logo blog

Cara Membersihkan Hati

Membersihkan hati merupakan salah satu kunci keimanan

Raan adalah titik hitam pada hati setiap kali seseorang melakukan dosa. Raan dapat dihapus dengan taubat dan raan juga dapat bertambah banyak jika kita tidak bertaubat dan melakukan dosa secara kontinu, sehingga hati menjadi gelap layaknya batu bara.

Hatinya mungkin sudah terlanjur keras, tapi ini adalah sesuatu yang bisa dilembutkan kembali. Mungkin hati juga berdebu, tapi kita dapat selalu membersihkannya.

Terdapat 4 cara cepat untuk membersihkan hati:

1. Tilawah & Taddabur al-Qur'an
Tilawah al-Qur'an adalah membaca al-Qur'an. Sedangkan taddabur adalah memahami dan merenungkan isi/kandungan ayat suci al-Qur'an. Kalau belum bisa memahami bahasa arab, kita bisa membaca terjemahan al-Qur'an bahasa Indonesia.

2. Mengingat nikmat Allah 'Azza wa Jalla
Semakin sadar bahwa keberkahan Allah ada pada diri kita, semakin bersyukurnya diri kita kepada-Nya. Ketika bangun tidur, coba renungkanlah nikmat Allah yang sudah diberikan kepada kita. Hal ini akan memicu cinta dan kerinduan pada Allah 'Azza wa Jalla. "Alhamdulillah, saya masih dapat merasakan suasana pagi hari."

3. Menyesali masa lalu dengan tidak berlebihan
Supaya mendapat pelajaran, cobalah untuk menyesali masa lalu yang dipenuhi oleh dosa, maksiat. Sesalilah untuk memicu pertaubatan supaya menjadi pemicu untuk taat beribadah kepada Allah. Setelah mengingat masa lalu, menyesal hal tersebut, dan bertaubat karena hal tersebut, mulailah dari awal lagi. Mulailah dengan cara yang baik dan diridhai oleh Allah 'Azza wa Jalla. Tambahan, ketika kita menyesali masa lalu kita, jangan berlebihan. Allah 'Azza wa Jalla akan mengampuni dosa hambanya meskipun dosa tersebut sangaaaaaaattt baaaaaanyaaaak. Terdapat sebuah hadist tentang besarnya ampunan Allah terhadap dosa-dosa hambanya:

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : (( قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً )).

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].

4. Mengingat orang shaleh yang hidup di masa lampau 
Ingatlah orang shaleh terdahulu dan bandingkan dengan diri sendiri. Ini akan mendorong diri kita untuk lebih banyak melakukan ketaatan karena kita menjadi termotivasi karena nasehat-nasehat mereka, kesabaran mereka dalam menghadapi ujian dari Allah 'Azza wa Jalla, dan kebaikakan-kebaikan lainnya yang dilakukan oleh mereka.