) sampai bayangan sepanjang tombak. Kemudian berhentilah shalat, karena pada waktu itu neraka sangat panas. Kemudian ketika bayangan bergerak semakin panjang, shalatlah...”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda, “Ketika hari sangat panas, tunggulah sampai sejuk untuk shalat, karena udara yang sangat panas adalah angin panas dari neraka.”

Neraka akan memperoleh tambahan bahan bakar pada hari kiamat dengan masuknya para penghuninya: ”Dan apabila neraka jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan.” (Qs. At-Takwir[81]: 12-13)


[1] At-Takhwif min an-Naar, hal. 85
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Sahihnya, VI, hal. 230 dan oleh Muslim dalam Sahihnya, IV, hal. 2184