logo blog

Gadis Jepang Menangis Ketika Diislamkan Dr. Zakir Naik


Seorang gadis asal Jepang bernama Shiho Yamamoto yang bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan, masuk Islam di sesi tanya-jawab Dr. Zakir Naik. Di sesi tanya-jawab tersebut, Shiho bertanya tentang apa tujuan Tuhan menciptakan manusia di dunia ini. Setelah Dr. Zakir Naik berhasil menjawab pertanyaannya, maka Shiho pun menangis bahagia karena telah menemukan Islam sebagai jalan hidupnya. Video pertanyaan dan proses masuk Islamnya Shiho Yamamoto bisa dilihat di channel YouTube Lampu Islam. Bagi yang ingin menontonnya, silahkan klik link berikut: Gadis Jepang Menangis Ketika Masuk Islam di Acara Dr. Zakir Naik. Berikut ini adalah transkrip tanya-jawab antara Shiho Yamamoto dengan Dr. Zakir Naik:


Dr. Zakir: Apakah kau non-Muslim saudari?

Shiho: Ya. Namaku Shiho Yamamoto. Aku bekerja dalam sebuah perusahaan. Aku ingin tahu apakah tujuan Tuhan menciptakan manusia? Apa yang diinginkan-Nya dari kita? Dan aku telah menonton salah satu sesi tanya-jawabmu di YouTube dimana kau menjawab bahwa kita semua memilih menjadi manusia. Tapi sebelumnya, kenapa Tuhan menciptakan kita sebagai manusia?

Dr. Zakir: Itu pertanyaan yang sangat bagus. Saudari ini bertanya apakah tujuan dari penciptaan kita di dunia ini? Manusia adalah salah satu makhluk Tuhan yang terbaik. Kenapa begitu? Ambil contoh misalnya malaikat. Malaikat selalu mematuhi apapun yang Tuhan perintahkan kepada mereka. Mereka tidak punya pilihan kecuali mematuhi 100 persen. Perbedaan antara manusia dengan malaikat adalah kita diberikan kehendak bebas oleh Tuhan. Kau bisa memilih untuk patuh kepada Tuhan atau tidak mematuhi-Nya. Jadi kita adalah makhluk yang memiliki keunikan sendiri, tidak seperti makhluk-makhluk lainnya yang mematuhi Tuhan 100 persen. Dalam hal ini para malaikat telah lulus ujiannya karena mereka selalu mematuhi perintah Tuhan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan juga lulus karena mereka semua adalah Muslim. Quran berfirman,
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (Qs. Al-Isra’[17]: 44)

Ayat Al-Qur’an ini menegaskan bahwa hewan dan tumbuh-tumbuhan adalah Muslim dan mereka bertasbih kepada Allah.

Di sisi lain, manusia punya 2 pilihan. Jika kita mematuhi Tuhan meskipun kita punya kehendak bebas, derajat kita menjadi lebih tinggi daripada para malaikat. Namun jika kita tidak taat, maka kita menjadi seperti setan. Jadi sebelum kita diciptakan, Tuhan telah bertanya, “Siapa yang ingin menjadi manusia?” Quran berkata kitalah yang bodoh karena memilih untuk menjadi manusia.

Misalnya ada seorang guru berkata kepada murid-muridnya, “Kalian tidak perlu ikut ujian, aku akan langsung meluluskanmu dengan nilai 40. Namun bagi mereka yang ingin ikut ujian, bisa mendapat nilai lebih, mungkin bisa dapat nilai 60, 80, 90, atau malah lebih rendah dari 40, yaitu 20 atau 30. Jadi bagi mereka yang tidak ingin ikut ujian, pas saja, dan langsung dapat nilai 40.” Allah dalam Quran berfirman bahwa kitalah yang bodoh karena kita ingin mendapat nilai lebih sehingga berkata, “Oke, aku mau ikut.” Jika kau menguasai mata pelajarannya dengan baik, tentu kau akan berkata “Oh tidak guru. Aku tidak mau 40, aku maunya nilai 90.”

Allah berfirman bahwa sebelum kita terlahir ke dunia ini, kita semua telah dibuat bersaksi di hadapan Allah,

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Qs. Al-A’raaf[7]: 172)

Kemudian ingatan kita dihapuskan sehingga kita tidak ingat telah bersaksi seperti itu. Sama seperti misalnya ketika guru mengajarkanmu, kau bisa melihat buku pelajarannya. Tapi saat ujian, bukunya tidak boleh dibuka kan? Karena kalau kau membuka buku saat ujian, maka dimana ujiannya?

Lalu apakah tujuan kita hidup sekarang? Jawabannya ada di surat Waqiah[51]: 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Jadi tujuan utama hidup kita adalah menyembah Tuhan dengan mematuhi-Nya. Menyembah bukan berarti hanya shalat saja. Shalat adalah salah satu bentuk ibadah. Jika kau mematuhi perintah Tuhan, kau melakukan ibadah. Tuhan berfirman, jangan bunuh manusia yang tak bersalah, jika kau tidak membunuh, disini kau telah beribadah. Tuhan berfirman, “Cintai istrimu”, jika kau mencintai istrimu, kau telah melakukan ibadah. Tuhan berfirman, “Kau harus menghormati orangtuamu”, jika kau menghormati orangtuamu, kau melakukan ibadah. Jadi itulah alasan kita menyembah Tuhan.

Jika kita mengikuti perintah Tuhan, semuanya akan menjadi damai. Semua orang akan mencintai sesama. Hanya dengan cara itulah kedamaian bisa didapatkan di bumi ini. Ada orang yang berkata, “Kenapa kau harus mengeluarkan uang untuk merawat orangtua? Mereka akan menjadi tua. Cukup masukkan ke panti jompo.” Namun ini bukanlah perintah dari Tuhan. Ini adalah ajakan dari setan. Ada lagi yang berkata, “Oh, kenapa kau mau menolong tetanggamu?” Ini karena Quran berfirman dalam surat Maa’uun untuk saling menolong tetangga. Jika kau tidak menolong tetanggamu, kau bukan Muslim yang baik. Rasulullah bersabda, “Dia bukan orang beriman, kecuali tetangganya merasa aman darinya.” Rasulullah juga bersabda, “Jika kau tidur dengan perutmu kenyang sementara tetanggamu tidur dalam keadaan lapar, kau bukan Muslim yang baik.”

Shiho: Ya, aku mengerti. Tapi kenapa Tuhan menjadikan kita manusia?

Dr. Zakir: Aku akan memberimu contoh. Misalnya seorang guru berkata kepada seluruh muridnya, “Jika kau tidak ikut ujian, kau mendapat nilai 40. Jika kau ikut, kau bisa dapat nilai 90, 50, atau malah 20. Jika kau tidak mau ikut ujian, bilang pas saja dan kau akan mendapat nilai 40 dimana ini adalah nilai minimum untuk lulus.” Jadi kitalah yang memilih untuk mengikuti ujiannya. Itulah yang difirmankan Quran. Kitalah yang bodoh. Apa kau paham?

Shiho: Aku paham, aku paham.

Dr. Zakir: Tapi kemudian ingatan kita tentang ini dihilangkan. Di hari kiamat, ingatan kita akan dikembalikan. Jadi saudari, hidup ini adalah ujian untuk akhirat. Allah berfirman,

Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Qs. Al-Mulk[67]: 2)

Di dunia ini Tuhan memberimu anak, dimana anakmu adalah ujian bagimu. Tuhan juga memberimu harta sebagai ujian, untuk menguji apakah kau bersedekah dari sebagian hartamu? Jadi kekayaan, orangtuamu, istrimu, anakmu, semuanya adalah ujian saudari. Jika kau mengikuti perintah Tuhan, kau lulus dan bisa mendapat nilai tinggi, misalnya 80 atau 90. Bisa juga kau dapat nilai 60. Tapi jika nilaimu di bawah 40, maka kau akan masuk neraka. Kau paham?

Shiho: Ya, aku paham. Tapi kenapa ujiannya begini? Kenapa Tuhan menciptakan ujian ini?

Dr. Zakir: Sederhananya, kenapa seorang guru menciptakan ujian bagi murid-muridnya? Untuk memberi mereka sertifikat lulus atau gagal, benar? Apa kau pergi kuliah?

Shiho: Ya.

Dr. Zakir: Ketika kau kuliah, kenapa dosen memberimu ujian? Tentunya untuk menilai performamu. Jika kau belajar dengan baik, kau akan dapat predikat memuaskan, derajat tinggi, dan penghargaan. Benar? Karena hanya dengan ujian, dia bisa memberitahumu apakah kau dapat nilai 80, 90, 70, atau 50. Kau paham?

Shiho: Ya.

Dr. Zakir: Jadi inilah ujiannya saudari, kita sedang menjalaninya. Dan dalam sebuah ujian, apa yang kau lakukan adalah mencoba mengikuti aturan dari buku pelajaranmu. Benar?

Shiho: Benar.

Dr. Zakir: Ketika kau ikut ujian matematika atau ujian sains, kau membaca buku pelajarannya dan mencoba menerapkannya. Begitu juga, buku pelajaran untuk menjalani kehidupan ini hanya ada satu buku yaitu Al-Qur’an. Di kuliah kita belajar dengan begitu banyak buku pelajaran, tapi untuk menjalani hidup ini bukunya hanya satu dan juga sekitar 12.000 hadits. Jadi jika kau membaca buku ini dan menerapkannya, insya Allah kau akan lulus. Benar saudari?

Shiho: Tapi keuntungan apa yang Tuhan dapatkan dari ujian ini?

Dr. Zakir: Aahh, sangat bagus. Pertanyaan yang sangat bagus. Misalnya, aku berkata “Allahuakbar (Allah Maha Besar).” Keuntungan apa yang Tuhan dapatkan? Ketika aku mengucapkan “Allahuakbar (Allah Maha Besar), Dia tidak akan lebih besar lagi, karena Dia sudah Maha Besar. Quran berfirman dalam surat Anfal bahwa Allah bebas dari segala kebutuhan.  Namun kitalah sebagai manusia yang mendapat keuntungan.

Misalnya ibumu mendapat serangan jantung. Dan ada seorang dokter yang sangat terkenal memberi nasihat. Lalu ada juga orang biasa yang kau temui di jalan memberimu nasihat juga untuk ibumu. Nasihat manakah yang akan kau ikuti untuk ibumu? Nasihat dokter atau orang biasa itu?

Shiho: Sang dokter

Dr. Zakir: Tepat sekali. Ini karena dia dokter ahli paling terkenal! Jadi dokter jantung paling terkenal di dunia memberitahumu dan kau mengikutinya. Begitu juga, ketika kita berkata “Allahuakbar (Allah Maha Besar)”, karena sifat manusia kita, ketika ada seseorang yang besar memintamu, kau akan mengikutinya. Jadi ketika kita berkata “Allahuakbar”, Allah tidak mendapat keuntungan apa-apa, melainkan kita yang dapat keuntungan. Inilah psikologi manusia.

Misalnya ketika aku berkata, “Allahuakbar (Allah Maha Besar)”, maka ketika Allah memerintahkanku untuk melaksanakan shalat, aku pun melakukannya. Karena aku tahu Allah Maha Bijaksana, ketika Dia memerintahkan agar kita bersedekah, aku pun bersedekah. Jadi ketika aku memuji Allah, ini bukan untuk keuntungan Allah, melainkan untuk keuntunganku. Dan Allah senang ketika kita mendapat keuntungan karena kita adalah ciptaan-Nya.

Namun bagi Allah, tidak ada keuntungan apapun. Jika semua manusia di dunia ini seandainya mencela Allah (na’udzubillah), tidak ada bedanya bagi-Nya. Bahkan jika mereka semua memuji-Nya, tetap tidak ada bedanya. Tapi karena kau memuji Allah, maka kau akan semakin terdorong untuk mengikuti perintah-Nya. Dan ketika kau mengikuti perintah-Nya, kau akan lulus.

Sama saja seperti contoh guru tadi. Seorang guru bahagia atau tidak ketika melihat muridnya lulus?

Shiho: Dia senang

Dr. Zakir: Benar. Begitu juga Tuhan senang ketika kau memuji-Nya, ini tidak menguntungkan diri-Nya, melainkan akan menguntungkanmu sehingga kau akan mengikuti perintah-Nya.

Shiho: Jadi Tuhan tidak mendapat keuntungan?

Dr. Zakir: Tuhan tidak mendapat keuntungan apa-apa. Ini tidak akan membuat-Nya lebih besar atau lebih bijaksana. Jika kau berkata, “Allah adalah al-Hakim (Maha Bijaksana)”, Dia tidak akan menjadi lebih bijaksana, tapi kau yang akan mendapat keuntungan. Dan ketika kau mendapat keuntungan, Dia senang. Kau paham?

Shiho: Ya.

Dr. Zakir: Jadi secara pribadi, tidak ada keuntungan bagi Allah. Kau paham?

Shiho: Ya.

Dr. Zakir: Jadi sekarang kau percaya Tuhan itu satu?

Shiho: Aku percaya.

Dr. Zakir: Apa kau percaya Nabi Muhammad adalah nabi Tuhan?

Shiho: Ya.

Dr. Zakir: Jadi maukah kau menjadi Muslim dan mengucapkan syahadat?

Shiho: Kurasa aku masih harus belajar lebih banyak.

Dr. Zakir: Bahkan aku juga masih terus belajar. Meskipun aku telah memberikan begitu banyak ceramah, berkelana ke seluruh dunia, namun aku masih terus belajar. Proses belajar itu selalu ada.  Misalnya ketika kau sekolah. Setelah lulus SD, kemudian kau masuk SMP, kemudian SMA, kemudian kuliah. Jadi kau selalu belajar. Bahkan aku juga masih belajar tentang Islam.

Namun jika kau percaya pada dua hal mendasar, bahwa Tuhan itu satu dan Nabi Muhammad adalah utusan Tuhan, jika kau yakin pada dua hal ini, maka hal-hal yang lain belakangan.

Misalnya ketika kau ikut ujian, kau harus mengikuti aturan dasarnya. Setelah kau mengikuti aturan dasarnya, aturan lainnya juga akan kau ikuti perlahan-lahan saudari. Yang paling penting adalah beriman bahwa Tuhan hanya satu dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Dan perlahan-lahan kau juga akan mengikuti ajaran lainnya seperti shalat, sedekah, dan lain-lain.

Dan saudari, mungkin kau bertanya-tanya, “Keuntungan apakah yang Dr. Zakir dapatkan jika aku mengucapkan syahadat?” Keuntungan bagiku adalah Allah akan memberiku pahala, dan Allah juga akan memberimu pahala. Dan juga karena Tuhan telah berfirman dalam surat Al-Ashr[103]: 3 bahwa salah satu syarat untuk masuk surga adalah menyerukan orang-orang menuju kebenaran (berdakwah). Jadi ketika aku mengajakmu ke dalam kebenaran, maka tiketku menuju surga semakin baik. Mungkin aku akan mendapat derajat yang lebih tinggi di surga.  Jadi semakin banyak orang yang kuseru menuju kebenaran, aku semakin mendapatkan ketenangan pikiran, dan derajatku di surga mungkin akan meningkat.

(Sampai disini mata Shiho Yamamoto mulai berkaca-kaca karena menangis bahagia)

Dr. Zakir: Quran berfirman “ketika orang beriman mengetahui kebenaran, air mata akan mengalir dari matanya.” Jadi masya Allah ketika kebenaran datang, orang itu merasa sangat senang. Jadi apakah kau mau mengucapkan bahasa Arabnya saudari?

Shiho: Ya. Tapi jangan rekam wajahku yang sedang menangis ini, karena pasti ini diupload di YouTube.

Dr. Zakir: Tidak apa-apa saudari.

(Kemudian Dr. Zakir Naik menuntun Shiho untuk mengucapkan dua kalimat syahadat)

Dr. Zakir: Masya Allah saudari kau menjadi Muslim. Yang kau teteskan adalah air mata kebahagiaan. Aku berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga Dia memberimu lebih banyak hidayah dan memberimu surga, dan semoga kau menolong orang Jepang lainnya, termasuk anggota keluargamu untuk masuk Islam saudari.

Dan aku meminta kepada saudari-saudari Muslim yang lain apabila dia membutuhkan pertolongan, tolong penuhi kebutuhannya. Jazakallah saudari.

Shiho: Terima kasih.

YouTube Channel Lampu Islam: YouTube.com/c/LampuIslam
Instagram Lampu Islam: Instagram.com/LampuIslam (@lampuislam)
Page Facebook Lampu Islam: Facebook.com/LampuIslam  
Google + Lampu Islam: Plus.google.com/+LampuIslam